SERING DIBACA

WESTERNISASI LEBAY

By : kontributor
Perkembangan informasi yang  cepat bahkan terkadang lepas dari kontrol baik oleh negara maupun oleh individu tertentu serta rendahnya pemahaman menjadi awal di mana gaya dan passion style maupun pola pikir masyarakat berubah. Isu Globallisme, Liberallisme, Kapitalisme atau bahkan Sekulerisme, selalu menyatu dalam bingkai Westernisasi di abad modern ini. Penguasaan informasi dan media oleh bangsa barat bukan tidak mungkin membawa pengaruh dari hal yang kecil sampai sekala yang besar. Peradaban yang lemah akan terhapus oleh peradaban yang kuat yang lebih dominan menguasai media. Seperti bangsa atau Negara Amerika dan Negara Eropa lainya yang menguasai hampir 65% media di dunia ini, mereka mampu menciptakan opini hanya dengan 1 hari atau bahkan beberapa jam dengan sebuah media televisi, internet atau bahkan media lainya. Isu Westernisasi terkesan seperti senjata untuk merubah dan menyatukan beberapa budaya atau pandangan menjadi satu kesatuan yang hegemonic untuk menjadi sama, baik dari aspek budaya, politik, hukum, teknologi. Pendidikan bahkan agama.

Apa Itu Westernisasi
Bukan tidak mungkin aku dan sebagian masyarakat lainya : berpendapat sama seperti dalam tulisan ini bahwa Westernisasi adalah pengaruh atau paham yang hendak menjadi budaya baru yang tercipta karena arus informasi atau bahkan tercipta karena sebaran atau tersebar baik itu oleh media elektronik maupun cetak yang datangnya dari bangsa barat, baik secara langsung atau bahkan tersamar. Dan westernisasi mempunyai pengaruh luas  dalam hal apapun, seperti yang tercamtum di atas yaitu :

Budaya, Politik, Hukum, Teknologi. Pendidikan bahkan Bahasa dan Agama

Kepercayaan diri yang rendah dalam suatu bangsa atau Negara, adalah target dimana westernisasi menjadi senjata untuk menyerang setiap kelemahan yang ada. Westernisasi mampu merubah sesuatu yang tabu atau bahkan “masih canggung untuk di ungkap” menjadi sesuatu hal yang biasa, pola pikir setiap individu mampu di rubah hanya dengan berbekal sebuah perangkat media informasi. Di tengah bangsa yang manjemuk westernisasi mampu beradaptasi dan menjelma menciptakan sesuatu seperti budaya yang baru dan kultur baru dalam masyarakat yang terseok dan kalah saing dalam bidang penguasaan media.

Westerniasi Indonesia
Indonesia adalah Negara terhebat menuruku :  dimana ada berjuta suku dan karakteristik yang berbeda pula di setiap pendudukanya, dan Indonesia adalah negara dengan perkembangan perangkat media tercepat  di antara negara di kawasan Asean lainya. Seperti Jepang yang menerima budaya westernisasi namun tetap mepertahankan nilai2 luhur, karakterisktik dan norma serta berpegang teguh akan warisan budayannya. Sehingga adanya isu westernisasi di jadikan sebagai proteksi dimana negara mau tidak mau harus aktif untuk memberi kesempatan dan membantu sekuat mungkin budaya lokal atau kekuatan asli untuk tetap membumi.

Simpang Siurnya Westernisasi
Sesuatu yang menyakut tentang kemajuan sering di artikan pula sebagai bagian dari akibat westernisasi, padahal sesungguhnya tidak.!!
Kemajuan tenknologi sering pula di artikan sebagai bagian dari westernisasi padahal sesunggulnya tidak!!!
Menurutku secara “pribadi :

Pada dasarnya kemajuan teknologi adalah tergantung dari kemampuan masing2 setiap bangsa atau negara akan SDM di masyrakatnya. Pengertian yang salah akan westernisasi yang selalu berhubungan dengan kemajuan adalah sesunggunya bohong besar. Karena sesungguhnya suatu negara atau bahkan bangsa lainya bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik dan lebih maju dari bangsa barat tanpa harus meniru, dan bahkan berhak akan pengakuan dan legitimasi suatu tentang istilah “kemajuannya” baik dari segi teknologi budaya dan sesuatu yang mencakup gaya hidup. Bahkan sebaliknya jika mampu menguasai peradaban dan menguasai informasi di dunia kita bisa menggerakan paham Easteniasi terhadap budaya barat namun semua itu tergantung dari konsistensi kita dimana kita mau bersama2 bergandengan menguasai teknologi informasi dan sejenisnya. Tidak dapat di pungkiri karena faktor sesungguhnya, adanya penyebaran isu westernisasi adalah media informasi.

