SERING DIBACA

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

CAHAYA DAN METAFORA

By : kontributor

 


Cahaya sebagai Metafora Kehidupan dan Pemikiran

Cahaya, dalam pandangan mendalam, adalah lebih dari sekadar fenomena alam. Ia adalah metafora yang kaya, yang menantang kita untuk melihat dunia dari berbagai perspektif. Apakah kita pernah berpikir bahwa cahaya bisa menjadi jembatan yang menghubungkan yang nyata dengan yang tak nyata? Ia tidak hanya menerangi ruang, tetapi juga mengarahkan pikiran kita untuk menjelajahi kedalaman makna.


Bayangkan jika kita melihat cahaya tidak hanya sebagai sumber penerangan fisik, tetapi sebagai simbol pencerahan batin. Ia bisa menjadi cerminan dari pemahaman yang tiba-tiba muncul setelah lama bergumul dalam kegelapan. Seperti saat kita meraba dalam kegelapan, kemudian seberkas cahaya muncul dan membuka jalan baru, demikian juga dalam hidup, cahaya sering muncul dalam bentuk ide, inspirasi, atau kesadaran yang membawa kita menuju pemahaman yang lebih dalam.


Cahaya bisa diumpamakan sebagai perjalanan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Ia mengajarkan kita bahwa pemahaman tidak datang sekaligus, tetapi melalui proses bertahap, dari kegelapan menuju terang. Dalam setiap aspek kehidupan, cahaya menawarkan kita cara untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda—bukan hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga dari apa yang terasa, yang dipahami secara intuitif.


Marilah kita bersama-sama membuka diri untuk memahami cahaya dari berbagai sisi. Ia tidak harus selalu berbentuk sinar yang memancar, tetapi bisa menjadi representasi dari pemikiran yang terbuka, dari kesadaran yang tumbuh, dan dari kebenaran yang terungkap. Cahaya bisa menjadi simbol dari apa yang kita cari dalam kehidupan: pencerahan, kejelasan, dan pemahaman.


Dalam setiap tindakan dan pemikiran kita, biarkan cahaya menjadi panduan. Anggaplah ia sebagai simbol dari harapan yang terus menerus menyala, yang memberikan kita kekuatan untuk terus maju, meskipun dalam ketidakpastian. Dengan memahami cahaya dari berbagai perspektif, kita dapat menemukan makna yang lebih kaya, yang tidak hanya memperkaya diri kita, tetapi juga membimbing kita menuju kehidupan yang lebih terang dan penuh makna.

Tag : ,

PENGOBRAL MURAH AYAT TUHAN

By : kontributor



Menggugat Komersialisasi Dakwah: Ketika Agama Tergerus oleh Kepentingan Pribadi dan Perilaku yang Merusak (Paradoks)
oleh : salcenter

Agama, yang sejatinya merupakan pedoman hidup yang membawa kedamaian dan kebaikan, kini semakin tergerus oleh perilaku oknum-oknum agamawan yang menjadikannya panggung untuk kepentingan pribadi. Tak hanya dalam hal komersialisasi dakwah, tetapi juga dalam perilaku yang jauh dari ajaran agama itu sendiri. Beberapa tokoh agama kini tak ragu merendahkan umat dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin spiritual, bahkan menggunakan narasi kasar, hinaan, dan perkataan yang tidak pantas dalam ceramah mereka. Sungguh ironis, ketika seharusnya agama mendatangkan kedamaian, yang terjadi malah kebencian, kebisingan, dan ketidaknyamanan.

Dakwah yang Tergerus: Bisnis dan Gaya Hidup Borjuis 

Panggung dakwah yang dulu menjadi sarana untuk memperbaiki moral dan mendekatkan umat pada Tuhan kini sering kali dimanfaatkan untuk meraup keuntungan pribadi. Laporan dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) pada 2022 menyebutkan bahwa lebih dari 50% lembaga dakwah di Indonesia kini terlibat dalam penggalangan dana yang lebih fokus pada keuntungan material daripada memberi manfaat bagi umat. Dana yang dihimpun sering kali tidak dipergunakan untuk kesejahteraan umat, melainkan untuk memperbesar aset pribadi, seperti membeli mobil mewah, rumah besar, dan bahkan berinvestasi pada bisnis pribadi.

Sebuah studi dari Jurnal Keuangan Islam (2021) juga mencatat bahwa sekitar 60% dana yang terkumpul dari umat digunakan untuk kepentingan pribadi para oknum pengurus dakwah, bukannya untuk proyek sosial atau pemberdayaan masyarakat. Fenomena ini mencerminkan betapa jauhnya dakwah telah melenceng dari tujuannya, di mana yang semula diharapkan untuk membimbing umat kepada kehidupan yang lebih baik, justru kini terperangkap dalam siklus konsumtif dan materialistik.

Perilaku Merendahkan dan Umpatan dalam Dakwah (Amoralitas)

Namun, yang lebih memprihatinkan lagi adalah perilaku oknum-oknum agamawan yang semakin hari semakin memperburuk citra agama dengan cara-cara yang tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin spiritual. Alih-alih mengedepankan kesantunan, kedamaian, dan kebijaksanaan, beberapa pengkotbah malah menggunakan ceramah mereka sebagai ajang untuk melampiaskan kemarahan, membuli, atau bahkan menghinakan orang lain.

Tidak jarang kita mendengar ceramah-ceramah yang dipenuhi dengan umpatan, hinaan, dan narasi kasar yang menyudutkan kelompok tertentu. Penggunaan kata-kata yang merendahkan, baik itu terkait dengan fisik, agama lain, atau pandangan berbeda, menjadi hal yang sering terdengar dalam ceramah mereka. Ini jelas bertentangan dengan ajaran agama yang mengedepankan kasih sayang dan menghormati perbedaan. Bahkan dalam sebuah ceramah yang viral baru-baru ini, seorang tokoh agama menggunakan kata-kata kasar dan hinaan untuk menggambarkan kelompok yang tidak sejalan dengan pandangannya. Ini bukan hanya merendahkan kelompok yang dituju, tetapi juga menciptakan ketegangan dan kebencian antar umat. Lain lagi cerita tentang berita yang viral adanya perilaku oknum pendakwah yang merendahkan martabat pedagang ES sungguh sangat miris dan menyayat hati kita. 

Lebih parahnya lagi, beberapa tokoh agama yang seharusnya menjadi contoh teladan justru memperagakan perilaku yang tak mencerminkan kewibawaan dan kehormatan seorang agamawan. Gerakan-gerakan yang tak pantas, seperti berteriak keras, berkelakuan kasar, bahkan menggunakan tubuh dengan cara yang agresif, kini sering kita saksikan dalam ceramah-ceramah mereka. Hal ini tentu saja merusak citra agama, karena seorang pemimpin agama seharusnya membawa ketenangan dan kedamaian, bukan ketegangan dan kekacauan.

Gaya Hidup Borjuis dan Pengabaian terhadap Umat

Sementara itu, tak sedikit oknum agamawan yang lebih sibuk memamerkan gaya hidup borjuis mereka di media sosial, memamerkan mobil mewah, rumah besar, dan liburan ke luar negeri. Padahal, ajaran agama mengajarkan kita untuk hidup sederhana dan berbagi dengan sesama, terutama dengan mereka yang kurang mampu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 45% tokoh agama di Indonesia yang memiliki pengikut besar kini terlibat dalam gaya hidup borjuis dan lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada kesejahteraan umat. Hal ini tentu sangat jauh dari teladan Nabi Muhammad SAW, yang hidup dengan penuh kesederhanaan dan selalu peduli terhadap sesama.

Sebuah laporan dari Komnas HAM pada 2022 mencatat bahwa sekitar 42% masyarakat merasa bahwa tokoh agama yang mereka ikuti lebih mementingkan gaya hidup pribadi dan popularitas dibandingkan dengan membantu masyarakat yang membutuhkan. Ini merupakan bentuk pengabaian terhadap mereka yang sedang kesulitan, sementara tokoh agama yang seharusnya menjadi contoh malah lebih sibuk dengan urusan pribadi mereka.

