Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
CAHAYA DAN METAFORA
By : kontributor
Cahaya sebagai Metafora Kehidupan dan Pemikiran
Cahaya, dalam pandangan mendalam, adalah lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah metafora yang kaya, yang menantang kita untuk melihat dunia dari berbagai perspektif. Apakah kita pernah berpikir bahwa cahaya bisa menjadi jembatan yang menghubungkan yang nyata dengan yang tak nyata? Ia tidak hanya menerangi ruang, tetapi juga mengarahkan pikiran kita untuk menjelajahi kedalaman makna.
Bayangkan jika kita melihat cahaya tidak hanya sebagai sumber penerangan fisik, tetapi sebagai simbol pencerahan batin. Ia bisa menjadi cerminan dari pemahaman yang tiba-tiba muncul setelah lama bergumul dalam kegelapan. Seperti saat kita meraba dalam kegelapan, kemudian seberkas cahaya muncul dan membuka jalan baru, demikian juga dalam hidup, cahaya sering muncul dalam bentuk ide, inspirasi, atau kesadaran yang membawa kita menuju pemahaman yang lebih dalam.
Cahaya bisa diumpamakan sebagai perjalanan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Ia mengajarkan kita bahwa pemahaman tidak datang sekaligus, tetapi melalui proses bertahap, dari kegelapan menuju terang. Dalam setiap aspek kehidupan, cahaya menawarkan kita cara untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda—bukan hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga dari apa yang terasa, yang dipahami secara intuitif.
Marilah kita bersama-sama membuka diri untuk memahami cahaya dari berbagai sisi. Ia tidak harus selalu berbentuk sinar yang memancar, tetapi bisa menjadi representasi dari pemikiran yang terbuka, dari kesadaran yang tumbuh, dan dari kebenaran yang terungkap. Cahaya bisa menjadi simbol dari apa yang kita cari dalam kehidupan: pencerahan, kejelasan, dan pemahaman.
Dalam setiap tindakan dan pemikiran kita, biarkan cahaya menjadi panduan. Anggaplah ia sebagai simbol dari harapan yang terus menerus menyala, yang memberikan kita kekuatan untuk terus maju, meskipun dalam ketidakpastian. Dengan memahami cahaya dari berbagai perspektif, kita dapat menemukan makna yang lebih kaya, yang tidak hanya memperkaya diri kita, tetapi juga membimbing kita menuju kehidupan yang lebih terang dan penuh makna.
PENGOBRAL MURAH AYAT TUHAN
By : kontributorMenggugat Komersialisasi Dakwah: Ketika Agama Tergerus oleh Kepentingan Pribadi dan Perilaku yang Merusak (Paradoks)
oleh : salcenter
Agama, yang sejatinya merupakan pedoman hidup yang membawa kedamaian dan kebaikan, kini semakin tergerus oleh perilaku oknum-oknum agamawan yang menjadikannya panggung untuk kepentingan pribadi. Tak hanya dalam hal komersialisasi dakwah, tetapi juga dalam perilaku yang jauh dari ajaran agama itu sendiri. Beberapa tokoh agama kini tak ragu merendahkan umat dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin spiritual, bahkan menggunakan narasi kasar, hinaan, dan perkataan yang tidak pantas dalam ceramah mereka. Sungguh ironis, ketika seharusnya agama mendatangkan kedamaian, yang terjadi malah kebencian, kebisingan, dan ketidaknyamanan.
Dakwah yang Tergerus: Bisnis dan Gaya Hidup Borjuis
Panggung dakwah yang dulu menjadi sarana untuk memperbaiki moral dan mendekatkan umat pada Tuhan kini sering kali dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi. Laporan dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) pada 2022 menyebutkan bahwa lebih dari 50% lembaga dakwah di Indonesia kini terlibat dalam penggalangan dana yang lebih fokus pada keuntungan material daripada memberi manfaat bagi umat. Dana yang dihimpun sering kali tidak dipergunakan untuk kesejahteraan umat, melainkan untuk memperbesar aset pribadi, seperti membeli mobil mewah, rumah besar, dan bahkan berinvestasi pada bisnis pribadi.