Diantara Westernisasi Ada Easternisasi.
Masyarakat yang mengaku dirinya berbudaya timur sejatinya harus mampu menjadi masyrakat yang mampu memimpin dan membenamkan dirinya dalam segala aspek kekuatan dan kemajuan dan menjadikan budaya yang ada dan yang telah di pegang teguh untuk tetap mempertahankan ke aslianya dan menjalankan budaya aslinya dalam keseharian serta menjadikan pula budaya atau pengaruh barat sebagai budaya kritis dan penyeimbang bahkan pendorong dan motivasi untuk sebuah keselarasan dan memahami bahwa di samping kita ada budaya yang berbeda tanpa semuanya harus kita ikuti. Bukan dengan mencela dan menghujat dengan pikiran sempit. Apalagi harus dengan isolasi dari kepungan budaya barat.

Westernisasi, sesungguhnya bukanlah budaya “ia” (westernisasi) adalah seperti paham atau pengaruh atau cara keinginan untuk meniru budaya tertentu yang datangnya dari barat dan menjadikannya sebagai penguat ego di tengah perkembangan zaman akan peradaban baru dan menjadikanya “ia” sebagai gaya atau passion baru dalam berkehidupan dan bermasyrakat.

Kita bisa melawan westerniasi dengan Easternisasi yaitu memulai dengan suatu gerakan dimana gerakan tersebut adalah adanya penayadaran akan kesederhanaan hidup namun tetap dengan cara berpandangan maju. Tanpa harus meninggalkan budaya asli kita dan darimana kita berasal. Tidak sepenuhnya westernisasi mengandung unsur kehebatan di balik itu semua ada tempat dan ciri cara pandang yang berbeda karena pengaruh lingkungan dan adata istiadat. Sementara cara mereka yang kita ikuti terkadang tidak sesuai dengan suatu keadaan dan lingkungan di sekitar kita.

Opini pribadi ini tidak bermaksud bahwa penulis berhaluan atau bahkan tunduk terhadap sesuatu yang berhubungan dengan bangsa barat tetapi lebih kepada apa yang ingin di sampaikan bahwa kita  yang merasa berbudaya timur harus bisa menerimanya karena seiring perkembangan dunia, kadang kala budaya memerlukan suatu akulturasi atau percampuran sebagai rasa saling menghargai dan menyeimbangkan yang ada, begitupun yang terjadi di belahan negara barat lainya mereka berlomba melawan budaya timur yang dengan istilah dan santer saat ini di Eropa dan Amerika lainya tentang maraknya arus imigran dan isu islamisasinya serta terkenal pula dengan merebaknya isu Easternisasi yang di bawa oleh orang2 Asia pada umunya yang singgah dan bermukin disana. Mereka (Bangsa barat dan Amerika) melawan dengan Intelktualitas dan tetap dengan toleransi tinggi bukan dengan pandangan sepit atau picik bukan dengan lebaya atau berebihan.

Satu point dimana Westernisasi akan tercipta  bila suatu pemimpin atau bahkan individu masyarakatnya lengah dan tak mampu memfilter budaya barat untuk di ambil mana bagian dari yang positif dan mana dari bagian yang negative. Dan kuatnya penguasaan media oleh bangsa2 barat tanpa kontrol atau bahkan kesadaran dari masyrakatnya kadang begitu kuat pengaruhnya. Bahasa, gaya berpakaian dan cara berfikir dan pandangsn nyeleneh bahkan memutarbalikan fakta serta menjadikan sesuatu yang sebenarnya “benar” menjadi sesuatu yang di anggap “salah” dan sesuatu yang sebebarnya “salah” menjadi sesuatu yang di anggap “benar”. Itulah pembiasan salah dan pemahaman yang salah kaprah  dimana sebagian dari kita tidak memahami subtansi arti pengaruh dan pesan yang ingin di sampaikan oleh bangsa barat.


Bangsa yang unggul dan percaya akan kemampuan masyarakatnya mampu membedakan mana bagian dari westernisasi dan mana dari akulturasi.
Tag : ,

DIKTATORIAN

By : kontributor



















Pemimpin Diktatorian 
dan Kemunafikan Terselubung dalam Perspektif Masa Kini
Oleh : salcenter.id


Lebih dari beberapa abad sejak dimulainya era manusia membangun peradaban, sejarah kepemimpinan dari berbagai latar, bangsa, dan tempat selalu menyelipkan cerita tentang para pemimpin yang pengecut dan berlindung di balik kesombongannya. Mereka menciptakan suasana yang nyaman namun membingungkan sebagian masyarakat yang dipimpinnya karena sifatnya yang cenderung bermuka dua. Dengan segala cara, tercipta sebuah sistem otoritarian yang menyentuh segala lapisan kehidupan masyarakatnya.

Pemimpin yang munafik tak lebih dari bangkai yang menganga di tengah-tengah gurun. Ia kerap menjadikan sandaran dan argumen saat keadaan terasa menyudutkannya sebagai manusia yang mempunyai kekuasaan. Pemimpin yang berfantasi dengan “Egoisme” selalu terlahir dengan mahkota sifat politikus yang selalu bermain dalam ketidakpedulian. Bila kepentingan tentang kelanggengan titahnya sebagai raja terancam oleh bayangan kehancuran, dengan sigap ia akan melakukan tindakan preventif.

