PARA ANASIR YANG MEMINIMALISIR
By : kontributorMateri yang disiarkan/dibagikan/broadcast secara berulang-ulang, baik berupa potongan video atau tulisan, meskipun kesahihan dari sumber tersebut masih abu-abu atau bahkan tidak jelas, tetap saja menjadi faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat kita. Kita mungkin terdidik dari rangkaian ke engganan untuk menelisik lebih dalam tentang suatu keabsahan informasi.
Benar atau salah, itu selalu menjadi dinomer sekiankan. Yang terpenting adalah video/narasi tersebut menarik, membidik, dan menyerang dengan target mengelabui, mendownkan mental pendukung dari yang berlawanan. Ada yang lupa ataukah memang tidak sengaja menutup mata atau memang buta terbutakan oleh fanatisme yang mungkin saja isi didalamnya terbumbui berbagai rasa. Entah itu rasa ideologi, rasa kebersamaan pernah dalam satu naungan yang tidak berdasarkan ideologi, atau memang ada rasa lain bernama kepentingan kelompok dan golongannya.
Menurut saya, hal ini sangat memprihatinkan. Sebagai masyarakat yang cerdas, kita harus selalu berpikir kritis dan memverifikasi setiap informasi yang kita terima sebelum membagikannya ke orang lain. Kita harus memastikan bahwa informasi yang kita bagikan adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, media sosial dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan informasi yang benar dan akurat, tetapi juga dapat menjadi alat yang sangat berbahaya jika digunakan dengan tidak benar. Oleh karena itu, kita harus selalu berhati-hati dan memastikan bahwa kita menggunakan media sosial dengan bijak.
Dalam hal ini, saya ingin menekankan pentingnya literasi media dan kritis dalam masyarakat kita. Kita harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki akses ke informasi yang benar dan akurat, dan bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memverifikasi informasi tersebut. Kita juga harus memastikan bahwa masyarakat kita memiliki minat baca yang tinggi dan bahwa mereka terus belajar dan berkembang sepanjang hidup mereka.
Dalam hal ini, saya ingin mengajak semua orang untuk menjadi bagian dari solusi. Mari kita semua berkomitmen untuk memerangi hoaks dan informasi palsu, dan untuk memastikan bahwa kita semua menggunakan media sosial dengan bijak. Mari kita semua menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis, dan mari kita semua bekerja sama untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan lebih toleran.
oleh : portalcisaruainstitute
MEMANGGIL SATU TUJUAN
By : kontributor Menjaga Warisan Suci:
Sebuah Panggilan untuk Persatuan Dalam Satu Singgasana
(Penjabaran Sajak)
LEGENDA LANGIT
oleh : salcenter.id
Dalam perjalanan panjang sejarah, kita sering dihadapkan pada momen-momen krusial yang menentukan arah masa depan kita. Sebuah sajak tentang garuda yang mulai renta (Legenda Langit), banteng kecil, dan garuda-garuda lainnya yang saling berhadapan dalam tantangan dan perselisihan menawarkan refleksi mendalam tentang keadaan bangsa kita saat ini. Garuda, simbol kekuatan dan kebijaksanaan, kini tampak lelah dan renta, di antara banteng yang panik dan banteng-banteng lainya yang kelimpungan . Disisi lain, meski dengan bulu rontok garuda, ia tetap terbang gagah, mengajarkan kita pentingnya ketangguhan dan semangat pantang menyerah walaupun berkali-berkali pernah kalah bertarung ia tetap memiliki rasa optimisme mencapai batas-batas kemenangan dalam perjuangan.
Anak banteng kecil, yang dirawat dengan penuh kasih sayang di antara kumpulan banteng angkuh, melambangkan keinginan dan harapan dan masa depan. Garuda, yang bertepi di batu besar sebagai singgasananya, memiliki pandangan jauh ke depan. Ia sadar bahwa dirinya tak lagi mampu terbang sejauh dulu, dan titahnya kini diteruskan oleh keinginan ada sang penerus walaupun mungkin bisa saja diluar golonganya. Singkat waktu pada prosesnya Garuda juga mengasuh anak banteng, mempersiapkannya untuk terbang tinggi di langit biru. Ini menggambarkan pentingnya membimbing generasi muda untuk melanjutkan perjuangan dengan semangat yang sama walaupun ada jurang perbedaan.
Namun, dalam proses yang lebih luas, perselisihan tak terelakkan. Pertanyaan tentang siapa yang akan mengurus sangkar dan singgasana muncul, menciptakan ketegangan. Tetapi, meskipun saling diam dan akrab dalam tujuan yang sama, mereka bersatu dalam menghadapi tantangan. Mungkin pikirnya ketika Garuda akhirnya mangkat, meninggalkan banyak pertanyaan dan tanggung jawab besar kepada penerusnya. Banteng kecil yang sempat di asuh dan telah mendampingi kelak apakah mungkin mampu menjadi penerusnya dan mewujudkan apa yang menjadi impian dari garuda.