Mengembalikan Dakwah pada Esensinya 

Tentu, dakwah harus kembali kepada esensinya. Para tokoh agama perlu mengingatkan diri mereka tentang tujuan dakwah yang sesungguhnya: bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau popularitas, tetapi untuk membawa umat menuju kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih penuh kasih. Dakwah harus mampu menginspirasi umat untuk hidup dalam kedamaian, saling menghormati, dan peduli terhadap sesama, bukan sebaliknya, menyebarkan kebencian, perpecahan, dan ketidakpedulian.

Sebagai umat, kita juga memiliki peran penting untuk menjaga agar dakwah tetap berada pada jalur yang benar. Dalam laporan Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2023, disarankan agar para tokoh agama lebih fokus pada transparansi pengelolaan dana dakwah, serta mengutamakan kegiatan sosial yang benar-benar bermanfaat bagi umat. Bukan hanya itu, mereka juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari: hidup sederhana, rendah hati, dan penuh kasih sayang.

Menjaga Marwah Agama

Dakwah bukanlah sarana untuk meraih keuntungan atau ketenaran pribadi. Dakwah adalah amanah yang harus dijaga dengan integritas dan kesederhanaan. Sudah saatnya kita, sebagai umat, menuntut agar para pemimpin agama kembali kepada ajaran yang sesungguhnya: menghargai perbedaan, mengedepankan kasih sayang, dan hidup dalam kesederhanaan. Dengan begitu, dakwah akan kembali menjadi jalan yang membawa umat kepada kehidupan yang lebih baik, dan agama tidak tergerus oleh perilaku buruk yang merusak citranya.

Kita perlu berani mengingatkan, karena agama adalah milik umat, bukan milik segelintir orang yang mengejar keuntungan pribadi. Jika kita bisa kembali kepada esensi dakwah yang sebenarnya, kita akan melihat bagaimana agama bisa menjadi pemandu hidup yang sejati, bukan hanya sekadar alat untuk kepentingan tertentu.


Referensi:

  1. Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD), "Komersialisasi Dakwah dan Implikasinya terhadap Sosial Keagamaan di Indonesia," Laporan Tahunan 2022.
  2. Jurnal Keuangan Islam, "Penggunaan Dana Dakwah di Indonesia: Sebuah Analisis Keuangan," 2021.
  3. Institute for Islamic Studies (IIS), "Dakwah dan Gaya Hidup Agamawan: Antara Kepedulian dan Konsumerisme," 2023.
  4. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), "Survei Kepedulian Sosial Tokoh Agama terhadap Masyarakat," 2022.
  5. Majelis Ulama Indonesia (MUI), "Transparansi Dana Dakwah: Menjaga Integritas dan Amanah," 2023.
Tag : ,

MONOLOG CAHAYA

By : kontributor



CAHAYA 
Oleh: salcenter


Ca-Haya 

Cahaya bukan sekadar sinar yang memancar dalam ruang hampa.  

Ia adalah cara kita membaca bayang-bayang,  

Mengubah yang tak terlihat menjadi nyata dan rasional.  

Bukan sekadar pandangan fana,  

Tetapi sebuah perwujudan yang menggugah jiwa,  

Menyentuh kehadiran yang tak kasat mata.


Ca-Haya

Membaca hayalan melalui cahaya,  

Melihat tidak hanya dengan mata,  

Tetapi dengan hati dan pikiran.  

Cahaya membimbing kita memahami yang abstrak,  

Menjelmakan angan-angan menjadi nyata dalam benak kita.  

Ia memecahkan misteri yang tak terungkap,  

Menerangi pikiran yang gelap dan hati yang bimbang.




SUNGAI NADI HIDUP TERLUPAKAN

By : kontributor


Di tengah gemuruh kehidupan modern yang berkilau, ada satu elemen alami yang sering kali terlupakan, tersembunyi di balik bayang-bayang beton dan kaca. Sungai, sang pembawa arus kehidupan, perlahan merana di tengah hiruk-pikuk peradaban. Padahal, sungai adalah saksi bisu perjalanan manusia, mencerminkan jati diri dan sejarah kita yang kaya. Mengabaikan sungai sama dengan mengabaikan asal muasal kita, tempat di mana identitas sejati terbentuk.
 
Sungai bukan sekadar aliran air; ia adalah urat nadi bumi yang menghidupkan segala yang disentuhnya. Bayangkan, ribuan tetes air yang mengalir bersama, seperti barisan pahlawan tak terlihat, membawa pesan kehidupan dari hulu ke hilir. Setiap lekuk dan belokan sungai menyimpan cerita, legenda, dan warisan budaya yang tak ternilai. Di tepiannya, nenek moyang kita dahulu kala bercocok tanam, membangun peradaban, dan menemukan jati diri mereka. Sungai adalah buku sejarah alami yang terbuka lebar, menunggu untuk dibaca dan dihargai, dan manusia di wariskan hanya cukup dengan menjaga dan merawatnya, karena seyogyanya sungai hiasan alam yang Tuhan suguhkan didunia ini dalam pangkuan ketakjuban kita.
 
Namun, kini sungai-sungai kita seolah menangis dalam sunyi, tertutup limbah dan sampah yang kita buang tanpa rasa. Airnya yang dulu jernih dan menyejukkan, kini berubah keruh dan penuh racun, seperti cermin yang retak, mengaburkan refleksi identitas kita. Kita lupa bahwa merawat sungai berarti merawat diri kita sendiri. Setiap sampah yang kita buang ke sungai adalah noda pada jati diri kita, setiap polusi adalah luka yang kita goreskan pada warisan nenek moyang. Kita kadang bersikap dzalim pada apa yang sudah ada, menjadi perusak, bahkan tak sedikit diantaranya meratakan sungai hanya demi menyambung kehidupan untuk beranak pinak, mengganti keberadaan sungai dengan tumpukan tanah yang beralih fungsi menjadi tempat kita membaringkan tubuh. Acap kali kita bersikap sentimentil pada keberadaan sungai dengan sikap acuh dan kebengisan kita, menjadikan sungai seakan pesaing kehidupan.
 
Merawat sungai adalah tindakan mulia yang melampaui batasan fisik. Ini adalah panggilan jiwa, seruan untuk kembali pada akar dan menghormati sumber kehidupan kita. Membersihkan sungai dari sampah dan limbah adalah bentuk penghormatan kepada alam dan sejarah kita. Mengembalikan kejernihan airnya adalah usaha untuk memulihkan kejernihan hati dan pikiran kita. Dalam setiap tetes air yang kembali bersih, ada refleksi dari niat baik dan kesadaran akan pentingnya identitas sejati kita.
 
Mari kita bergandengan tangan, seperti aliran sungai yang tak terputus, untuk merawat dan menjaga sungai-sungai kita. Biarkan air yang mengalir membawa pesan cinta dan kepedulian kita kepada generasi mendatang. Sebab, sungai bukan hanya mengalirkan air, tetapi juga harapan, kehidupan, dan jati diri kita yang abadi. Dengan merawat sungai, kita mengingat dan merayakan siapa diri kita sebenarnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari alam dan sejarah yang agung.

batulayang, 20 Juni 2024

Tag : ,

KUASA TAK BERMODAL MORAL

By : kontributor


 Panggung Pencitraan Politik di Indonesia
Penjabaran
TAK BERMODAL
Oleh : salcenter.id


Di tengah hiruk pikuk jalanan Indonesia, panggung gratis tersedia bagi para politisi untuk menari-nari dengan sorotan publik. Mereka hadir dengan senyum lebar di balik peci hitam, mengekspresikan beragam pose tangan yang serba gaya rekaan padahal itu adalah iklan! Namun, di balik semua pencitraan ini, ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu kita renungkan.


Panggung ini, bukan sekadar tempat untuk berbicara tentang aspirasi dan kebijakan yang seharusnya melayani rakyat. Ini lebih mirip panggung sandiwara, di mana para aktor politik tampil lima tahun sekali untuk "mengabdi" dengan diam diri, tanpa lebih dari sekadar ceramah kosong yang tidak diiringi tindakan nyata.


Mereka, para pemain di panggung ini, seolah-olah meminta empati layaknya pengemis di tengah keramaian. Mereka ingin suara kita, tapi apa yang sebenarnya mereka perjuangkan? Di atas singgasana empuk, mereka dikelilingi oleh todongan kanan dan kiri, bisa terlelap dalam kemewahan sementara rakyat di bawahnya terus berjuang untuk mencari nafkah.