Pemberangusan dan pencitraan dirinya seolah mengalir sama dan tak terpisahkan. Pemberangusan terjadi bila sebuah kabar yang tertuju padanya adalah kabar kontraproduktif, yang akan merusak kepemimpinannya dan integritas sebagai “Law of Leaders” dari masyarakatnya. Maka pemberedelan adalah pilihan terbaik untuk melindungi kekuasaan yang telah dimilikinya. Segala tindakan baik itu pendapat atau gagasan yang mengancam, menyindir, dan cenderung menyudutkan dirinya atas kebijakannya harus segera dihancurkan bahkan dihilangkan dalam pemberitaan media. Padahal, argumen yang ditentangnya adalah fakta tak terbantahkan tentang kegagalannya sebagai pemimpin dan kesalahkaprahannya yang membuat rakyatnya menangis dan meronta akibat kebijakannya yang tak pernah memihak kaum miskin.

Indonesia bukan negeri di masa dinasti kerajaan, di mana ketika titah sang raja tidak sesuai dengan kehendaknya, penjegalan akan kewenangan menjadi jawaban. Namun, negara ini adalah negara yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, di mana kebebasan berpendapat dan berekspresi menjadi sebuah menu yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus diapresiasi dan dihargai. Karena demokrasi lahir dan ada atas nama kebebasan.

Demokrasi lahir dari niat yang tulus. Ketika pemimpin lahir dari rahim demokrasi, ia harus mampu mempertanggungjawabkan integritasnya sebagai pemimpin yang lahir dari rahim pemilu yang dinakhodai atas nama demokrasi. Demokrasi selalu beriringan dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Hormat bagi yang kalah terhadap pemenang, dan bertanggung jawab bagi pemenang untuk menjalankan amanah kekuasaan yang diberikan rakyatnya dan untuk rakyat sesuai tempat dan kapasitasnya. Dalam opini ini, jelas bahwa demokrasi bagi pemimpin yang lahir dari rahim pemilu demokratis adalah memberi seluas-luasnya kewenangan kepada masyarakat untuk berpendapat dan mengkritisi kebijakannya, bukan dengan membungkam media dan menutup diri dari berita tentang apa yang sudah menjadi cerita dalam hari-harinya. Bukan pula dengan menasbihkan dirinya sebagai pemimpin yang penuh kemunafikan, yang menyanjung demokrasi namun di lain pihak menampik apa yang sudah seharusnya.

Kadarnya demokrasi adalah memberi ruang bagi masyarakat dan pemimpinnya, di mana kebebasan seluas-luasnya adalah jawaban dari fakta integritas bagi semua lapisan yang menerapkan dan ikut andil di dalamnya.
Tag : ,

BENDERA 1/2 TIANG

By : kontributor
Hari ini ku gantungkan sepatu sebagai pertanda bahwa aku sedang berduka, tanpa ku pasangkan sebuah bendera di halaman depan rumahku karena memang di rumahku tak ada tiang untuk memasangkannya, maka sepatu bagiku adalah pengganti sementara dari rasa dukaku, tak ada maksud untuk menyamakan antara sepatu yang kugatung dengan sebuah bendera apalagi itu sebuah bendera yang menjadi lambang dari negaraku. Aku menggantukan sepatuku yang sudah bau terasi dan kusam itu karena merasa bahwa saat itu cuku pantas untuk menggambarkan betapa dukanya hatiku hari ini melihat boom dimana-mana, bukan boom buatan teroris yang terkordinir dan terencana boom ini jauh lebih bahaya dari boom yang biasanya, boom ini dimiliki oleh hampir seluruh penduduk negeri ini. Dan aku melambangkan kedukaanku dengan menggantungkan sepatu sebagai tanda atas keprihatinanku akan tulinya para penguasa di negeri ini.

Banyak yang berasumsi dan berpikir bahwa ini adalah ledakan terakhir karena dari tv banyak komentar dari para penyebar boom bahwa semua akan di usahakan untuk tak terjadi lagi, heheheee aku sich senyum-senyum saja mendengar dan melihat tayangan di tv tadi, bagiku kejadian hari ini adalah rentetan yang akan berkelanjutan, ‘bagaimana mungkin aku bisa sampai berpikir seperti itu kalau bukan tanpa alasan?”” heum…..

Sebenarnhya kejadian hari ini adalah kejadian basi bagiku, semenjak berita tentang ada seorang ibu yang mengantarkan anaknya ke istana untuk meminta pertanggung jawaban dari pemimpin, nach lho kenapa?”” sumber dari media menyebutkan bahwa seorang ibu kesal karena anak semata wayangnya adalah korban dari kebijakan penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya tanpa memikirkan dampak dan melihat sejauh mana masyarakat kita pintar untuk bisa cepat memahami program dan penggunaan benda yang kusebut sebagai boom itu, hah” sekali lagi kita harus berduka karena setelah kejadian anak yang terkena ledakan tersebut di lain waktu ada lagi yang menjadi korban, selang beberapa hari ternyata dugaanku benar” betul saja sebuah harian Koran nasional memberitakan bahwa satu rumah dan hamper saja satu keluarga tewas tertimpa atap rumah di beritakan para korban luka hamper tertimpa bangunan yang roboh karena adanya ledakan dari sebuah kompor yang katanya lebih canggih dari minyak tanah” oya”,… emang sich canggih tinggal di putar langsung nyala selain itu ga terlalu ribeut karena cukup praktis, itu sich katanya?” yach aku lihat juga bentuknya cukup imut dan lucu, para pembuat kebijakn bilang beratnya katanya hanya 3kg, tapi  ketika aku angkat sepertinya banyak kurangnya, Hah! aku berfikir bahwa Penguasa sudah menjadi anggota dalam dunia kebohongan.