Sebuah studi dari Jurnal Keuangan Islam (2021) juga mencatat bahwa sekitar 60% dana yang terkumpul dari umat digunakan untuk kepentingan pribadi para oknum pengurus dakwah, bukannya untuk proyek sosial atau pemberdayaan masyarakat. Fenomena ini mencerminkan betapa jauhnya dakwah telah melenceng dari tujuannya, di mana yang semula diharapkan untuk membimbing umat kepada kehidupan yang lebih baik, justru kini terperangkap dalam siklus konsumtif dan materialistik.
Perilaku Merendahkan dan Umpatan dalam Dakwah (Amoralitas)
Namun, yang lebih memprihatinkan lagi adalah perilaku oknum-oknum agamawan yang semakin hari semakin memperburuk citra agama dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin spiritual. Alih-alih mengedepankan kesantunan, kedamaian, dan kebijaksanaan, beberapa pengkotbah malah menggunakan ceramah mereka sebagai ajang untuk melampiaskan kemarahan, membuli, atau bahkan menghinakan orang lain.
Tidak jarang kita mendengar ceramah-ceramah yang dipenuhi dengan umpatan, hinaan, dan narasi kasar yang menyudutkan kelompok tertentu. Penggunaan kata-kata yang merendahkan, baik itu terkait dengan fisik, agama lain, atau pandangan berbeda, menjadi hal yang sering terdengar dalam ceramah mereka. Ini jelas bertentangan dengan ajaran agama yang mengedepankan kasih sayang dan menghormati perbedaan. Bahkan dalam sebuah ceramah yang viral baru-baru ini, seorang tokoh agama menggunakan kata-kata kasar dan hinaan untuk menggambarkan kelompok yang tidak sejalan dengan pandangannya. Ini bukan hanya merendahkan kelompok yang dituju, tetapi juga menciptakan ketegangan dan kebencian antar umat. Lain lagi cerita tentang berita yang viral adanya perilaku oknum pendakwah yang merendahkan martabat pedagang ES sungguh sangat miris dan menyayat hati kita.
Lebih parahnya lagi, beberapa tokoh agama yang seharusnya menjadi contoh teladan justru memperagakan perilaku yang tak mencerminkan kewibawaan dan kehormatan seorang agamawan. Gerakan-gerakan yang tak pantas, seperti berteriak keras, berkelakuan kasar, bahkan menggunakan tubuh dengan cara yang agresif, kini sering kita saksikan dalam ceramah-ceramah mereka. Hal ini tentu saja merusak citra agama, karena seorang pemimpin agama seharusnya membawa ketenangan dan kedamaian, bukan ketegangan dan kekacauan.
Gaya Hidup Borjuis dan Pengabaian terhadap Umat
Sementara itu, tak sedikit oknum agamawan yang lebih sibuk memamerkan gaya hidup borjuis mereka di media sosial, memamerkan mobil mewah, rumah besar, dan liburan ke luar negeri. Padahal, ajaran agama mengajarkan kita untuk hidup sederhana dan berbagi dengan sesama, terutama dengan mereka yang kurang mampu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 45% tokoh agama di Indonesia yang memiliki pengikut besar kini terlibat dalam gaya hidup borjuis dan lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada kesejahteraan umat. Hal ini tentu sangat jauh dari teladan Nabi Muhammad SAW, yang hidup dengan penuh kesederhanaan dan selalu peduli terhadap sesama.
Sebuah laporan dari Komnas HAM pada 2022 mencatat bahwa sekitar 42% masyarakat merasa bahwa tokoh agama yang mereka ikuti lebih mementingkan gaya hidup pribadi dan popularitas dibandingkan dengan membantu masyarakat yang membutuhkan. Ini merupakan bentuk pengabaian terhadap mereka yang sedang kesulitan, sementara tokoh agama yang seharusnya menjadi contoh malah lebih sibuk dengan urusan pribadi mereka.
Mengembalikan Dakwah pada Esensinya
Tentu, dakwah harus kembali kepada esensinya. Para tokoh agama perlu mengingatkan diri mereka tentang tujuan dakwah yang sesungguhnya: bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau popularitas, tetapi untuk membawa umat menuju kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih penuh kasih. Dakwah harus mampu menginspirasi umat untuk hidup dalam kedamaian, saling menghormati, dan peduli terhadap sesama, bukan sebaliknya, menyebarkan kebencian, perpecahan, dan ketidakpedulian.
