SERING DIBACA

OPINI DAN MORALITAS

By : kontributor

Ada batas waktu; pagi berakhir siang, siang berakhir sore, sore berakhir malam, dan akhirnya malam pun kembali berakhir menjadi pagi.

 

Tak ada generasi yang menginginkan generasi selanjutnya menjalani kehidupan dengan berbagai hiperbola yang mengandung umpatan merendahkan, terlebih umpatan tersebut terucap dari manusia-manusia terpilih yang menjadi pusat perhatian.

 

Kita adalah manusia Timur, dengan adat budaya dan agama yang menjunjung tinggi bagaimana menempatkan kesakralan dalam penghormatan lintas kehidupan. Kita sepakat bahwa azas-azas penghormatan bukan berarti harus mengkultuskan. Keberadaban adalah ketika kita mampu menjaga dan menempatkan setiap yang ada pada tempatnya hingga bisa diwariskan kepada yang selanjutnya.

 

Ungkapan yang berhiperbola lebih dari konteks memiliki konsekuensi yang berbeda tergantung siapa yang menarasikan. Jika yang menarasikan adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki jangkauan pengaruh, ungkapan tersebut memiliki 'sense' biasa saja. Namun, narasi yang disampaikan oleh satu manusia dengan pengaruh luar biasa memiliki implikasi yang juga luar biasa.

 

Side effect tiru-meniru terjadi tidak hanya pada ruang privat tapi juga pada kehidupan publik. Hal ini melunturkan keberadaban, mengikis rasa toleransi atau penghormatan, bahkan puncaknya bisa saja membiaskan dogma-dogma agama yang mengajarkan tentang etika kesantunan. Kita tidak ingin melihat kesemrawutan manusia dengan kehidupan liar.

 

Sentimentil menjadi biasa, ungkapan yang tidak lagi mengarah pada kapasitas tapi lebih ke personal dapat membawa tatanan keadaban kita sebagai manusia menjadi lebih buruk. Bahkan lebih dari itu, hal ini membunuh kebiasaan rasa batas kita sebagai manusia, merusak dan merobek-robek nalar hingga bisa berakhir pada puncaknya meniadakan kita dalam cara berpandangan realita sebagai manusia yang harus mengakui keberagaman perbedaan.

 

Kita sadar bahwa kritik harus pada tempat dan konsepnya. Mengkritisi akan terlihat elegan jika memiliki dasar yang jelas. Namun sekali lagi, bukan berarti narasi yang membabi buta dengan kandungan diksi-diksi kebencian yang teramat memilukan bisa berdampak rusaknya moral kita sebagai manusia diikuti. Kita pun perlu otokritik sebagai pondasi dasar adanya usaha dan cara bagaimana membenahi diri kita sebelum bernarasi tentang yang lain.

 

Menakar kritik adalah respon dari suatu penilaian yang objektif, bukan subjektif, logis, dan mampu diterima oleh setiap orang. Respon itu memang layak diberikan terhadap suatu keadaan yang dianggap bisa melahirkan potensi sebab-akibat pada suatu masalah.

 

Tidak ada yang aneh bahwa kebebasan berekspresi harus dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan batas kita dalam berperilaku dan berperikemanusiaan. Kebebasan merupakan fase dari rasa bebas dengan memberikan ruang-ruang penghormatan. Pada akhirnya, kebebasan itu tercipta; kebebasan lahir dari rahim penghormatan yang bersifat ekspresif dengan segala bentuk ekspresinya.

 

Kebebasan harus tetap menempatkan kemuliaan. Kemuliaan di sini adalah penghormatan pada terciptanya rasa bebas. Jika rasa bebas diperjuangkan tapi tidak melihat konteks batas-batas, maka itu bukan sebuah kebebasan. Ada tanggung jawab, ada konsekuensi, ada etika. Ketika keinginan kebebasan yang diagungkan haruslah tanpa memasung hak yang menentang kebebasan itu sendiri. Tapi itulah realita bahwa keinginan harus menghormati dari yang tidak menginginkan. Kita adalah entitas manusia yang memiliki peran berpikir.

 

Bebas bukan selalu berarti demokrasi tanpa konsekuensi dan sebuah kebebasan yang benar-benar bebas. Jika satu pihak memperjuangkan tentang sebuah sistem kehidupan yang demokratis/bebas, maka pihak ini pun harus menghormati kaidah-kaidah aturan yang diberikan/dibuat dari yang menentang (pro-demokrasi harus menghormati anti-demokrasi). Jika sudah saling memahami maka akan timbul saling penghormatan. Dalam prosesnya, rasa penghormatan yang tercipta ini secara tidak langsung akan menciptakan sebuah proses dan tatanan lain yang artinya ada batas-batas tertentu tanpa harus menimbulkan pergeseran atau friksi yang justru bersifat paradoks.

 

Kembali pada konteks tentang sikap ekspresi, opini, atau pendapat, maka titik temu dari perjalanan narasi ini adalah bahwa kebebasan beretorika harus siap dengan suatu konsekuensi. Konsekuensi itu harus diterima dan menghormati kebebasan dalam persoalan adanya pertentangan lain. Satu dengan kebebasan, satu lagi dengan alibi kebebasan untuk tetap memelihara aturan dan batasan.


Tag : ,

EMPATI TERBELI

By : kontributor

Jika riwayat telah banyak terbaca 
ada diantaranya berurai air mata 
dari satu tempat, tempat dimana bisa saja berakhir 
kamu, aku dan kita semua 
Hentikan!