Aku bisa saja menggatungkan bendera setengah tiang bahkan setengahnya bisa lebih tinggi dari bukan bendera setengah tiang bila yang keduakaanku adalah tentang meninggalnya beribu rakyat korban ledakan boom si imut 3kg. dan aku lebih merasa berduka saat kulihat rakyat yang menjadi korban dari kebijakan yang di paksakan, daripada harus berduka pada penguasa yang meninggal dunia tetapi tak pernah memikirkan keluhan rakyat saat dimana ia mempimpin dengan ke sombongannya memelihara sifat acuh. Dan kejadian hari akhir-akhir ini sama persisnyha dengan pemimpin yang sudah mati isi hatinya, bahkan berkali-kali demo dimana-mana meminta program kebijakan konversi ini untuk di hentikan, tetapi kegelapan yang menyelimuti para penguasa ini telah menutup atas segala fakta yang terjadi di lapangan heum…

Yach namanya juga anjing menggonggong kafilah berlalu kebijakan ya kebijakan korban ya korban, buat penguasa semua bisa di atur tinggal di beritakan saja “bahwa semua sudah untuk mengurangi subsidi” beres dech urusan, yang pentingkan tenang untuk sementara waktu dari pada pusing menanggapi rakyat yang terus mengeluh, (kilah peguasa)””. Duka dan tangis dimana rakyat jadi korban dan meninggal sia-sia karena ulah konversi yang di paksakan, belum beres satu berita sudah ada lagi berita di radio terjadi ledakan dan korban 1 orang meninggal akibat si bentuk imut 3kg. “ya Tuhan”… sampai kapankah akan terus berulang, rasa-rasanya makin gerah saja badan ini mendenngar berita dimana-mana tentang korban ledakan, lebih gerah dan membuat  aku panas adalah  yang membuat kebijakan cuma bisa ngomong dan menyalahkan “tolong bawahan di realisasikan lagi cara penggunaannya”, dan si pembuat tabung imut 3kg juga sama sekali hilang muka alias dalam artian hilang malu.

Ketika satu peristiwa terjadi untuk kesekian kalinya,  maka rencana untuk beriklan tentang sebuah realisasipun mulai di lakukan lagi dan kampanye bahwa semua harus sesuai prosedur pemasangan ramai menghiasi sarapan pagi dalam sebuah berita, dan ketika berita ledakan itu redup sekonyong-konyong redup pula pemberitaan tentang iklan realisasi, begitulah cerita klise di negeri ini yang ramai ketika ramai dan sepi ketika sepi. Aku berduka untuk rakyat yang menjadi korban dan aku berduka akan tulinya pembuat kebijakan.

Para pembuat kebijakan hanya bisa berbasa-basi, mereka tak pernah merasakan bagaimana rakyat selalu khawatir ketika harus menyalakan si imut 3kg, makanya bagaimana akan sensitif terhadap keluhan rakyat kalau yang terjadi adalah bahwa para penguasa tak pernah belajar untuk mersakan was-wasnya menyalakan api dari si imut 3kg.

Hehehee…
Tag : ,

RETORIKA KAMPANYE

By : kontributor
Kritis KampanyeInilah demokrasi, kritikan yang lahir akan membangun dan merangsang setiap orang untuk sama-sama belajar lebih tahu, yang secara tidak langsung pula menciptakan terbangunnya rasa kepedulian dari setiap diri, baik pemikiran dan hati manusia untuk mencari tahu dan peduli pada situasi dan kondisi saat ini, terlebih pada momen-momen pemilu 2014.

KRITIK DAN FITNAH
adalah notasi kata yang berbeda, smua ada notasi dan konotasi kearah mana setiap kalimat itu di arahkan. Kritik adalah sesuatu yang bersifat fakta yang berdasarkan pada keinginan untuk membangun sesuatu yang konstruktif dan bukan kontraproduktif, sementara fitnah adalah sesuatu yang penuh kebohongan tanpa fakta, fitnah berisi retorika tanpa arti tanpa bukti dan tanpa isi.

Kalimat-kalimat Tendesius yang menohok bukan berarti pula suatu rasa keberpihakan, bukan pula sesuatu kerikil yang mesti dipersoalkan, tapi kenyataanya suatu kebenaran akan rekam jejak pelu suatu klarifikasi agar masyarakat tahu “track record” dari setiap calon pemimpin, layak atau tidak smua di kembalikan kepada masyarakat, benar atau tidak suatu penilaian akan dikembalikan kepada masyarakat baik kepada si pengkritik dan yang dikritik.