Sebagai umat, kita juga memiliki peran penting untuk menjaga agar dakwah tetap berada pada jalur yang benar. Dalam laporan Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2023, disarankan agar para tokoh agama lebih fokus pada transparansi pengelolaan dana dakwah, serta mengutamakan kegiatan sosial yang benar-benar bermanfaat bagi umat. Bukan hanya itu, mereka juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari: hidup sederhana, rendah hati, dan penuh kasih sayang.
Menjaga Marwah Agama
Dakwah bukanlah sarana untuk meraih keuntungan atau ketenaran pribadi. Dakwah adalah amanah yang harus dijaga dengan integritas dan kesederhanaan. Sudah saatnya kita, sebagai umat, menuntut agar para pemimpin agama kembali kepada ajaran yang sesungguhnya: menghargai perbedaan, mengedepankan kasih sayang, dan hidup dalam kesederhanaan. Dengan begitu, dakwah akan kembali menjadi jalan yang membawa umat kepada kehidupan yang lebih baik, dan agama tidak tergerus oleh perilaku buruk yang merusak citranya.
Kita perlu berani mengingatkan, karena agama adalah milik umat, bukan milik segelintir orang yang mengejar keuntungan pribadi. Jika kita bisa kembali kepada esensi dakwah yang sebenarnya, kita akan melihat bagaimana agama bisa menjadi pemandu hidup yang sejati, bukan hanya sekadar alat untuk kepentingan tertentu.
Referensi:
- Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), "Komersialisasi Dakwah dan Implikasinya terhadap Sosial Keagamaan di Indonesia," Laporan Tahunan 2022.
- Jurnal Keuangan Islam, "Penggunaan Dana Dakwah di Indonesia: Sebuah Analisis Keuangan," 2021.
- Institute for Islamic Studies (IIS), "Dakwah dan Gaya Hidup Agamawan: Antara Kepedulian dan Konsumerisme," 2023.
- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), "Survei Kepedulian Sosial Tokoh Agama terhadap Masyarakat," 2022.
- Majelis Ulama Indonesia (MUI), "Transparansi Dana Dakwah: Menjaga Integritas dan Amanah," 2023.
MONOLOG CAHAYA
By : kontributorCAHAYA Oleh: salcenter
Ca-Haya
Cahaya bukan sekadar sinar yang memancar dalam ruang hampa.
Ia adalah cara kita membaca bayang-bayang,
Mengubah yang tak terlihat menjadi nyata dan rasional.
Bukan sekadar pandangan fana,
Tetapi sebuah perwujudan yang menggugah jiwa,
Menyentuh kehadiran yang tak kasat mata.
Ca-Haya
Membaca hayalan melalui cahaya,
Melihat tidak hanya dengan mata,
Tetapi dengan hati dan pikiran.
Cahaya membimbing kita memahami yang abstrak,
Menjelmakan angan-angan menjadi nyata dalam benak kita.
Ia memecahkan misteri yang tak terungkap,
Menerangi pikiran yang gelap dan hati yang bimbang.
SUNGAI NADI HIDUP TERLUPAKAN
By : kontributorDi tengah gemuruh kehidupan modern yang berkilau, ada satu elemen alami yang sering kali terlupakan, tersembunyi di balik bayang-bayang beton dan kaca. Sungai, sang pembawa arus kehidupan, perlahan merana di tengah hiruk-pikuk peradaban. Padahal, sungai adalah saksi bisu perjalanan manusia, mencerminkan jati diri dan sejarah kita yang kaya. Mengabaikan sungai sama dengan mengabaikan asal muasal kita, tempat di mana identitas sejati terbentuk.
batulayang, 20 Juni 2024
KUASA TAK BERMODAL MORAL
By : kontributorPenjabaran TAK BERMODAL
Oleh : salcenter.id
Di tengah hiruk pikuk jalanan Indonesia, panggung gratis tersedia bagi para politisi untuk menari-nari dengan sorotan publik. Mereka hadir dengan senyum lebar di balik peci hitam, mengekspresikan beragam pose tangan yang serba gaya rekaan padahal itu adalah iklan! Namun, di balik semua pencitraan ini, ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu kita renungkan.