Lihatlah sekeliling, dari tiang listrik hingga pohon-pohon yang menjadi saksi bisu dari panggung politik ini. Mereka juga menjadi mangsa dari para badut politik yang haus akan kekuasaan dan kursi. Pos, mushola, bahkan sekolah-sekolah pun tidak luput dari pengaruh mereka yang hanya melihat setiap tempat sebagai aset untuk mengeruk suara dan mempertahankan kekuasaan dan pajangan poster ajakanpun mereka sebarkan tanpa memiliki empati dan melihat tempat di mana mereka harus promosi. 


Kita, sebagai masyarakat, perlu menyadari bahwa panggung ini seharusnya adalah tempat untuk menyuarakan kepentingan rakyat, bukan sekadar alat peraga dan propaganda. Kita tidak boleh lagi terpedaya oleh pencitraan kosong yang tidak diimbangi dengan tindakan nyata yang berdampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari. Mari bersama-sama mengubah panggung ini menjadi ruang yang sejati untuk perwakilan dan pelayanan masyarakat, panggung disini adalah panggung yang selayaknya memanggung diri melalui selebaran elok di tempat yang tanpa harus merusak.

Tag : ,

PARA ANASIR YANG MEMINIMALISIR

By : kontributor


Perkembangan politik nasional yang semakin memanas telah memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan sosial masyarakat, termasuk di Bogor Selatan. Perdebatan mengenai pilpres yang terjadi di berbagai grup media sosial menjadi notifikasi utama di layar ponsel. Namun, sayangnya, tidak semua perdebatan tersebut berangkat dari data yang otentik dan valid dari sumber yang terpercaya. Sebaliknya, banyak perdebatan yang berangkat dari sisi psikologis dan emosional seseorang yang kemudian diekspresikan dengan beragam bahasa dan intonasi nada berbeda.


Materi yang disiarkan/dibagikan/broadcast secara berulang-ulang, baik berupa potongan video atau tulisan, meskipun kesahihan dari sumber tersebut masih abu-abu atau bahkan tidak jelas, tetap saja menjadi faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Kita mungkin terdidik dari rangkaian ke engganan untuk menelisik lebih dalam tentang suatu keabsahan informasi.


Benar atau salah, itu selalu menjadi dinomer sekiankan. Yang terpenting adalah video/narasi tersebut menarik, membidik, dan menyerang dengan target mengelabui, mendownkan mental pendukung dari yang berlawanan. Ada yang lupa ataukah memang tidak sengaja menutup mata atau memang buta terbutakan oleh fanatisme yang mungkin saja isi didalamnya terbumbui berbagai rasa. Entah itu rasa ideologi, rasa kebersamaan pernah dalam satu naungan yang tidak berdasarkan ideologi, atau memang ada rasa lain bernama kepentingan kelompok dan golongannya.


Menurut saya, hal ini sangat memprihatinkan. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita harus selalu berpikir kritis dan memverifikasi setiap informasi yang kita terima sebelum membagikannya ke orang lain. Kita harus memastikan bahwa informasi yang kita bagikan adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan informasi yang benar dan akurat, tetapi juga dapat menjadi alat yang sangat berbahaya jika digunakan dengan tidak benar. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dan memastikan bahwa kita menggunakan media sosial dengan bijak.


Dalam hal ini, saya ingin menekankan pentingnya literasi media dan kritis dalam masyarakat kita. Kita harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki akses ke informasi yang benar dan akurat, dan bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memverifikasi informasi tersebut. Kita juga harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tinggi dan bahwa mereka terus belajar dan berkembang sepanjang hidup mereka.


Dalam hal ini, saya ingin mengajak semua orang untuk menjadi bagian dari solusi. Mari kita semua berkomitmen untuk memerangi hoaks dan informasi palsu, dan untuk memastikan bahwa kita semua menggunakan media sosial dengan bijak. Mari kita semua menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis, dan mari kita semua bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih toleran.


oleh : portalcisaruainstitute


Tag : ,

MEMANGGIL SATU TUJUAN

By : kontributor

 Menjaga Warisan Suci: 
Sebuah Panggilan untuk Persatuan Dalam Satu Singgasana
(Penjabaran Sajak)
LEGENDA LANGIT 
oleh : salcenter.id


Dalam perjalanan panjang sejarah, kita sering dihadapkan pada momen-momen krusial yang menentukan arah masa depan kita. Sebuah sajak tentang garuda yang mulai renta (Legenda Langit), banteng kecil, dan garuda-garuda lainnya yang saling berhadapan dalam tantangan dan perselisihan menawarkan refleksi mendalam tentang keadaan bangsa kita saat ini. Garuda, simbol kekuatan dan kebijaksanaan, kini tampak lelah dan renta, di antara banteng yang panik dan banteng-banteng lainya yang kelimpungan . Disisi lain, meski dengan bulu rontok garuda, ia tetap terbang gagah, mengajarkan kita pentingnya ketangguhan dan semangat pantang menyerah walaupun berkali-berkali pernah kalah bertarung ia tetap memiliki rasa optimisme mencapai batas-batas kemenangan dalam perjuangan.


Anak banteng kecil, yang dirawat dengan penuh kasih sayang di antara kumpulan banteng angkuh, melambangkan keinginan dan harapan dan masa depan. Garuda, yang bertepi di batu besar sebagai singgasananya, memiliki pandangan jauh ke depan. Ia sadar bahwa dirinya tak lagi mampu terbang sejauh dulu, dan titahnya kini diteruskan oleh keinginan ada sang penerus walaupun mungkin bisa saja diluar golonganya. Singkat waktu pada prosesnya Garuda juga mengasuh anak banteng, mempersiapkannya untuk terbang tinggi di langit biru. Ini menggambarkan pentingnya membimbing generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dengan semangat yang sama walaupun ada jurang perbedaan.


Namun, dalam proses yang lebih luas, perselisihan tak terelakkan. Pertanyaan tentang siapa yang akan mengurus sangkar dan singgasana muncul, menciptakan ketegangan. Tetapi, meskipun saling diam dan akrab dalam tujuan yang sama, mereka bersatu dalam menghadapi tantangan. Mungkin pikirnya ketika Garuda akhirnya mangkat, meninggalkan banyak pertanyaan dan tanggung jawab besar kepada penerusnya. Banteng kecil yang sempat di asuh dan telah mendampingi kelak apakah mungkin mampu menjadi penerusnya dan mewujudkan apa yang menjadi impian dari garuda. 


Banteng dan garuda yang awalnya meskipun bertengkar, sebenarnya berasal dari satu keturunan yang berkuasa. Konflik di antara mereka mencerminkan perbedaan pandangan dan pendekatan, namun di balik semua itu, mereka bersatu dan bersaudara. Ini mengajarkan kita bahwa dalam keberagaman dan perbedaan, selalu ada benang merah yang mengikat kita sebagai satu kesatuan.


Garuda mungkin telah hilang, namun banteng kecil tumbuh dengan jiwa yang kokoh dan garuda kecil dan banteng kecil lainnya yang legowo. Bersama, mereka menjaga warisan yang suci, yakni negeri ini. Dalam persatuan dan kebersamaan, kita menemukan kekuatan untuk menjaga dan melindungi warisan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulunya.


Sebagai bangsa, kita harus belajar dari simbolisme garuda, banteng, dan bahakn ada penggambaran seperti banteng, dan rajawali (mungkin). Meski ada perbedaan dan perselisihan, kita harus tetap bersatu untuk menjaga warisan yang telah diwariskan kepada generasi selanjutnya. Persatuan adalah kunci untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depan. Dengan bersatu, negeri ini akan terjaga, memastikan bahwa nilai-nilai luhur dan suci tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Di tengah tantangan dan perbedaan, mari kita jadikan kisah garuda, banteng, dan pelaku lain dalam lakon sebagai inspirasi untuk terus bersatu dan bekerja sama. Kita semua memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat negeri ini. Bersama, kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik, penuh dengan harapan dan kebanggaan. Mari kita jaga warisan yang suci ini dengan semangat persatuan, kebersamaan diantara perbedaan pada akhirnya akan sama ketika sama-sama duduk dalam satu singgasana kekuasaan jika memang di awal adalah harapan mulia untuk menjayakan bangsa dan mensejahterakan rakyat di bawahnya dan bukan golonganya.