Inipula rangsangan argumen politik yang sudah mulai-mulai terasa diantara para netters, mau tidak mau, suka tidak suka rangsanngan setiap informasi akan membawa kita pada akhirnya ikut terlibat menjadi pemantau yang tanpa di sadari pada situasi apapun sesuai momen yang terjadi.

Semua ucapan keritik mengandung resiko, siap tidak siap, asal berdasarkan fakta kita tidak boleh mundur atau cenderung urung untuk vokal menyampaikan suatu gagasan dan himbauan, semua sudah ada jaminan dan lindungan, asal bukan fitnah yang disampaikan semua syah untuk disampaikan. Soal sanksi moral itu bagian dari suatu proses yang harus di terima dan sudah pasti seseorang yang mengkritisi sudah tentu memikirkanya.

Kita tidak hidup dalam kungkungan sejarah di masa kelam, di mana kebebasan berbicara bergitu di batasi, sekalipun bersifat membangun pada akhirnya akan di anggap suatu pengkhianatan dan pemberontakan. Kita tidak bisa diam begitu saja ketika ada sesuatu yang kurang maka sewajarnya kita berbagi agar kita sama-sama tahu, dan mencari tahu, dan jika suatu Keritik berdasakan bukti maka selayaknya di apresiasi bukan untuk di batasi dan kemudian di ingkari atau malah di cemooh. Bagaimanapun seorang pengkritik atau seorang yang berambisius untuk membukakan pemikiran masyarakat, sekalipun keritikan bersifat objektif jika di dalamnya hanya di lihat oleh karena suatu ikatan/kemasan pada suatu penghargaan (dukungan) di belakangnya, tanpa melihat isi subtansi yang di ingin di sampaikan oleh si pengkritik, maka dia akan terlihat salah dan di anggap salah oleh sebagian masyarakat.

Junjung Independensi Kritik dan berusaha Objektif walaupun kita ada di kubu A, B atau C. Semoga kita bisa lebih bijak, dan mengukur segala sesuatunya dari segala kebenaran bukan kesesatan dalam beropini.
Tag : ,

SEPERTI INI ITU

By : kontributor

Pemimpin yang aktif di Medsos akan lebih banyak punya peluang memiliki rasa kepekaan tinggi di banding mereka yang tak aktif atau bahkan tak memiliki medsos. Karena masyarakat yang lebih dominan pada isu-isu terkini dan kritis adalah mereka para netizen (masyarakat dunia maya)

Pemimpin yang aktif di medsos seperti Kang Emil Ridwan Kamil) adalah pemimpin masa kini dan masa depan atau pemimpin yang harusnya ada pada tahun dimana teknologi sudah benar-benar milik semua orang.

"Responsif/tanggap pada setiap keluhan, tidak merasa sensi/alergi dan semua di respon dengan bijak serta di barengi dengan sifat kesabaran sebagai pemimpin dalam menjawab setiap persoalan yang di sampaikan masyarakatnnya”.

Semoga makin banyak pemimpin-pemimpin yang tidak sekedar pencitraan memasang baliho, spanduk besar di jalanan tapi sensi ketika ada keritikan, terlebih Via Medsos, biasanya ketika kritikan atau sindiran itu hadir acount-acount medsos mereka langsung nonaktif.


Semoga langkah Kang Emil yang lebih mengutamakan Medsos dalam mendengar keluhan masyarakat di contoh oleh calon pemimpin-pemimpin lainnya. Semoga.
Tag : ,

TERROR OF ERROR

By : kontributor
Kritis adalah bentuk penyadaran dan koreksi bahwa ada yang harus di ketahui dan di sebarkan agar orang-orang tahu tentang apa yang belum di ketahui, tapi tentu apa yang di sebarkan harus berdasarkan sumber-sumber rujukan media dan fakta, agar apa yang disampaikan juga ada pertanggung jawabkan jadi bukan sekedar membual. Dan media yang jadi rujukan juga adalah media yang memang sudah kredibel bukan abal-abal, ketika kita bernyanyi (mengkritisi) juga ada jaminan yang bisa menjadi dasar sumbernya.

Dalam setiap postingan di momen tertntu Saya tidak akan berhenti untuk menyebarkan/membagi setiap persoalan tentang segala bentuk permasalahn yang terkait dengan isu-isu sosial, sejauh yang saya tahu itu bermanfaat dan sudah ada media yang memberitakan terlebi dahulu, maka saya akan turut serta membagikannya kepada teman-teman semua agar semua saling tahu dan mengetahui. Postingan yang saya buat ini terkait adanya penangkapan salah seorang bernama "Muhamad Arsad" terkait postingan di acount facebooknya yang isunya memajang desain poto porno presiden Jokowi di salah satu group debat politik, kasus Arsad Jelas salah, karna mengandung plecehan terhdap kepala negara dan sifatnya mengada-ada yang tidak ada sumber berita, dan ini bukan sebuah kritis tapi sudah masuk ranah pelecehan terhdap institusi negara, karena Presiden Jokowi jelas sudah jadi presiden Indonesia itu sama artinya yang bersangkutan telah menghina Rakyat Indonesia dan dirinya sendiri.