Panggung ini, bukan sekadar tempat untuk berbicara tentang aspirasi dan kebijakan yang seharusnya melayani rakyat. Ini lebih mirip panggung sandiwara, di mana para aktor politik tampil lima tahun sekali untuk "mengabdi" dengan diam diri, tanpa lebih dari sekadar ceramah kosong yang tidak diiringi tindakan nyata.
Mereka, para pemain di panggung ini, seolah-olah meminta empati layaknya pengemis di tengah keramaian. Mereka ingin suara kita, tapi apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Di atas singgasana empuk, mereka dikelilingi oleh todongan kanan dan kiri, bisa terlelap dalam kemewahan sementara rakyat di bawahnya terus berjuang untuk mencari nafkah.
Lihatlah sekeliling, dari tiang listrik hingga pohon-pohon yang menjadi saksi bisu dari panggung politik ini. Mereka juga menjadi mangsa dari para badut politik yang haus akan kekuasaan dan kursi. Pos, mushola, bahkan sekolah-sekolah pun tidak luput dari pengaruh mereka yang hanya melihat setiap tempat sebagai aset untuk mengeruk suara dan mempertahankan kekuasaan dan pajangan poster ajakanpun mereka sebarkan tanpa memiliki empati dan melihat tempat di mana mereka harus promosi.
Kita, sebagai masyarakat, perlu menyadari bahwa panggung ini seharusnya adalah tempat untuk menyuarakan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat peraga dan propaganda. Kita tidak boleh lagi terpedaya oleh pencitraan kosong yang tidak diimbangi dengan tindakan nyata yang berdampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari. Mari bersama-sama mengubah panggung ini menjadi ruang yang sejati untuk perwakilan dan pelayanan masyarakat, panggung disini adalah panggung yang selayaknya memanggung diri melalui selebaran elok di tempat yang tanpa harus merusak.
PARA ANASIR YANG MEMINIMALISIR
By : kontributorMateri yang disiarkan/dibagikan/broadcast secara berulang-ulang, baik berupa potongan video atau tulisan, meskipun kesahihan dari sumber tersebut masih abu-abu atau bahkan tidak jelas, tetap saja menjadi faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Kita mungkin terdidik dari rangkaian ke engganan untuk menelisik lebih dalam tentang suatu keabsahan informasi.
Benar atau salah, itu selalu menjadi dinomer sekiankan. Yang terpenting adalah video/narasi tersebut menarik, membidik, dan menyerang dengan target mengelabui, mendownkan mental pendukung dari yang berlawanan. Ada yang lupa ataukah memang tidak sengaja menutup mata atau memang buta terbutakan oleh fanatisme yang mungkin saja isi didalamnya terbumbui berbagai rasa. Entah itu rasa ideologi, rasa kebersamaan pernah dalam satu naungan yang tidak berdasarkan ideologi, atau memang ada rasa lain bernama kepentingan kelompok dan golongannya.
Menurut saya, hal ini sangat memprihatinkan. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita harus selalu berpikir kritis dan memverifikasi setiap informasi yang kita terima sebelum membagikannya ke orang lain. Kita harus memastikan bahwa informasi yang kita bagikan adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan informasi yang benar dan akurat, tetapi juga dapat menjadi alat yang sangat berbahaya jika digunakan dengan tidak benar. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dan memastikan bahwa kita menggunakan media sosial dengan bijak.
Dalam hal ini, saya ingin menekankan pentingnya literasi media dan kritis dalam masyarakat kita. Kita harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki akses ke informasi yang benar dan akurat, dan bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memverifikasi informasi tersebut. Kita juga harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tinggi dan bahwa mereka terus belajar dan berkembang sepanjang hidup mereka.