Banteng dan garuda yang awalnya meskipun bertengkar, sebenarnya berasal dari satu keturunan yang berkuasa. Konflik di antara mereka mencerminkan perbedaan pandangan dan pendekatan, namun di balik semua itu, mereka bersatu dan bersaudara. Ini mengajarkan kita bahwa dalam keberagaman dan perbedaan, selalu ada benang merah yang mengikat kita sebagai satu kesatuan.
Garuda mungkin telah hilang, namun banteng kecil tumbuh dengan jiwa yang kokoh dan garuda kecil dan banteng kecil lainnya yang legowo. Bersama, mereka menjaga warisan yang suci, yakni negeri ini. Dalam persatuan dan kebersamaan, kita menemukan kekuatan untuk menjaga dan melindungi warisan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulunya.
Sebagai bangsa, kita harus belajar dari simbolisme garuda, banteng, dan bahakn ada penggambaran seperti banteng, dan rajawali (mungkin). Meski ada perbedaan dan perselisihan, kita harus tetap bersatu untuk menjaga warisan yang telah diwariskan kepada generasi selanjutnya. Persatuan adalah kunci untuk menghadapi segala tantangan yang ada di depan. Dengan bersatu, negeri ini akan terjaga, memastikan bahwa nilai-nilai luhur dan suci tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Di tengah tantangan dan perbedaan, mari kita jadikan kisah garuda, banteng, dan pelaku lain dalam lakon sebagai inspirasi untuk terus bersatu dan bekerja sama. Kita semua memiliki peran penting dalam menjaga dan merawat negeri ini. Bersama, kita bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik, penuh dengan harapan dan kebanggaan. Mari kita jaga warisan yang suci ini dengan semangat persatuan, kebersamaan diantara perbedaan pada akhirnya akan sama ketika sama-sama duduk dalam satu singgasana kekuasaan jika memang di awal adalah harapan mulia untuk menjayakan bangsa dan mensejahterakan rakyat di bawahnya dan bukan golonganya.
Puncak Bogor | 2 Januari 2024
LEGENDA LANGIT
By : kontributorBUNDA, BENDERANYA PUSAKA
By : kontributorPernah kita mendengar merah dan putih terpisah dirajut disatukan menjadi satu, jaman sebelum kita yang disini, saat ini membaca terlahir kedunia. Mungkin, ada banyak tafsir tentang warna pada waktu itu, sekalipun hanya berisikan dua warna menyambung jadi satu kibaran merah putih diantara barisan-barisan tubuh lusuh tanpa pernah mengeluh, ditengah lapangan atau diantara parit dengan teriakan merdeka-merdeka..
Mereka pemberontak!
Bagi tamu asing yang berkuasa, memenjarakan pribumi dengan dalih perlawanan pada penguasa. Ya! Penguasa masa itu berbaju putih menunggang kuda-kuda atau kuda besi pembawa mesiu yang siap dikokang kapan saja. Sang asing yang datang dari negeri berkecamuk peperangan singgah di Nusantara, mengadu domba perang saudara.
Ada banyak darah dan sisa tulang berserakan, leluhur kita disiksa, ditikam, dan dihabisi hingga mati. Berkeringat, perih mata mengedip, kulit yang teramat licin, otot yang sudah mungkin ribuan kali kram, memanggul bambu-bambu yang runcing, berlari-lari teriak seraya memekikkan lafadz takbir. Bangsa mana yang mau diperintah dan dijajah?
Duaaar....
Meriam meletus
di atas bukit koloni, sawah becek jadi arena perebutan kemenangan, pejuang
berteriak lantang, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Amarah itu sudah
memuncak, takut pun tak terpikirkan, ingin mati sudah pasti daripada pasrah
terjajah. Satu tekad melawan tanpa pertahanan, merebut merdeka berdaulat.
Di sebuah rumah menerawang ke halaman atau alun-alun kota, gemerlap itu belum terlihat dan terdengar, tapi sulaman bendera telah disiapkan. Bunda Fatma merajut, menyulam, dan menjahit jadi satu dengan ukuran dua kali tiga meter di sebuah ruang makan. Kala itu, Bunda Fatma mengandung sembilan bulan. Bunda dengan teliti dan hati-hati merapikan kain yang pada waktu itu serba terbatas. Berurai air mata, Bunda Fatma menjahit menyulam bendera, menangis menahan sesaknya rasa sakit. Bagaimana fase mencapai kemerdekaan harus banyak jiwa dikorbankan.