NAMUN JADI SEBUAH PERTANYAAN ....
Ketika sebuah kasus Plecehan Presiden RI juga pernah terjadi pada waktu yang sudah terlewati. Cerita sebuah kasus desain porno yang di alamatkan kepada presiden sebelumnya yaitu presiden SBY oleh Ausralia, bahkan kasusnya lebih gila dan lebih parah, tapi media maupun polisi Indonesia  tidak terlalu mempermasalahkannya, bahkan salah satu penggiat bloger dan Kaskuser Indonesia pernah berani memajang gambar-gambar tersebut, apakah reaksi polisi langsung bertindak ? TIDAK!. Karna pemerintahan yang sedang berjalan pada waktu itu bukan sedang membangun sebuah transformasi jabatan dan pemerintahan, tapi sdah dalam proses menjalankannya itu artinya peluang mempera peradilkan dan untuk menarik perhatian pemimpin sangat-sangat tipis, tapi mungkinkah kejadian yang menimpa sdr. Arsyad yang tidak terlalu penting ini di blowup untuk sesuatu motif, semoga saja tidak! Kita harapkan mudah-mudahan Polri melakukan hal itu berdasarkan karena adanya sesuatu yang memang di langgar oleh pelaku dan bukan bertindak karena adanya sesuatu yang sedang di cari atau motif tertentu.

Semoga kasus ini menjadi perenungan, bahwa setiap postingan haruslah berdasar tidak sekedar asal, baik gambar maupun tulisan, karena UU IT juga banyak disalah gunakan oleh oknum terntentu untuk menjegal lawan, salah satunya untuk membukam para aktivis dan kritikus di jejaring media, penyalahgunaan UU IT juga kadang di jadikan alat oleh mereka kaum fanatisme ketokohan untuk membungkam teman, lawan, dan pembuat opini yang kritis agr hilang dar peredaran.

Yang menjadi persoalan tadi adalah adanya oknum yang menyalah gunakan UU IT untuk menjadi alat membungkam suatu isu kebenaran namun sensitif dan yang sudah menjadi rahasia umum di publik dunia maya, agar isu-isu sensitif itu hilang. Dan cerita tukang tusuk sate jelas kesalahan ada pada pelaku karena yang bersangkutan memposting suatu fitnah plecehan dengan gambar yang tak etis, tapi ada cerita yang patut kita dukung dan menjadi sesuatu yang mengherankan ketika seorang Prita memposting suatu keluhan akan pelayanan rumah sakit dengan maksud mengkritisi agar pelayanan terbut lebih baik kedepannya yang bersangkutan kemudian di laporkan oleh pihak-pihak yang merasa tersinggung tersebut jelas ini suatu bentuk pelanggaran dan intimidasi, yang bisa sangat-sangat mengancam kebebasan berpendapat bagi yang lainnya.


Semogapula kejadian Tukang Tusuk Sate ini, lagi-lagi tidak menjadi alat pembenaran untuk melegalkan suatu intimidasi atau ancaman pada para kritikus dan para aktivis khususnya keapda para kativis yanga aktif sosmed. Semoga.
Tag : ,

BANGSAT DEMOKRASI

By : kontributor
Aku berdiri menyaksikan wajah-wajah garang menghiasi kursi-kursi dewan atau kekuasanan lainya, garang bukan dalam arti sesungguhnya, garang disini lebih bersifat wajah garang yang dalam artian bahwa mereka sangat berambisi dan haus untuk selalu duduk di atas kursi empuk, memang siapapun yang sudah terlena akan nikmatnya menjadi seorang penguasa paling tidak ke alfaan itu ada, apalagi jika yang terpilih adalah orang-orang pintar dalam hal tender proyek bukan sesuatu yang mustahil jika tanda tangan untuk sebuah bukti pun tak masalah yang penting amplop sudah di tangan.

Ketika satu masa kekuasaan jatuh pada satu manusia yang lebih mementingkan selembar amplop ketimbang sebuah amanah di ujung jari, maka yang terjadi adalah perampokan akan kepercayaan dan maling-maling demokrasi siap berkhianat terhadap konstitusi yang sudah menjadi tempat berteduh bagi rakyat, demokrasi memang mempersilahkan siapapun untuk bisa duduk di atas kekuasaan,  tetapi ketika demokrasi itu salah memilih penguasa maka yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan yang di awali dengan sebuah peraturan yang memetingkan pribadi ketimbang kepentingan hajat hidup orang banyak.

Kekuasaan yang di salah gunakan lambat laun akan membunuh kewajaran, peraturan-peraturan akan di buat sedemikian rupa demi sebuah kalimat tentang “kelanggeungan” dan hajat hidup orang banyak bukan lagi sebuah prioritas untuk di nomor satukan tetapi yang terjadi adalah bahwa kepentingan pribadi adalah dewa terhebat yang membahagiakan diri sendiri dan golongannya.