Puncak Bogor  | 2 Januari 2024


Tag : ,

ASING JADI BISING

By : adminpenulis


Disclaimer! Penulis bukan bagian dari pendukung salah satu Bacapres/Capres

Keterasingan bisa jadi kebisingan, manakala “ketidak dianggapan” terus diproduksi atau diviralkan hingga dianggap jadi biasa. Saat ini, sepertinya dan memang kenyataannya, proses itu tengah berjalan. TV/kanal-kanal YouTube, baik yang pribadi maupun yang berafiliasi dengan organisasi, komunitas, atau lembaga, sibuk dan terjebak atau menjebak kita untuk ikut mendiskusikan tentang politik dua calon tunggal peserta Pilpres 2024. Perpolitikan kita seakan-akan Indonesia sedang mempersiapkan hanya ada dua pasang bakal capres.

Saat ini, sepertinya dan memang kenyataannya pula, proses itu tengah berjalan. Televisi dan kanal-kanal YouTube, baik yang pribadi maupun yang berafiliasi dengan organisasi, komunitas, atau lembaga tertentu, sibuk dan terjebak atau menjebak kita untuk ikut mendiskusikan tentang politik dua calon tunggal peserta Pemilihan Presiden 2024. Perpolitikan kita seakan-akan Indonesia sedang mempersiapkan hanya ada dua pasang bakal calon presiden dan wakil presiden.

Dalam beberapa talk show tayangan debat di stasiun televisi, berjudul dengan narasi yang menyebutkan dari tiga bakal pasang menjadi dua bakal pasang, Prabowo-Ganjar atau sebaliknya, dalam konteks tema pilpres lain pun terus diproduksi dengan berputar-putar di dua nama itu-itu saja.

Sementara itu, kita saksikan, ada lebih dari satu stasiun televisi yang memuat dengan judul yang hampir sama, narasumber partai yang hampir sama, pengamat yang hampir sama pula, seakan-akan pilpres ini hanya diikuti oleh dua orang kontestan atau jagoan saja. Jujur saja, apa yang kita lihat dan dengar ini, diakui atau tidak, sudah mulai terasa memuakkan.

Dua Figur Dominan, Apa Kabar Anis?
Judul yang mengundang tanya ini terkesan dipaksakan, seolah meniadakan satu sosok lain (Anis) yang padahal juga bagian dari kontestan pilpres. Dari diskusi ke diskusi, dari agenda ke agenda, kanal-kanal media sibuk dengan narasi-narasi diskusi debat yang tetap berkutat pada dua figur, Prabowo dan Ganjar. Media seakan termonopoli oleh dua orang tersebut. Apakah kondisi ini disengaja atau tanpa kesengajaan? Memang politik dinamis, tapi menarik juga jika kita mendiskusikan tentang fenomena ini.

Dominannya isu pilpres di mana penguasaan dua nama figur di lini-lini talk show dan diskusi-diskusi yang sudah banyak dipublikasikan menimbulkan ruang pertanyaan. Apakah ini diskriminasi, atau memang kita biasa terjebak pada rating survei hingga dianggap jadi sebuah kesimpulan menarik untuk didiskusikan di warung-warung kopi atau di beranda studio dengan sorotan kamera? Tema pagi, siang, sore, atau malam, sesi atau episode kali ini, pesta demokrasi pilpres pilihannya hanya milik dua nama, Prabowo-Ganjar atau sebaliknya Ganjar-Prabowo, dengan sub-sub judul beragam.

Sepertinya kita lupa satu momen peristiwa pada Pilkada DKI Jakarta 2017 beberapa tahun silam, ataukah kita memang malas belajar dari sebuah tragedi euforia kita dari survei di masa itu, yang akhirnya kita, masyarakat biasa, akademisi, politikus partai, pengamat dibuat malu pada hasil yang di luar dugaan. Bahkan di luar itu, munculnya “untrusted” (ketidakpercayaan) pada lembaga-lembaga survei pasca kemenangan Anis-Sandiaga Uno di Pilgub DKI.

Terlena oleh Survei, Lupa dengan Realitas
Walaupun prosesnya cukup panjang hingga terjadi dua kali putaran Pilkada, tetapi faktanya tetap tak terbantahkan bahwa kita sering kali lalai dan terlena oleh survei, oleh kesibukan pikiran kita, oleh kekeliruan kita karena terjebak, keinginan dan harapan, oleh pengamatan yang dilandasi adanya dukungan menyimpan satu/dua kategori nama dan tentunya oleh rasa sentimental kita.

Apakah kondisi ini cukup rasional, apakah ini diskriminasi, atau karena kita sebenarnya belum mampu memetakan sebuah pengamatan terhadap sebuah isu yang kebetulan isunya lagi-lagi terhadap sebuah pilihan yang berkaitan dengan pilihan politik atau kita memang sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk memberikan sebuah penilaian, untuk mendiskusikan sebuah pilihan tertentu.

Mungkinkah Ada Diskriminasi dan Selera Pasar
Ketika kita berbicara tentang diskriminasi dan identitas, kita tidak bisa mengabaikan konteks di mana kita dan media selalu mengangkat dua pasangan nama (Prabowo-Ganjar/Ganjar-Prabowo) sebagai peserta pilpres. Pada hakikatnya, kita secara tidak langsung sedang terlibat dalam diskriminasi diskusi (jika boleh dikatakan demikian), kita lupa, kita menyangkal adanya fakta tiga pasang nama, tapi kita seenaknya menghakimi bahwa pilihan masyarakat hanya terbatas pada dua pasangan tersebut.

Keadaan ini sebenarnya kurang mengedukasi dalam pemahaman tentang politik, walaupun itu menjadi hak dari setiap tema yang akan diangkat. Namun tentunya, jika dipikir-pikir ulang, sangatlah memprihatinkan. Lagi dan lagi, sepertinya ada pengaburan, pengabaian, dan pengingkaran adanya tiga nama bakal capres. Apakah ini agenda pengebirian ataukah dengan memasang sub judul tiga nama kurang relevan di pasar konten penonton peminat isu politik?

Jika bicaranya dalam konteks identitas, maka saat ini yang sedang dan telah terjadi adalah pemaksaan publikasi pada dua identitas personal bakal capres. Ingat, misi mengasingkan satu sosok seakan ditiadakan dalam panggung-panggung debat diskusi. Pada akhirnya, hal ini akan membuat kebisingan. Ketika “ketidak dianggapan terus coba dipropagandakan”, maka bukan tidak mungkin kemenangan bisa saja berpihak kepada yang tidak diberi tempat. Wallahu a’lam.

 -portalcisarua14/8/2023-



Tag : ,

OPINI DAN MORALITAS

By : kontributor

Ada batas waktu; pagi berakhir siang, siang berakhir sore, sore berakhir malam, dan akhirnya malam pun kembali berakhir menjadi pagi.

 

Tak ada generasi yang menginginkan generasi selanjutnya menjalani kehidupan dengan berbagai hiperbola yang mengandung umpatan merendahkan, terlebih umpatan tersebut terucap dari manusia-manusia terpilih yang menjadi pusat perhatian.

 

Kita adalah manusia Timur, dengan adat budaya dan agama yang menjunjung tinggi bagaimana menempatkan kesakralan dalam penghormatan lintas kehidupan. Kita sepakat bahwa azas-azas penghormatan bukan berarti harus mengkultuskan. Keberadaban adalah ketika kita mampu menjaga dan menempatkan setiap yang ada pada tempatnya hingga bisa diwariskan kepada yang selanjutnya.

 

Ungkapan yang berhiperbola lebih dari konteks memiliki konsekuensi yang berbeda tergantung siapa yang menarasikan. Jika yang menarasikan adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki jangkauan pengaruh, ungkapan tersebut memiliki 'sense' biasa saja. Namun, narasi yang disampaikan oleh satu manusia dengan pengaruh luar biasa memiliki implikasi yang juga luar biasa.

 

Side effect tiru-meniru terjadi tidak hanya pada ruang privat tapi juga pada kehidupan publik. Hal ini melunturkan keberadaban, mengikis rasa toleransi atau penghormatan, bahkan puncaknya bisa saja membiaskan dogma-dogma agama yang mengajarkan tentang etika kesantunan. Kita tidak ingin melihat kesemrawutan manusia dengan kehidupan liar.