Dua hari Bunda Fatma bekerja keras menyelesaikan, di tengah kehamilannya yang sudah sembilan bulan. Tangannya masih saja menari-nari, matanya serius memandang setiap kaitan benang merapatkan barisan sulaman. Ini seperti filosofi bagaimana saling mengaitkan bersama sejajar akan saling menguatkan.
Bunda bahagia, ini bukan perkara karya tapi proses mengenalkan identitas bangsa. Sekian ratusan tahun akhirnya kita tahu bahwa merah dan putih jadi benderanya Indonesia. Hadir berkibar di deklarasi proklamasi.
Bengkulu menyemaikan sejarah Indonesia. Sebuah bendera lahir dari tangan seorang wanita, istri dari pada yang akhirnya menjadi sang proklamator. Setelah masa keterasingan, Bunda menorehkan sejarah pusaka. Benar! Sebuah bendera yang hanya miliki dua warna, namun saktinya mampu menyatukan Nusantara.
ASING JADI BISING
By : adminpenulisDisclaimer! Penulis bukan bagian dari pendukung salah satu Bacapres/Capres
SENJA DI KALI CIESEK
By : kontributorAda canda yang membuatku ingat, ketika kita duduk disenja sore hari. Rambut terurai harum tercium dengan keadaan kita yang semakin terbuai suasana. Wajahmu memerah ketika gelak tawa, ada asa seperti yang sudah lama di nanti-nanti.
Aku tak punya kuasa menolak ketika senda gurau itu datang, karena inilah momen yang mengisi kekosongan kita selama dari ketiadaan kita tidak bertemu yang cukup lama. Ketika padangan itu datang aku yang justru tersipu malu, entah mengapa aku menunduk tiada untaian kata selain merasa bahwa hari itu indah.
Saat itu gerimis mulai turun, angin menerpa tubuh yang terasa dingin ini, aku butuh peluk tidak hanya kamu, aku butuh dekapan tidak hanya sekedar berdekatan. Aku pikir kita sedang di mabuk cinta percintaan dimana pikiran terasa goyang oleh godaan.
Kala terang alam redup berganti menuju malam kita beranjak, bergeser meninggalkan tempat yang hari ini menjadi pelengkap coretan dan cerita. Aku masih ingat kita berdua bersenja-senja disore hari di pinggir kali Ci Esek Cisarua.
Dulu kita tidak sedekat ini, satu untaian satu kehidupan, bahkan tak pernah terbayang untuk merajut kebersamaan. Aku rasa ini sudah takdir, walaupun prosesnya getir. Kita maklumi tiap perjalanan manusia tak ada yang sama, namun bukan berarti tak satu tujuan.
Jika teringat dimasa kita merajut asmara, ada senyum dan pedih ketika pikiran terpancing ke masa lalu. Seperti inilah bumbu dari kehidupan setiap orang. Mungkin! semua memiliki kisah dimasa pencarian, tentang pelabuhan hati dan sandaran dan bukan sekedar keinginan.
-puncakbogor 2011-
OPINI DAN MORALITAS
By : kontributorAda batas waktu; pagi berakhir
siang, siang berakhir sore, sore berakhir malam, dan akhirnya malam pun kembali
berakhir menjadi pagi.
Tak ada generasi yang
menginginkan generasi selanjutnya menjalani kehidupan dengan berbagai hiperbola
yang mengandung umpatan merendahkan, terlebih umpatan tersebut terucap dari
manusia-manusia terpilih yang menjadi pusat perhatian.
Kita adalah manusia Timur, dengan
adat budaya dan agama yang menjunjung tinggi bagaimana menempatkan kesakralan
dalam penghormatan lintas kehidupan. Kita sepakat bahwa azas-azas penghormatan
bukan berarti harus mengkultuskan. Keberadaban adalah ketika kita mampu menjaga
dan menempatkan setiap yang ada pada tempatnya hingga bisa diwariskan kepada
yang selanjutnya.
Ungkapan yang berhiperbola lebih
dari konteks memiliki konsekuensi yang berbeda tergantung siapa yang
menarasikan. Jika yang menarasikan adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki
jangkauan pengaruh, ungkapan tersebut memiliki 'sense' biasa saja. Namun,
narasi yang disampaikan oleh satu manusia dengan pengaruh luar biasa memiliki
implikasi yang juga luar biasa.
Side effect tiru-meniru terjadi
tidak hanya pada ruang privat tapi juga pada kehidupan publik. Hal ini
melunturkan keberadaban, mengikis rasa toleransi atau penghormatan, bahkan
puncaknya bisa saja membiaskan dogma-dogma agama yang mengajarkan tentang etika
kesantunan. Kita tidak ingin melihat kesemrawutan manusia dengan kehidupan
liar.