Banyak sudah sejarah kelam dalam republik ini ketika satu pemimpin menjadi seorang diktator maka kepentingan pribadi menjadi sebuah primadona yang tak boleh di lewatkan, dan dalam kasus seperrti ini Negara seolah memelihara bangsat demokrasi atas nama kepemimpinan walaupun yang sedang memimpin adalah tikus tengik yang menggerogoti kepercayaan rakyat, memang demokrasi adalah pilihan terbaik ketimbang sebuah monarki, tetapi ketika rakyat tidak jeli memilih seorang calon pemimpin darimana  dan bagaimana waktaknya, bersiaplah bahwa peluang untuk mendapatan seorang bangsat demokrasi sangat terbuka lebar, demokrasi bukan memilih kucing dalam karung demokrasi adalah penyampai amanah dari rakyat yang berharap akan adanya sebuah perubahan bukan sebuah kemelaratan.


Demokrasi bukan tempat mencari garong kekusasan, demokrasi bukan tempat untuk mencari orang-orang bejad yang akan duduk di kursi kekuasan, dan dalam sejarahnya demokrasi sedikitpun tidak mempersilahkan maling-maling pengambil kepercayaan rakyat untuk duduk berleha-leha ketika rakyat yang di bawah menderita, tetapi demokrasi menempatkan dan mecari orang-orang yang mau dan rela berkorban untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak bukan golongan atau individu yang menjadi kepantasanya!!!
Tag : ,

Noda Demokrasi dan Harapan

By : kontributor

Indonesia adalah negara majemuk yang memiliki jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia dengan beragam suku dan latar belakang agama. Indonesia adalah penganut jalan kehidupan demokrasi pasca era reformasi.


Indonesia bukanlah negara yang pertama kali menganut sistem demokrasi. Sebelumnya, negara-negara di berbagai kawasan benua seperti Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia telah lebih dulu menggunakan azas demokrasi sebagai hal yang mutlak dan absolut untuk menetapkan serta menampilkan sebuah identitas baru.


Demokrasi adalah penjernih keadaan dari hal yang buntu menjadi berujung. Ia menjadi pengantar hati nurani rakyat yang tersampaikan melalui beragam cara, baik pendapat maupun gagasan. Sugesti yang ditawarkan cukup mempresentasikan keadaan jiwa dari setiap manusia yang sesungguhnya. Ia ibarat oase di padang pasir yang membuat decak kagum bagi mata di antara para penentang anti-demokrasi.


Ketika rezim berkuasa dengan otoritarian, demokrasi muncul sebagai jawaban menuju kebebasan. Rezim tidak akan tenang sebelum api Demokrasi berhenti berkobar karena rezim yang absolutis adalah penganut hukum tunggal yang ingin mengatur segala aspek kehidupan individu. Dari hal yang irasional sampai hal yang rasional, seorang rezim menggunakan nalar berfikir yang diiringi sifat ambisius tanpa menjadikan pengantar isi hati nurani sebagai tumpuan untuk bersandar dalam keadilan. Mengesampingkan segala perasaan dan mengedepankan nafsunya.


Indonesia ibarat sebuah anak kecil dari pasca kelahirannya tahun 1999 menuju dunia berkehidupan yang menganut sistem Demokrasi sebagai “Ibu” dari kepatutan untuk membuat segala bentuk keputusan yang menyangkut kenegaraan. Rakyat diberi kebebasan untuk memilih langsung dari tingkatan Yudikatif, Eksekutif, dan Legislatif. Bahkan, rakyat Indonesia diberi kepatutan untuk memilih para senator (Dewan Perwakilan) yang diinginkannya. Dari tingkatan desa sampai setingkat Gubernur, semua telah terlaksana dengan adanya pilihan langsung dari rakyat.


Namun, dibalik itu semua, bukan tidak mungkin ternyata banyak yang berlomba untuk memperebutkan segala bentuk kursi kekuasaan hanya untuk merasakan panas dinginnya duduk di atas kursi dengan hanya ber-Retorika di depan umum, atau hanya ingin merasakan kewibawaan dan Sakralan dari kursi kekuasaan yang telah dimilikinya hanya untuk sebuah harga diri dan pencitraan saja.


Hari ini atau hari kedepan, jika kita menerawang, rasanya sangat sukar untuk melihat adanya pemimpin yang mengambil atau ikut berlomba untuk berkuasa dengan menjadikan kursi kekuasaan sebagai amanah mengambil kesempatan untuk merubah dari keadaan yang tidak berpihak menjadi berpihak, untuk merubah pola mindset dari yang dilayani menjadi melayani, dan menjadikan kekuasaan yang ada di tangannya untuk sebuah kemaslahatan bagi semua orang. Tentunya, mendedikasikan diri di atas kekuasaan yang mendahulukan kepentingan rakyat yang telah memilihnya, bukan dengan mengekang atau bahkan menghilangkan azas demokrasi yang telah memilihnya untuk menjadi penguasa.