Dalam hal ini, saya ingin mengajak semua orang untuk menjadi bagian dari solusi. Mari kita semua berkomitmen untuk memerangi hoaks dan informasi palsu, dan untuk memastikan bahwa kita semua menggunakan media sosial dengan bijak. Mari kita semua menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis, dan mari kita semua bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih toleran.
oleh : portalcisaruainstitute
MEMANGGIL SATU TUJUAN
By : kontributor Menjaga Warisan Suci:
Sebuah Panggilan untuk Persatuan Dalam Satu Singgasana
(Penjabaran Sajak)
LEGENDA LANGIT
oleh : salcenter.id
Dalam perjalanan panjang sejarah, kita sering dihadapkan pada momen-momen krusial yang menentukan arah masa depan kita. Sebuah sajak tentang garuda yang mulai renta (Legenda Langit), banteng kecil, dan garuda-garuda lainnya yang saling berhadapan dalam tantangan dan perselisihan menawarkan refleksi mendalam tentang keadaan bangsa kita saat ini. Garuda, simbol kekuatan dan kebijaksanaan, kini tampak lelah dan renta, di antara banteng yang panik dan banteng-banteng lainya yang kelimpungan . Disisi lain, meski dengan bulu rontok garuda, ia tetap terbang gagah, mengajarkan kita pentingnya ketangguhan dan semangat pantang menyerah walaupun berkali-berkali pernah kalah bertarung ia tetap memiliki rasa optimisme mencapai batas-batas kemenangan dalam perjuangan.
Anak banteng kecil, yang dirawat dengan penuh kasih sayang di antara kumpulan banteng angkuh, melambangkan keinginan dan harapan dan masa depan. Garuda, yang bertepi di batu besar sebagai singgasananya, memiliki pandangan jauh ke depan. Ia sadar bahwa dirinya tak lagi mampu terbang sejauh dulu, dan titahnya kini diteruskan oleh keinginan ada sang penerus walaupun mungkin bisa saja diluar golonganya. Singkat waktu pada prosesnya Garuda juga mengasuh anak banteng, mempersiapkannya untuk terbang tinggi di langit biru. Ini menggambarkan pentingnya membimbing generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dengan semangat yang sama walaupun ada jurang perbedaan.
Namun, dalam proses yang lebih luas, perselisihan tak terelakkan. Pertanyaan tentang siapa yang akan mengurus sangkar dan singgasana muncul, menciptakan ketegangan. Tetapi, meskipun saling diam dan akrab dalam tujuan yang sama, mereka bersatu dalam menghadapi tantangan. Mungkin pikirnya ketika Garuda akhirnya mangkat, meninggalkan banyak pertanyaan dan tanggung jawab besar kepada penerusnya. Banteng kecil yang sempat di asuh dan telah mendampingi kelak apakah mungkin mampu menjadi penerusnya dan mewujudkan apa yang menjadi impian dari garuda.
Banteng dan garuda yang awalnya meskipun bertengkar, sebenarnya berasal dari satu keturunan yang berkuasa. Konflik di antara mereka mencerminkan perbedaan pandangan dan pendekatan, namun di balik semua itu, mereka bersatu dan bersaudara. Ini mengajarkan kita bahwa dalam keberagaman dan perbedaan, selalu ada benang merah yang mengikat kita sebagai satu kesatuan.
Garuda mungkin telah hilang, namun banteng kecil tumbuh dengan jiwa yang kokoh dan garuda kecil dan banteng kecil lainnya yang legowo. Bersama, mereka menjaga warisan yang suci, yakni negeri ini. Dalam persatuan dan kebersamaan, kita menemukan kekuatan untuk menjaga dan melindungi warisan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulunya.
Sebagai bangsa, kita harus belajar dari simbolisme garuda, banteng, dan bahakn ada penggambaran seperti banteng, dan rajawali (mungkin). Meski ada perbedaan dan perselisihan, kita harus tetap bersatu untuk menjaga warisan yang telah diwariskan kepada generasi selanjutnya. Persatuan adalah kunci untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depan. Dengan bersatu, negeri ini akan terjaga, memastikan bahwa nilai-nilai luhur dan suci tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Di tengah tantangan dan perbedaan, mari kita jadikan kisah garuda, banteng, dan pelaku lain dalam lakon sebagai inspirasi untuk terus bersatu dan bekerja sama. Kita semua memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat negeri ini. Bersama, kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik, penuh dengan harapan dan kebanggaan. Mari kita jaga warisan yang suci ini dengan semangat persatuan, kebersamaan diantara perbedaan pada akhirnya akan sama ketika sama-sama duduk dalam satu singgasana kekuasaan jika memang di awal adalah harapan mulia untuk menjayakan bangsa dan mensejahterakan rakyat di bawahnya dan bukan golonganya.