 

Sentimentil menjadi biasa, ungkapan yang tidak lagi mengarah pada kapasitas tapi lebih ke personal dapat membawa tatanan keadaban kita sebagai manusia menjadi lebih buruk. Bahkan lebih dari itu, hal ini membunuh kebiasaan rasa batas kita sebagai manusia, merusak dan merobek-robek nalar hingga bisa berakhir pada puncaknya meniadakan kita dalam cara berpandangan realita sebagai manusia yang harus mengakui keberagaman perbedaan.

 

Kita sadar bahwa kritik harus pada tempat dan konsepnya. Mengkritisi akan terlihat elegan jika memiliki dasar yang jelas. Namun sekali lagi, bukan berarti narasi yang membabi buta dengan kandungan diksi-diksi kebencian yang teramat memilukan bisa berdampak rusaknya moral kita sebagai manusia diikuti. Kita pun perlu otokritik sebagai pondasi dasar adanya usaha dan cara bagaimana membenahi diri kita sebelum bernarasi tentang yang lain.

 

Menakar kritik adalah respon dari suatu penilaian yang objektif, bukan subjektif, logis, dan mampu diterima oleh setiap orang. Respon itu memang layak diberikan terhadap suatu keadaan yang dianggap bisa melahirkan potensi sebab-akibat pada suatu masalah.

 

Tidak ada yang aneh bahwa kebebasan berekspresi harus dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan batas kita dalam berperilaku dan berperikemanusiaan. Kebebasan merupakan fase dari rasa bebas dengan memberikan ruang-ruang penghormatan. Pada akhirnya, kebebasan itu tercipta; kebebasan lahir dari rahim penghormatan yang bersifat ekspresif dengan segala bentuk ekspresinya.

 

Kebebasan harus tetap menempatkan kemuliaan. Kemuliaan di sini adalah penghormatan pada terciptanya rasa bebas. Jika rasa bebas diperjuangkan tapi tidak melihat konteks batas-batas, maka itu bukan sebuah kebebasan. Ada tanggung jawab, ada konsekuensi, ada etika. Ketika keinginan kebebasan yang diagungkan haruslah tanpa memasung hak yang menentang kebebasan itu sendiri. Tapi itulah realita bahwa keinginan harus menghormati dari yang tidak menginginkan. Kita adalah entitas manusia yang memiliki peran berpikir.

 

Bebas bukan selalu berarti demokrasi tanpa konsekuensi dan sebuah kebebasan yang benar-benar bebas. Jika satu pihak memperjuangkan tentang sebuah sistem kehidupan yang demokratis/bebas, maka pihak ini pun harus menghormati kaidah-kaidah aturan yang diberikan/dibuat dari yang menentang (pro-demokrasi harus menghormati anti-demokrasi). Jika sudah saling memahami maka akan timbul saling penghormatan. Dalam prosesnya, rasa penghormatan yang tercipta ini secara tidak langsung akan menciptakan sebuah proses dan tatanan lain yang artinya ada batas-batas tertentu tanpa harus menimbulkan pergeseran atau friksi yang justru bersifat paradoks.

 

Kembali pada konteks tentang sikap ekspresi, opini, atau pendapat, maka titik temu dari perjalanan narasi ini adalah bahwa kebebasan beretorika harus siap dengan suatu konsekuensi. Konsekuensi itu harus diterima dan menghormati kebebasan dalam persoalan adanya pertentangan lain. Satu dengan kebebasan, satu lagi dengan alibi kebebasan untuk tetap memelihara aturan dan batasan.


Tag : ,

PERSPEKTIF BAHAGIA

By : kontributor


Bahagia itu tidak ada. Kalimat atau ungkapan bahagia datang dari kekurangan manusia yang tidak pernah menemukan keselarasan hidup. Orang kota berkata bahagia menjadi orang kampung, sebaliknya orang kampung akan berkata bahagianya menjadi orang kota.

 

Bahagia itu tidak ada. "Ia" ada karena dicari dan dicari-cari pembenarannya, ada dari sebuah ketiadaan atau kekosongan hidup. Sekaya apa pun dan semiskin apa pun, kalimat "bahagia" akan selalu terucap di antara manusia.

 

Penulis tidak akan mencatut rujukan berbagai sumber ahli untuk mengurai apa makna bahagia dalam berbagai perspektif. Ini murni dasar dari sebuah pikiran pribadi untuk menyampaikan apa itu bahagia. Tulisan sengaja dibuat untuk mencapai kemurnian pikiran, sedalam apa penulis menggambarkan tentang bahagia. Walaupun ditulis pendek dan dengan bahasa sederhana, kesimpulan penggambaran ini untuk menangkap daya berpikir penulis saat menuliskan ini, sejauh mana pikiran-pikiran ini mampu mempersepsikan apa itu bahagia dan makna bahagia, sejauh mana pikiran apa adanya ini mampu menjangkaunya.

 

Dalam persoalan kemampuan, yang pintar akan semakin merasa tidak bahagia karena banyak yang diketahuinya, dan pada akhirnya dia akan berpikir untuk tidak tahu. Sementara yang awam pun demikian, mereka berpikir menjadi pintar karena dalam mindset-nya beranggapan lebih banyak tahu akan semakin mempermudah dan membawa kebahagiaan.

 

Titik temu adanya "bahagia" adalah tahu tentang munculnya "bahagia" itu sendiri, dari mana datangnya pikiran-pikiran tersebut. Kenapa kalimat itu harus tertulis dalam bingkai jurnal harian dan bingkai maya seperti dalam status-status online? Tulisan dibuat sebagai sesi jeda waktu penulis ketika hari ini menjumpai ada yang beranggapan tentang kalimat dan ungkapan kebahagiaan. Penulis lanjutkan dengan mencari kenapa harus muncul dalam benak kita, apa dan kenapa harus ada bahagia?

 

Penulis berpendapat, manusia tidak akan pernah menemukan tempat dan waktu yang pas untuk mengukur atau menakar suatu kebahagiaan karena sudah fitrahnya untuk berasumsi dan berpandangan tentang kebahagiaan dalam berbagai kondisi. Maka yang tepat untuk menggeneralisir adalah kita selalu tidak bahagia. Kenapa? Karena dengan mengatakan demikian, sama artinya kita dalam posisi bahagia atau sedang. Apakah tulisan ini diketik dalam posisi sedang bahagia atau tidak, silakan pembaca mengira-ngira.


penulis (18/7/2021)

Tag : ,

IDEALIS VERSUS ?

By : kontributor

Orang berwatak Idealis memiliki kecendrungannya untuk menyendiri, sebaliknya orang oportunis akan berkumpul membangun simpul-simpul jaringan dan sikap yang sama, berkomplot untuk kesamaan kepentingan.


Tanpa melabelkan diri sebagai bagian dari para oportunis, namun disini penulis dapat menggambadkan bahwa para pelakunya memiliki kebiasaan dasar kepentingan jangka pendek, orang oportunis seperti selalu dalam posisi labilitas (perubsahan posisi dan selera berdasar kepentingan tertentu) karena dalam lingkaran komunikasinya naik turun. Hari ini mereka bersama maka esok mereka bisa menjadi musuh, siklusnya akan seperti itu berputar-putar, akur dan berkawan kemudian pada akhirnya bermusuhan dan berkawan kembali dan begitulah seterusnya.


Orang dengan watak idelis memiliki sisi konsiten sekalipun konsekuensinya dalam pergaulaan memiliki batasan ini sejalan dengan dasar pemikirannya, jika 2 manusia dengan 2 watak bertemu tentulah akan memiliki cara pandang  berbeda, jika 1 watak saja mampu melahirkan perdebatan sengit, maka, bukan tidak mungkin jika 2 watak berbeda akan lebih sengit jika dipertemukan dalam dialog dan perdebatan panaspin akan terjadi.


Mereka yang idealis dalam lingkup oportunis akan di kebiri/dijegal dalam hal apapun tanpa ada pengecualian, penjegalan berekspresi, bergerak dan bersosial pada tatanan lingkungan yang dikuasai oleh mereka yang nota bene memiliki kesamaan sifat dan sikap pada kepentingan tertentu. Para oportunis memiliki nilai jual vokal dan suara begitupun dalam hal bersikap kritis pada suatu konteks permasalahan, nilainya tergantung pada apa yang mereka terima ketika amplop sudah di tangan.