Tag : ,

KEDELAI DAN KELEDAI

By : kontributor
Miris sekali rasanya di negeri yang begitu subur dengan keanekaragaman hasil pangan, lagi-lagi Indonesia harus malu menjadi negara penerima impor kedelai dari negara sekelas Amerika. Ini menjadi ironi di tengah kehidupan rakyat Indonesia yang terkenal sebagai negeri pangan dunia karena program dan keadaan alam yang mendukung, sebagai negeri panggilan penghasil pertanian Asia terbesar.

Dekade era Orde Baru Indonesia dijuluki sebagai negara Macan Asia yang lebih mengarah kepada kebutuhan sandang pangan. Indonesia mampu menjadi swasembada beras, yang meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini menuju puncak kejayaan. Namun, pernahkah kita mengalami kekurangan stok pangan sebanyak saat masa Orde Baru berkuasa?

Indonesia yang kaya akan slogan sebagai negara subur kini menjadi negara ironi di antara yang tak pasti. Ironi sebagai negara makmur yang sering dielu-elukan sebagai negara kaya hasil bumi, namun hasilnya tidak pasti. Kita mengimpor kedelai dari negara superpower seperti Amerika, yang lebih dikenal sebagai negara imperialist dan multiras dalam hal budaya serta negara ekonomi paling maju dalam hal keuangan modern. Namun, semua itu berbalik. Amerika menjadi negara penghasil kedelai yang lebih terkenal daripada kedelai, yang seharusnya merupakan hasil bumi di wilayah tropis seperti Indonesia.

Hanya manusia-manusia bodoh yang mempunyai lahan pertanian yang begitu kaya dan terkenal sebagai negeri sandang pangan, namun tak mampu menjadikan kesempatan dan kebanggaan yang dimiliki untuk benar-benar dibuktikan bahwa apa yang dimiliki cukup untuk menjamin kata tentang ketersediaan dan kesejahteraan bagi pemiliknya dan rakyatnya. Ini menjadi fakta ironi antara kita dan Amerika. Amerika sebagai negara yang terkenal ke arah yang berlawanan, namun ternyata kita (Indonesia) yang terkenal sebagai negara petani, ternyata mengimpor kedelai dari Amerika.

Ketika sebuah negara imperialist seperti Amerika mengalami musim panas, kita menjadi gusar, cemas, dan gelisah karena kita mengandalkan pasokan kedelai dari negara yang bertolak belakang. Kita khawatir ketika pasokan Tempe tersendat karena Amerika sibuk dengan politik perangnya. Apakah kita akan terus mengharapkan pasokan dari Amerika selain persenjataan dan ekonomi?

*Berharap pada Kedelai*
Semoga esok kelak negeri ini tidak sampai parah mengharapkan pasokan yang sudah menjadi hasil dari kedelai tersebut seperti Tempe, Oncom, dan Tahu yang menjadi ciri khas dan urat nadi terakhir masyarakat Indonesia. Semoga pula Kementerian Pertanian, Perdagangan, UKM, dan Bulog serta lembaga lainnya menjadi jembatan bagi petani Indonesia untuk berkembang menjadi lebih baik. Kita berharap pemerintah dapat memberi bantuan kepada para petani kita di masa paceklik kedelai ini agar bisa tetap bertahan. Semoga pula Kementerian dan lembaga tersebut menjadi pembantu ikhlas bagi petani kedelai dan produsen Tempe agar tetap bertahan dalam segala keadaan, terutama di saat kita kekurangan jumlah produksi kedelai sebagai bahan dasar Tempe dan produk sejenis lainnya.

Pemerintah dan birokrasi juga berperan penting dalam nasib para petani. Selain cukong dan tengkulak yang sewenang-wenang menaik-turunkan harga dan memonopoli harga tanpa memperhatikan kebutuhan petani, ada juga pemilik pabrik kecap dan hasil olahan lainnya di luar Tempe. Mereka lebih berorientasi mencari keuntungan dengan memanfaatkan hasil bumi sejenis kedelai untuk hasil olahan sekunder. Bagi kalangan petani dan rakyat kecil lainnya, para cukong, tengkulak, dan antek keuntungan lebih nyaman bertransaksi dengan mereka pemilik pabrik kecap dan hasil olahan lainnya di luar Tempe. Mereka lebih mengkompromikan kelas menengah sebagai penikmat hasil pabrikan, bukan memprioritaskan rakyat penikmat pabrikan kecil seperti Tempe yang menjadi kebutuhan primer bagi rakyat kecil.

Hanya manusia bodoh yang mempermainkan harga kedelai dan mengandalkan kedelai dari Amerika yang bertolak belakang dengan slogannya sebagai negara imperialist. Mari kita berharap agar Indonesia dapat mengakhiri ketergantungan pada impor kedelai dan dapat menjadi negara yang sesungguhnya swasembada.
Tag : ,

- Copyright © salcenter.id - salcente.id - Powered by Blogger - Designed by salcenter -