Puncak Bogor | 2 Januari 2024
ASING JADI BISING
By : adminpenulisDisclaimer! Penulis bukan bagian dari pendukung salah satu Bacapres/Capres
OPINI DAN MORALITAS
By : kontributorAda batas waktu; pagi berakhir
siang, siang berakhir sore, sore berakhir malam, dan akhirnya malam pun kembali
berakhir menjadi pagi.
Tak ada generasi yang
menginginkan generasi selanjutnya menjalani kehidupan dengan berbagai hiperbola
yang mengandung umpatan merendahkan, terlebih umpatan tersebut terucap dari
manusia-manusia terpilih yang menjadi pusat perhatian.
Kita adalah manusia Timur, dengan
adat budaya dan agama yang menjunjung tinggi bagaimana menempatkan kesakralan
dalam penghormatan lintas kehidupan. Kita sepakat bahwa azas-azas penghormatan
bukan berarti harus mengkultuskan. Keberadaban adalah ketika kita mampu menjaga
dan menempatkan setiap yang ada pada tempatnya hingga bisa diwariskan kepada
yang selanjutnya.
Ungkapan yang berhiperbola lebih
dari konteks memiliki konsekuensi yang berbeda tergantung siapa yang
menarasikan. Jika yang menarasikan adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki
jangkauan pengaruh, ungkapan tersebut memiliki 'sense' biasa saja. Namun,
narasi yang disampaikan oleh satu manusia dengan pengaruh luar biasa memiliki
implikasi yang juga luar biasa.
Side effect tiru-meniru terjadi
tidak hanya pada ruang privat tapi juga pada kehidupan publik. Hal ini
melunturkan keberadaban, mengikis rasa toleransi atau penghormatan, bahkan
puncaknya bisa saja membiaskan dogma-dogma agama yang mengajarkan tentang etika
kesantunan. Kita tidak ingin melihat kesemrawutan manusia dengan kehidupan
liar.
Sentimentil menjadi biasa,
ungkapan yang tidak lagi mengarah pada kapasitas tapi lebih ke personal dapat
membawa tatanan keadaban kita sebagai manusia menjadi lebih buruk. Bahkan lebih
dari itu, hal ini membunuh kebiasaan rasa batas kita sebagai manusia, merusak
dan merobek-robek nalar hingga bisa berakhir pada puncaknya meniadakan kita
dalam cara berpandangan realita sebagai manusia yang harus mengakui keberagaman
perbedaan.
Kita sadar bahwa kritik harus
pada tempat dan konsepnya. Mengkritisi akan terlihat elegan jika memiliki dasar
yang jelas. Namun sekali lagi, bukan berarti narasi yang membabi buta dengan
kandungan diksi-diksi kebencian yang teramat memilukan bisa berdampak rusaknya
moral kita sebagai manusia diikuti. Kita pun perlu otokritik sebagai pondasi
dasar adanya usaha dan cara bagaimana membenahi diri kita sebelum bernarasi
tentang yang lain.
Menakar kritik adalah respon dari
suatu penilaian yang objektif, bukan subjektif, logis, dan mampu diterima oleh
setiap orang. Respon itu memang layak diberikan terhadap suatu keadaan yang
dianggap bisa melahirkan potensi sebab-akibat pada suatu masalah.
Tidak ada yang aneh bahwa
kebebasan berekspresi harus dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan batas
kita dalam berperilaku dan berperikemanusiaan. Kebebasan merupakan fase dari
rasa bebas dengan memberikan ruang-ruang penghormatan. Pada akhirnya, kebebasan
itu tercipta; kebebasan lahir dari rahim penghormatan yang bersifat ekspresif
dengan segala bentuk ekspresinya.