Sentimentil menjadi biasa,
ungkapan yang tidak lagi mengarah pada kapasitas tapi lebih ke personal dapat
membawa tatanan keadaban kita sebagai manusia menjadi lebih buruk. Bahkan lebih
dari itu, hal ini membunuh kebiasaan rasa batas kita sebagai manusia, merusak
dan merobek-robek nalar hingga bisa berakhir pada puncaknya meniadakan kita
dalam cara berpandangan realita sebagai manusia yang harus mengakui keberagaman
perbedaan.
Kita sadar bahwa kritik harus
pada tempat dan konsepnya. Mengkritisi akan terlihat elegan jika memiliki dasar
yang jelas. Namun sekali lagi, bukan berarti narasi yang membabi buta dengan
kandungan diksi-diksi kebencian yang teramat memilukan bisa berdampak rusaknya
moral kita sebagai manusia diikuti. Kita pun perlu otokritik sebagai pondasi
dasar adanya usaha dan cara bagaimana membenahi diri kita sebelum bernarasi
tentang yang lain.
Menakar kritik adalah respon dari
suatu penilaian yang objektif, bukan subjektif, logis, dan mampu diterima oleh
setiap orang. Respon itu memang layak diberikan terhadap suatu keadaan yang
dianggap bisa melahirkan potensi sebab-akibat pada suatu masalah.
Tidak ada yang aneh bahwa
kebebasan berekspresi harus dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan batas
kita dalam berperilaku dan berperikemanusiaan. Kebebasan merupakan fase dari
rasa bebas dengan memberikan ruang-ruang penghormatan. Pada akhirnya, kebebasan
itu tercipta; kebebasan lahir dari rahim penghormatan yang bersifat ekspresif
dengan segala bentuk ekspresinya.
Kebebasan harus tetap menempatkan
kemuliaan. Kemuliaan di sini adalah penghormatan pada terciptanya rasa bebas.
Jika rasa bebas diperjuangkan tapi tidak melihat konteks batas-batas, maka itu
bukan sebuah kebebasan. Ada tanggung jawab, ada konsekuensi, ada etika. Ketika
keinginan kebebasan yang diagungkan haruslah tanpa memasung hak yang menentang
kebebasan itu sendiri. Tapi itulah realita bahwa keinginan harus menghormati
dari yang tidak menginginkan. Kita adalah entitas manusia yang memiliki peran
berpikir.
Bebas bukan selalu berarti
demokrasi tanpa konsekuensi dan sebuah kebebasan yang benar-benar bebas. Jika
satu pihak memperjuangkan tentang sebuah sistem kehidupan yang
demokratis/bebas, maka pihak ini pun harus menghormati kaidah-kaidah aturan
yang diberikan/dibuat dari yang menentang (pro-demokrasi harus menghormati
anti-demokrasi). Jika sudah saling memahami maka akan timbul saling
penghormatan. Dalam prosesnya, rasa penghormatan yang tercipta ini secara tidak
langsung akan menciptakan sebuah proses dan tatanan lain yang artinya ada
batas-batas tertentu tanpa harus menimbulkan pergeseran atau friksi yang justru
bersifat paradoks.
Kembali pada konteks tentang
sikap ekspresi, opini, atau pendapat, maka titik temu dari perjalanan narasi
ini adalah bahwa kebebasan beretorika harus siap dengan suatu konsekuensi.
Konsekuensi itu harus diterima dan menghormati kebebasan dalam persoalan adanya
pertentangan lain. Satu dengan kebebasan, satu lagi dengan alibi kebebasan untuk
tetap memelihara aturan dan batasan.
EMPATI TERBELI
By : kontributorTAK BERMODAL
By : kontributorPanggung gratis di pinggir jalan
tersenyum lebar berpeci hitam
beragam fose tanganpun diekspresikan
semata-mata cuma iklan jalanan
Apapun rupa warna rumahmu
seperti apapun misimu tetap tak enak
dipandang karena yang terpampang
hanya pencitraan
Sepertinya mereka hanya butuh panggung
panggung untuk sandiwara
di lima tahun sekali, mengabdi hanya untuk diam diri
tanpa celoteh mengoceh perjuangkan aspirasi
Kasihan sekali mereka
seperti pengemis jalanan, meminta empati ditengah keramaian. Ini bukan lelucon, ini serius, mereka penjaja suara untuk duduk disingasana.
Singgasana empuk yang banyak todongan kanan dan kiri, sekali duduk bisa terlelap, bermimpi dalam kemegahan diantara penderitaan rakyat yang sedang kelaparan.
Lihatlah pohon,
dimana disebrangnya ada tiang listrik
ini adalah mangsa dari pada badut-badut
yang haus kursi.
Lihatlah pos dan mushola
atau bahkan sekolah-sekolah
inipun mangsa dari pada yang sedang mencari kekuasaan
Bagi mereka,
setiap tempat adalah aset, untuk mengeruk dan mendulang suara, biar kata rusak yang penting jadi alat, alat peraga dan propaganda.



.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