Namun berbeda jika pada mereka yang bersikap idealis terlebih bersikap kritis, tidak ada yang mampu menakar dan mengkalkulasi berapa nilai rupiah untuk membelinya, tiada harga yang menjadi parameternya. Kalaupun ada, maka parameternya adalah penerimaan pada sikap idealisnya yang mampu diterima dilingkungannya, tidak ada nilai value bagi mereka yang konsisten memiliki sikap idalis, sang idealis tidak mudah untuk didiamkan, namun tidak mudah pula untuk mengkondisikan, orang-orang seperti ini memiliki kencendrungan diam pada persoalan ketika sebuah sikap dan aspirasinya diakomodir dan diterima.


Idealis telah digambarkan dengan kelebihan yang dimilikinya, namun persoalannya kadang orang dengan mental idealis tertinggal dalam berbagai aspek, ada realitas yang selalu diabaikan, kekonsistenan terkadang pula meninggalkan jejak-jejak ketertinggalan. Idealis selalu kontraproduktif dengan realita yang ada, namun bukan berarti pula realistis memiliki satu persepsi dengan oportunis, tidak semua realistis bermental oportunis.


penulis 18/7/2020




Tag : ,

WESTERNISASI LEBAY

By : kontributor
Perkembangan informasi yang  cepat bahkan terkadang lepas dari kontrol baik oleh negara maupun oleh individu tertentu serta rendahnya pemahaman menjadi awal di mana gaya dan passion style maupun pola pikir masyarakat berubah. Isu Globallisme, Liberallisme, Kapitalisme atau bahkan Sekulerisme, selalu menyatu dalam bingkai Westernisasi di abad modern ini. Penguasaan informasi dan media oleh bangsa barat bukan tidak mungkin membawa pengaruh dari hal yang kecil sampai sekala yang besar. Peradaban yang lemah akan terhapus oleh peradaban yang kuat yang lebih dominan menguasai media. Seperti bangsa atau Negara Amerika dan Negara Eropa lainya yang menguasai hampir 65% media di dunia ini, mereka mampu menciptakan opini hanya dengan 1 hari atau bahkan beberapa jam dengan sebuah media televisi, internet atau bahkan media lainya. Isu Westernisasi terkesan seperti senjata untuk merubah dan menyatukan beberapa budaya atau pandangan menjadi satu kesatuan yang hegemonic untuk menjadi sama, baik dari aspek budaya, politik, hukum, teknologi. Pendidikan bahkan agama.

Apa Itu Westernisasi
Bukan tidak mungkin aku dan sebagian masyarakat lainya : berpendapat sama seperti dalam tulisan ini bahwa Westernisasi adalah pengaruh atau paham yang hendak menjadi budaya baru yang tercipta karena arus informasi atau bahkan tercipta karena sebaran atau tersebar baik itu oleh media elektronik maupun cetak yang datangnya dari bangsa barat, baik secara langsung atau bahkan tersamar. Dan westernisasi mempunyai pengaruh luas  dalam hal apapun, seperti yang tercamtum di atas yaitu :

Budaya, Politik, Hukum, Teknologi. Pendidikan bahkan Bahasa dan Agama

Kepercayaan diri yang rendah dalam suatu bangsa atau Negara, adalah target dimana westernisasi menjadi senjata untuk menyerang setiap kelemahan yang ada. Westernisasi mampu merubah sesuatu yang tabu atau bahkan “masih canggung untuk di ungkap” menjadi sesuatu hal yang biasa, pola pikir setiap individu mampu di rubah hanya dengan berbekal sebuah perangkat media informasi. Di tengah bangsa yang manjemuk westernisasi mampu beradaptasi dan menjelma menciptakan sesuatu seperti budaya yang baru dan kultur baru dalam masyarakat yang terseok dan kalah saing dalam bidang penguasaan media.

Westerniasi Indonesia
Indonesia adalah Negara terhebat menuruku :  dimana ada berjuta suku dan karakteristik yang berbeda pula di setiap pendudukanya, dan Indonesia adalah negara dengan perkembangan perangkat media tercepat  di antara negara di kawasan Asean lainya. Seperti Jepang yang menerima budaya westernisasi namun tetap mepertahankan nilai2 luhur, karakterisktik dan norma serta berpegang teguh akan warisan budayannya. Sehingga adanya isu westernisasi di jadikan sebagai proteksi dimana negara mau tidak mau harus aktif untuk memberi kesempatan dan membantu sekuat mungkin budaya lokal atau kekuatan asli untuk tetap membumi.

Simpang Siurnya Westernisasi
Sesuatu yang menyakut tentang kemajuan sering di artikan pula sebagai bagian dari akibat westernisasi, padahal sesungguhnya tidak.!!
Kemajuan tenknologi sering pula di artikan sebagai bagian dari westernisasi padahal sesunggulnya tidak!!!
Menurutku secara “pribadi :

Pada dasarnya kemajuan teknologi adalah tergantung dari kemampuan masing2 setiap bangsa atau negara akan SDM di masyrakatnya. Pengertian yang salah akan westernisasi yang selalu berhubungan dengan kemajuan adalah sesunggunya bohong besar. Karena sesungguhnya suatu negara atau bahkan bangsa lainya bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dan lebih maju dari bangsa barat tanpa harus meniru, dan bahkan berhak akan pengakuan dan legitimasi suatu tentang istilah “kemajuannya” baik dari segi teknologi budaya dan sesuatu yang mencakup gaya hidup. Bahkan sebaliknya jika mampu menguasai peradaban dan menguasai informasi di dunia kita bisa menggerakan paham Easteniasi terhadap budaya barat namun semua itu tergantung dari konsistensi kita dimana kita mau bersama2 bergandengan menguasai teknologi informasi dan sejenisnya. Tidak dapat di pungkiri karena faktor sesungguhnya, adanya penyebaran isu westernisasi adalah media informasi.

Diantara Westernisasi Ada Easternisasi.
Masyarakat yang mengaku dirinya berbudaya timur sejatinya harus mampu menjadi masyrakat yang mampu memimpin dan membenamkan dirinya dalam segala aspek kekuatan dan kemajuan dan menjadikan budaya yang ada dan yang telah di pegang teguh untuk tetap mempertahankan ke aslianya dan menjalankan budaya aslinya dalam keseharian serta menjadikan pula budaya atau pengaruh barat sebagai budaya kritis dan penyeimbang bahkan pendorong dan motivasi untuk sebuah keselarasan dan memahami bahwa di samping kita ada budaya yang berbeda tanpa semuanya harus kita ikuti. Bukan dengan mencela dan menghujat dengan pikiran sempit. Apalagi harus dengan isolasi dari kepungan budaya barat.

Westernisasi, sesungguhnya bukanlah budaya “ia” (westernisasi) adalah seperti paham atau pengaruh atau cara keinginan untuk meniru budaya tertentu yang datangnya dari barat dan menjadikannya sebagai penguat ego di tengah perkembangan zaman akan peradaban baru dan menjadikanya “ia” sebagai gaya atau passion baru dalam berkehidupan dan bermasyrakat.

Kita bisa melawan westerniasi dengan Easternisasi yaitu memulai dengan suatu gerakan dimana gerakan tersebut adalah adanya penayadaran akan kesederhanaan hidup namun tetap dengan cara berpandangan maju. Tanpa harus meninggalkan budaya asli kita dan darimana kita berasal. Tidak sepenuhnya westernisasi mengandung unsur kehebatan di balik itu semua ada tempat dan ciri cara pandang yang berbeda karena pengaruh lingkungan dan adata istiadat. Sementara cara mereka yang kita ikuti terkadang tidak sesuai dengan suatu keadaan dan lingkungan di sekitar kita.