Kebebasan harus tetap menempatkan
kemuliaan. Kemuliaan di sini adalah penghormatan pada terciptanya rasa bebas.
Jika rasa bebas diperjuangkan tapi tidak melihat konteks batas-batas, maka itu
bukan sebuah kebebasan. Ada tanggung jawab, ada konsekuensi, ada etika. Ketika
keinginan kebebasan yang diagungkan haruslah tanpa memasung hak yang menentang
kebebasan itu sendiri. Tapi itulah realita bahwa keinginan harus menghormati
dari yang tidak menginginkan. Kita adalah entitas manusia yang memiliki peran
berpikir.
Bebas bukan selalu berarti
demokrasi tanpa konsekuensi dan sebuah kebebasan yang benar-benar bebas. Jika
satu pihak memperjuangkan tentang sebuah sistem kehidupan yang
demokratis/bebas, maka pihak ini pun harus menghormati kaidah-kaidah aturan
yang diberikan/dibuat dari yang menentang (pro-demokrasi harus menghormati
anti-demokrasi). Jika sudah saling memahami maka akan timbul saling
penghormatan. Dalam prosesnya, rasa penghormatan yang tercipta ini secara tidak
langsung akan menciptakan sebuah proses dan tatanan lain yang artinya ada
batas-batas tertentu tanpa harus menimbulkan pergeseran atau friksi yang justru
bersifat paradoks.
Kembali pada konteks tentang
sikap ekspresi, opini, atau pendapat, maka titik temu dari perjalanan narasi
ini adalah bahwa kebebasan beretorika harus siap dengan suatu konsekuensi.
Konsekuensi itu harus diterima dan menghormati kebebasan dalam persoalan adanya
pertentangan lain. Satu dengan kebebasan, satu lagi dengan alibi kebebasan untuk
tetap memelihara aturan dan batasan.
PERSPEKTIF BAHAGIA
By : kontributorBahagia itu tidak ada. Kalimat atau ungkapan bahagia datang dari kekurangan manusia yang tidak pernah menemukan keselarasan hidup. Orang kota berkata bahagia menjadi orang kampung, sebaliknya orang kampung akan berkata bahagianya menjadi orang kota.
Bahagia itu tidak ada.
"Ia" ada karena dicari dan dicari-cari pembenarannya, ada dari sebuah
ketiadaan atau kekosongan hidup. Sekaya apa pun dan semiskin apa pun, kalimat
"bahagia" akan selalu terucap di antara manusia.
Penulis tidak akan mencatut
rujukan berbagai sumber ahli untuk mengurai apa makna bahagia dalam berbagai
perspektif. Ini murni dasar dari sebuah pikiran pribadi untuk menyampaikan apa
itu bahagia. Tulisan sengaja dibuat untuk mencapai kemurnian pikiran, sedalam
apa penulis menggambarkan tentang bahagia. Walaupun ditulis pendek dan dengan
bahasa sederhana, kesimpulan penggambaran ini untuk menangkap daya berpikir
penulis saat menuliskan ini, sejauh mana pikiran-pikiran ini mampu
mempersepsikan apa itu bahagia dan makna bahagia, sejauh mana pikiran apa
adanya ini mampu menjangkaunya.
Dalam persoalan kemampuan, yang
pintar akan semakin merasa tidak bahagia karena banyak yang diketahuinya, dan
pada akhirnya dia akan berpikir untuk tidak tahu. Sementara yang awam pun
demikian, mereka berpikir menjadi pintar karena dalam mindset-nya beranggapan
lebih banyak tahu akan semakin mempermudah dan membawa kebahagiaan.
Titik temu adanya
"bahagia" adalah tahu tentang munculnya "bahagia" itu
sendiri, dari mana datangnya pikiran-pikiran tersebut. Kenapa kalimat itu harus
tertulis dalam bingkai jurnal harian dan bingkai maya seperti dalam
status-status online? Tulisan dibuat sebagai sesi jeda waktu penulis ketika
hari ini menjumpai ada yang beranggapan tentang kalimat dan ungkapan
kebahagiaan. Penulis lanjutkan dengan mencari kenapa harus muncul dalam benak
kita, apa dan kenapa harus ada bahagia?