Opini pribadi ini tidak bermaksud bahwa penulis berhaluan atau bahkan tunduk terhadap sesuatu yang berhubungan dengan bangsa barat tetapi lebih kepada apa yang ingin di sampaikan bahwa kita  yang merasa berbudaya timur harus bisa menerimanya karena seiring perkembangan dunia, kadang kala budaya memerlukan suatu akulturasi atau percampuran sebagai rasa saling menghargai dan menyeimbangkan yang ada, begitupun yang terjadi di belahan negara barat lainya mereka berlomba melawan budaya timur yang dengan istilah dan santer saat ini di Eropa dan Amerika lainya tentang maraknya arus imigran dan isu islamisasinya serta terkenal pula dengan merebaknya isu Easternisasi yang di bawa oleh orang2 Asia pada umunya yang singgah dan bermukin disana. Mereka (Bangsa barat dan Amerika) melawan dengan Intelktualitas dan tetap dengan toleransi tinggi bukan dengan pandangan sepit atau picik bukan dengan lebaya atau berebihan.

Satu point dimana Westernisasi akan tercipta  bila suatu pemimpin atau bahkan individu masyarakatnya lengah dan tak mampu memfilter budaya barat untuk di ambil mana bagian dari yang positif dan mana dari bagian yang negative. Dan kuatnya penguasaan media oleh bangsa2 barat tanpa kontrol atau bahkan kesadaran dari masyrakatnya kadang begitu kuat pengaruhnya. Bahasa, gaya berpakaian dan cara berfikir dan pandangsn nyeleneh bahkan memutarbalikan fakta serta menjadikan sesuatu yang sebenarnya “benar” menjadi sesuatu yang di anggap “salah” dan sesuatu yang sebebarnya “salah” menjadi sesuatu yang di anggap “benar”. Itulah pembiasan salah dan pemahaman yang salah kaprah  dimana sebagian dari kita tidak memahami subtansi arti pengaruh dan pesan yang ingin di sampaikan oleh bangsa barat.


Bangsa yang unggul dan percaya akan kemampuan masyarakatnya mampu membedakan mana bagian dari westernisasi dan mana dari akulturasi.
Tag : ,

DIKTATORIAN

By : kontributor



















Pemimpin Diktatorian 
dan Kemunafikan Terselubung dalam Perspektif Masa Kini
Oleh : salcenter.id


Lebih dari beberapa abad sejak dimulainya era manusia membangun peradaban, sejarah kepemimpinan dari berbagai latar, bangsa, dan tempat selalu menyelipkan cerita tentang para pemimpin yang pengecut dan berlindung di balik kesombongannya. Mereka menciptakan suasana yang nyaman namun membingungkan sebagian masyarakat yang dipimpinnya karena sifatnya yang cenderung bermuka dua. Dengan segala cara, tercipta sebuah sistem otoritarian yang menyentuh segala lapisan kehidupan masyarakatnya.

Pemimpin yang munafik tak lebih dari bangkai yang menganga di tengah-tengah gurun. Ia kerap menjadikan sandaran dan argumen saat keadaan terasa menyudutkannya sebagai manusia yang mempunyai kekuasaan. Pemimpin yang berfantasi dengan “Egoisme” selalu terlahir dengan mahkota sifat politikus yang selalu bermain dalam ketidakpedulian. Bila kepentingan tentang kelanggengan titahnya sebagai raja terancam oleh bayangan kehancuran, dengan sigap ia akan melakukan tindakan preventif.

Pemberangusan dan pencitraan dirinya seolah mengalir sama dan tak terpisahkan. Pemberangusan terjadi bila sebuah kabar yang tertuju padanya adalah kabar kontraproduktif, yang akan merusak kepemimpinannya dan integritas sebagai “Law of Leaders” dari masyarakatnya. Maka pemberedelan adalah pilihan terbaik untuk melindungi kekuasaan yang telah dimilikinya. Segala tindakan baik itu pendapat atau gagasan yang mengancam, menyindir, dan cenderung menyudutkan dirinya atas kebijakannya harus segera dihancurkan bahkan dihilangkan dalam pemberitaan media. Padahal, argumen yang ditentangnya adalah fakta tak terbantahkan tentang kegagalannya sebagai pemimpin dan kesalahkaprahannya yang membuat rakyatnya menangis dan meronta akibat kebijakannya yang tak pernah memihak kaum miskin.

Indonesia bukan negeri di masa dinasti kerajaan, di mana ketika titah sang raja tidak sesuai dengan kehendaknya, penjegalan akan kewenangan menjadi jawaban. Namun, negara ini adalah negara yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, di mana kebebasan berpendapat dan berekspresi menjadi sebuah menu yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus diapresiasi dan dihargai. Karena demokrasi lahir dan ada atas nama kebebasan.

Demokrasi lahir dari niat yang tulus. Ketika pemimpin lahir dari rahim demokrasi, ia harus mampu mempertanggungjawabkan integritasnya sebagai pemimpin yang lahir dari rahim pemilu yang dinakhodai atas nama demokrasi. Demokrasi selalu beriringan dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Hormat bagi yang kalah terhadap pemenang, dan bertanggung jawab bagi pemenang untuk menjalankan amanah kekuasaan yang diberikan rakyatnya dan untuk rakyat sesuai tempat dan kapasitasnya. Dalam opini ini, jelas bahwa demokrasi bagi pemimpin yang lahir dari rahim pemilu demokratis adalah memberi seluas-luasnya kewenangan kepada masyarakat untuk berpendapat dan mengkritisi kebijakannya, bukan dengan membungkam media dan menutup diri dari berita tentang apa yang sudah menjadi cerita dalam hari-harinya. Bukan pula dengan menasbihkan dirinya sebagai pemimpin yang penuh kemunafikan, yang menyanjung demokrasi namun di lain pihak menampik apa yang sudah seharusnya.

Kadarnya demokrasi adalah memberi ruang bagi masyarakat dan pemimpinnya, di mana kebebasan seluas-luasnya adalah jawaban dari fakta integritas bagi semua lapisan yang menerapkan dan ikut andil di dalamnya.
Tag : ,

BENDERA 1/2 TIANG

By : kontributor
Hari ini ku gantungkan sepatu sebagai pertanda bahwa aku sedang berduka, tanpa ku pasangkan sebuah bendera di halaman depan rumahku karena memang di rumahku tak ada tiang untuk memasangkannya, maka sepatu bagiku adalah pengganti sementara dari rasa dukaku, tak ada maksud untuk menyamakan antara sepatu yang kugatung dengan sebuah bendera apalagi itu sebuah bendera yang menjadi lambang dari negaraku. Aku menggantukan sepatuku yang sudah bau terasi dan kusam itu karena merasa bahwa saat itu cuku pantas untuk menggambarkan betapa dukanya hatiku hari ini melihat boom dimana-mana, bukan boom buatan teroris yang terkordinir dan terencana boom ini jauh lebih bahaya dari boom yang biasanya, boom ini dimiliki oleh hampir seluruh penduduk negeri ini. Dan aku melambangkan kedukaanku dengan menggantungkan sepatu sebagai tanda atas keprihatinanku akan tulinya para penguasa di negeri ini.

Banyak yang berasumsi dan berpikir bahwa ini adalah ledakan terakhir karena dari tv banyak komentar dari para penyebar boom bahwa semua akan di usahakan untuk tak terjadi lagi, heheheee aku sich senyum-senyum saja mendengar dan melihat tayangan di tv tadi, bagiku kejadian hari ini adalah rentetan yang akan berkelanjutan, ‘bagaimana mungkin aku bisa sampai berpikir seperti itu kalau bukan tanpa alasan?”” heum…..

Sebenarnhya kejadian hari ini adalah kejadian basi bagiku, semenjak berita tentang ada seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke istana untuk meminta pertanggung jawaban dari pemimpin, nach lho kenapa?”” sumber dari media menyebutkan bahwa seorang ibu kesal karena anak semata wayangnya adalah korban dari kebijakan penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan dampak dan melihat sejauh mana masyarakat kita pintar untuk bisa cepat memahami program dan penggunaan benda yang kusebut sebagai boom itu, hah” sekali lagi kita harus berduka karena setelah kejadian anak yang terkena ledakan tersebut di lain waktu ada lagi yang menjadi korban, selang beberapa hari ternyata dugaanku benar” betul saja sebuah harian Koran nasional memberitakan bahwa satu rumah dan hamper saja satu keluarga tewas tertimpa atap rumah di beritakan para korban luka hamper tertimpa bangunan yang roboh karena adanya ledakan dari sebuah kompor yang katanya lebih canggih dari minyak tanah” oya”,… emang sich canggih tinggal di putar langsung nyala selain itu ga terlalu ribeut karena cukup praktis, itu sich katanya?” yach aku lihat juga bentuknya cukup imut dan lucu, para pembuat kebijakn bilang beratnya katanya hanya 3kg, tapi  ketika aku angkat sepertinya banyak kurangnya, Hah! aku berfikir bahwa Penguasa sudah menjadi anggota dalam dunia kebohongan.

Aku bisa saja menggatungkan bendera setengah tiang bahkan setengahnya bisa lebih tinggi dari bukan bendera setengah tiang bila yang keduakaanku adalah tentang meninggalnya beribu rakyat korban ledakan boom si imut 3kg. dan aku lebih merasa berduka saat kulihat rakyat yang menjadi korban dari kebijakan yang di paksakan, daripada harus berduka pada penguasa yang meninggal dunia tetapi tak pernah memikirkan keluhan rakyat saat dimana ia mempimpin dengan ke sombongannya memelihara sifat acuh. Dan kejadian hari akhir-akhir ini sama persisnyha dengan pemimpin yang sudah mati isi hatinya, bahkan berkali-kali demo dimana-mana meminta program kebijakan konversi ini untuk di hentikan, tetapi kegelapan yang menyelimuti para penguasa ini telah menutup atas segala fakta yang terjadi di lapangan heum…

Yach namanya juga anjing menggonggong kafilah berlalu kebijakan ya kebijakan korban ya korban, buat penguasa semua bisa di atur tinggal di beritakan saja “bahwa semua sudah untuk mengurangi subsidi” beres dech urusan, yang pentingkan tenang untuk sementara waktu dari pada pusing menanggapi rakyat yang terus mengeluh, (kilah peguasa)””. Duka dan tangis dimana rakyat jadi korban dan meninggal sia-sia karena ulah konversi yang di paksakan, belum beres satu berita sudah ada lagi berita di radio terjadi ledakan dan korban 1 orang meninggal akibat si bentuk imut 3kg. “ya Tuhan”… sampai kapankah akan terus berulang, rasa-rasanya makin gerah saja badan ini mendenngar berita dimana-mana tentang korban ledakan, lebih gerah dan membuat  aku panas adalah  yang membuat kebijakan cuma bisa ngomong dan menyalahkan “tolong bawahan di realisasikan lagi cara penggunaannya”, dan si pembuat tabung imut 3kg juga sama sekali hilang muka alias dalam artian hilang malu.

Ketika satu peristiwa terjadi untuk kesekian kalinya,  maka rencana untuk beriklan tentang sebuah realisasipun mulai di lakukan lagi dan kampanye bahwa semua harus sesuai prosedur pemasangan ramai menghiasi sarapan pagi dalam sebuah berita, dan ketika berita ledakan itu redup sekonyong-konyong redup pula pemberitaan tentang iklan realisasi, begitulah cerita klise di negeri ini yang ramai ketika ramai dan sepi ketika sepi. Aku berduka untuk rakyat yang menjadi korban dan aku berduka akan tulinya pembuat kebijakan.

Para pembuat kebijakan hanya bisa berbasa-basi, mereka tak pernah merasakan bagaimana rakyat selalu khawatir ketika harus menyalakan si imut 3kg, makanya bagaimana akan sensitif terhadap keluhan rakyat kalau yang terjadi adalah bahwa para penguasa tak pernah belajar untuk mersakan was-wasnya menyalakan api dari si imut 3kg.

Hehehee…
Tag : ,

RETORIKA KAMPANYE

By : kontributor
Kritis KampanyeInilah demokrasi, kritikan yang lahir akan membangun dan merangsang setiap orang untuk sama-sama belajar lebih tahu, yang secara tidak langsung pula menciptakan terbangunnya rasa kepedulian dari setiap diri, baik pemikiran dan hati manusia untuk mencari tahu dan peduli pada situasi dan kondisi saat ini, terlebih pada momen-momen pemilu 2014.

KRITIK DAN FITNAH
adalah notasi kata yang berbeda, smua ada notasi dan konotasi kearah mana setiap kalimat itu di arahkan. Kritik adalah sesuatu yang bersifat fakta yang berdasarkan pada keinginan untuk membangun sesuatu yang konstruktif dan bukan kontraproduktif, sementara fitnah adalah sesuatu yang penuh kebohongan tanpa fakta, fitnah berisi retorika tanpa arti tanpa bukti dan tanpa isi.

Kalimat-kalimat Tendesius yang menohok bukan berarti pula suatu rasa keberpihakan, bukan pula sesuatu kerikil yang mesti dipersoalkan, tapi kenyataanya suatu kebenaran akan rekam jejak pelu suatu klarifikasi agar masyarakat tahu “track record” dari setiap calon pemimpin, layak atau tidak smua di kembalikan kepada masyarakat, benar atau tidak suatu penilaian akan dikembalikan kepada masyarakat baik kepada si pengkritik dan yang dikritik.

Inipula rangsangan argumen politik yang sudah mulai-mulai terasa diantara para netters, mau tidak mau, suka tidak suka rangsanngan setiap informasi akan membawa kita pada akhirnya ikut terlibat menjadi pemantau yang tanpa di sadari pada situasi apapun sesuai momen yang terjadi.

Semua ucapan keritik mengandung resiko, siap tidak siap, asal berdasarkan fakta kita tidak boleh mundur atau cenderung urung untuk vokal menyampaikan suatu gagasan dan himbauan, semua sudah ada jaminan dan lindungan, asal bukan fitnah yang disampaikan semua syah untuk disampaikan. Soal sanksi moral itu bagian dari suatu proses yang harus di terima dan sudah pasti seseorang yang mengkritisi sudah tentu memikirkanya.

Kita tidak hidup dalam kungkungan sejarah di masa kelam, di mana kebebasan berbicara bergitu di batasi, sekalipun bersifat membangun pada akhirnya akan di anggap suatu pengkhianatan dan pemberontakan. Kita tidak bisa diam begitu saja ketika ada sesuatu yang kurang maka sewajarnya kita berbagi agar kita sama-sama tahu, dan mencari tahu, dan jika suatu Keritik berdasakan bukti maka selayaknya di apresiasi bukan untuk di batasi dan kemudian di ingkari atau malah di cemooh. Bagaimanapun seorang pengkritik atau seorang yang berambisius untuk membukakan pemikiran masyarakat, sekalipun keritikan bersifat objektif jika di dalamnya hanya di lihat oleh karena suatu ikatan/kemasan pada suatu penghargaan (dukungan) di belakangnya, tanpa melihat isi subtansi yang di ingin di sampaikan oleh si pengkritik, maka dia akan terlihat salah dan di anggap salah oleh sebagian masyarakat.

Junjung Independensi Kritik dan berusaha Objektif walaupun kita ada di kubu A, B atau C. Semoga kita bisa lebih bijak, dan mengukur segala sesuatunya dari segala kebenaran bukan kesesatan dalam beropini.
Tag : ,

SEPERTI INI ITU

By : kontributor

Pemimpin yang aktif di Medsos akan lebih banyak punya peluang memiliki rasa kepekaan tinggi di banding mereka yang tak aktif atau bahkan tak memiliki medsos. Karena masyarakat yang lebih dominan pada isu-isu terkini dan kritis adalah mereka para netizen (masyarakat dunia maya)

Pemimpin yang aktif di medsos seperti Kang Emil Ridwan Kamil) adalah pemimpin masa kini dan masa depan atau pemimpin yang harusnya ada pada tahun dimana teknologi sudah benar-benar milik semua orang.

"Responsif/tanggap pada setiap keluhan, tidak merasa sensi/alergi dan semua di respon dengan bijak serta di barengi dengan sifat kesabaran sebagai pemimpin dalam menjawab setiap persoalan yang di sampaikan masyarakatnnya”.

Semoga makin banyak pemimpin-pemimpin yang tidak sekedar pencitraan memasang baliho, spanduk besar di jalanan tapi sensi ketika ada keritikan, terlebih Via Medsos, biasanya ketika kritikan atau sindiran itu hadir acount-acount medsos mereka langsung nonaktif.


Semoga langkah Kang Emil yang lebih mengutamakan Medsos dalam mendengar keluhan masyarakat di contoh oleh calon pemimpin-pemimpin lainnya. Semoga.
Tag : ,

- Copyright © salcenter.id - salcente.id - Powered by Blogger - Designed by salcenter -