Penulis berpendapat, manusia
tidak akan pernah menemukan tempat dan waktu yang pas untuk mengukur atau
menakar suatu kebahagiaan karena sudah fitrahnya untuk berasumsi dan
berpandangan tentang kebahagiaan dalam berbagai kondisi. Maka yang tepat untuk
menggeneralisir adalah kita selalu tidak bahagia. Kenapa? Karena dengan
mengatakan demikian, sama artinya kita dalam posisi bahagia atau sedang. Apakah
tulisan ini diketik dalam posisi sedang bahagia atau tidak, silakan pembaca
mengira-ngira.
penulis (18/7/2021)
IDEALIS VERSUS ?
By : kontributorTanpa melabelkan diri sebagai bagian dari para oportunis, namun disini penulis dapat menggambadkan bahwa para pelakunya memiliki kebiasaan dasar kepentingan jangka pendek, orang oportunis seperti selalu dalam posisi labilitas (perubsahan posisi dan selera berdasar kepentingan tertentu) karena dalam lingkaran komunikasinya naik turun. Hari ini mereka bersama maka esok mereka bisa menjadi musuh, siklusnya akan seperti itu berputar-putar, akur dan berkawan kemudian pada akhirnya bermusuhan dan berkawan kembali dan begitulah seterusnya.
Orang dengan watak idelis memiliki sisi konsiten sekalipun konsekuensinya dalam pergaulaan memiliki batasan ini sejalan dengan dasar pemikirannya, jika 2 manusia dengan 2 watak bertemu tentulah akan memiliki cara pandang berbeda, jika 1 watak saja mampu melahirkan perdebatan sengit, maka, bukan tidak mungkin jika 2 watak berbeda akan lebih sengit jika dipertemukan dalam dialog dan perdebatan panaspin akan terjadi.
Mereka yang idealis dalam lingkup oportunis akan di kebiri/dijegal dalam hal apapun tanpa ada pengecualian, penjegalan berekspresi, bergerak dan bersosial pada tatanan lingkungan yang dikuasai oleh mereka yang nota bene memiliki kesamaan sifat dan sikap pada kepentingan tertentu. Para oportunis memiliki nilai jual vokal dan suara begitupun dalam hal bersikap kritis pada suatu konteks permasalahan, nilainya tergantung pada apa yang mereka terima ketika amplop sudah di tangan.
Namun berbeda jika pada mereka yang bersikap idealis terlebih bersikap kritis, tidak ada yang mampu menakar dan mengkalkulasi berapa nilai rupiah untuk membelinya, tiada harga yang menjadi parameternya. Kalaupun ada, maka parameternya adalah penerimaan pada sikap idealisnya yang mampu diterima dilingkungannya, tidak ada nilai value bagi mereka yang konsisten memiliki sikap idalis, sang idealis tidak mudah untuk didiamkan, namun tidak mudah pula untuk mengkondisikan, orang-orang seperti ini memiliki kencendrungan diam pada persoalan ketika sebuah sikap dan aspirasinya diakomodir dan diterima.
Idealis telah digambarkan dengan kelebihan yang dimilikinya, namun persoalannya kadang orang dengan mental idealis tertinggal dalam berbagai aspek, ada realitas yang selalu diabaikan, kekonsistenan terkadang pula meninggalkan jejak-jejak ketertinggalan. Idealis selalu kontraproduktif dengan realita yang ada, namun bukan berarti pula realistis memiliki satu persepsi dengan oportunis, tidak semua realistis bermental oportunis.
penulis 18/7/2020
WESTERNISASI LEBAY
By : kontributorDIKTATORIAN
By : kontributorPemimpin Diktatorian
dan Kemunafikan Terselubung dalam Perspektif Masa Kini
Oleh : salcenter.id
BENDERA 1/2 TIANG
By : kontributorRETORIKA KAMPANYE
By : kontributorJunjung Independensi Kritik dan berusaha Objektif walaupun kita ada di kubu A, B atau C. Semoga kita bisa lebih bijak, dan mengukur segala sesuatunya dari segala kebenaran bukan kesesatan dalam beropini.








.jpeg)