Perlu memberi ruang jeda 
antara hati dan pikiran seimbang
bukan tentang nilai uang 
tapi ini sebab kemanusiaan karena empati yang bernilai kertas tidak akan pernah bebas
ia berkisah dan berkeluh kesah

Jangan terbungkam, bersuaralah karena itu mahal 
jangan tergadai oleh lembaran warna
karena yang tergadai terbatas suara

Luruslah melangkah dan terarah
walaupun dekat dengan cacian
karena yang yakin takkan tergoyahkan
lihatlah kedepan terlintas gambaran 
sementara yang tidak diam tak bercerita

Jangan biarkan sebelum "itu" terjadi dan tetap tuli
karena yang sudah takkan kembali
jangan tunggu tangis barulah kita merangkai alur tema
sebab ketiadaan hanya jadi penyesalan

Bayangkan dirimu 
berdiri atau sedang bersenda gurau 
menikmati secangkir kopi dikeramaian jalanan 
jalanan yang bermemori jiwa-jiwa yang mati

Sebentar dan secepatnya 
tinggalah nama jadi berita 
tinggalah sesak sakit teteskan air mata
ketika tahu sudah jadi bagian diantara mereka. 

Lalu-berlalu menyambung kembali
jadi pembicaraan dan mempertanyakan
dari orang-orang yang akan datang dimasa nanti

Sebab tempat ini apa 
dan bagaimana
kenapa berubah dan berulah 

Jengah!
dikorban ditumbalkan di permainkan
Empati terbeli

Mereka yang lebih dulu mangkat 
mereka yang terlalu singkat 
hinggalah kitalah yang ada untuk saling mengingat

-puncakbogor, 5/8/2023-
Tag : ,

TAK BERMODAL

By : kontributor


Panggung gratis di pinggir jalan 

tersenyum lebar berpeci hitam 

beragam fose tanganpun diekspresikan

semata-mata cuma iklan jalanan


Apapun rupa warna rumahmu 

seperti apapun misimu tetap tak enak 

dipandang karena yang terpampang

hanya pencitraan



Sepertinya mereka hanya butuh panggung 

panggung untuk sandiwara 

di lima tahun sekali, mengabdi hanya untuk diam diri

tanpa celoteh mengoceh perjuangkan aspirasi



Kasihan sekali mereka

seperti pengemis jalanan, meminta empati ditengah keramaian. Ini bukan lelucon, ini serius, mereka penjaja suara untuk duduk disingasana.


Singgasana empuk yang banyak todongan kanan dan kiri, sekali duduk bisa terlelap, bermimpi dalam kemegahan diantara penderitaan rakyat yang sedang kelaparan.


Lihatlah pohon, 

dimana disebrangnya ada tiang listrik 

ini adalah mangsa dari pada badut-badut 

yang haus kursi. 


Lihatlah pos dan mushola 

atau bahkan sekolah-sekolah

inipun mangsa dari pada yang sedang mencari kekuasaan


Bagi mereka, 

setiap tempat adalah aset, untuk mengeruk dan mendulang suara, biar kata rusak yang penting jadi alat, alat peraga dan propaganda.

Tag : ,

DIAM / TINGGAL NAMA

By : kontributor

 

 

 



Kota Hujan dulu lembab

oleh air yang menetes tanpa mengenal musim

seperti dadaunan yang senantiasa tak pernah merasakan kering diantara gunung menghijau tanpa terlihat warna lain seperti merah dan coklat

 

Kini, alih berubah begitu cepat

tuan tanah dadakan muncul dimana-mana

begitupun “sang tuan” pemegang kebijakan

duduk manis tenang tanpa harus keheran-heranan

 

Sang tuan sebelumnya pernah duduk dikursi 

disebuah resto, bertemu tamu bersalam senyum meninggalkan satu bungkusan

tak ada yang tahu jika yang dibungkus bisa buat terbungkam dan tergadaikan

 

Rusak-rusak sudah..

tinggal menunggu tangis pilu

tinggal merah yang tertinggal mengganti dari yang tiada warna, tinggal amarah benci dari yang masih bernafas sentara yang bernafaspun hari ini diam

 

Biarkan kering karena disengaja seperti nampak sahara nantinya, jangan ada yang bersikukuh jika tak bisa menuduh tuan tanah kapanpun bisa datang jika ada teriakan lantang

 

Diamlah dan nikmati

pandangan yang tak nyaman harus dikata

ini jamannnya, ini eranya, sudah waktunya

jangan cuma teriak, jangan berisik!

ini soal isi perut, jangan mengusik jadi diam saja atau nanti pulang tinggal nama

 

 

 

 

 

Tag : ,

TERGERUS & PUDAR

By : kontributor


Payu sudah tak laku, masih coba mengais sisa dimasa lalu, kejayaan ada masanya, tidak bisa disambung dirajut kembali, sebab yang ditumpahkan adalah noda. Jangan pernah melangkah jika kiasan "ada udang dibalik batu" masih tertulis.


Jika berharap melihat kursi duduk kembali lagi, yang diharapkan sudah tentu tahu takaran, kapan dimana. Ingat, bangkai yang tersingkap baunya sudah teramat busuk lalu tangan mana yang mau menyempurnakan kembali, keinginan itu hanya impian semu, lepaskan saja apa yang dikejar biar terasa wajar.


Pudar-pudar sudah, terasing terombang ambing di samudra, berkhayal tentang adanya gunung sembari menapaki menjajaki dan bermegah dalam istana baru, sebelum pergimu selamanya menyapa, peribahasa gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang telah nampak dimulai dari sekarang.


Jangan pernah seperti pungguk merindukan bulan, sudah tentu tak akan sampai di ujung pencarian, semua akan percuma hanya menambah beban saja. Baiknya habiskan, waktunya generasi meniti tersenyum agar lebih bijak dilihatnya. 


Akhiri sudah! semua telah usai, sudah menjadi kekadungan yang tak kan pernah menjadi kebangkitan, berlabuhlah dengan sekoci atau sampan kecil diantara hamparan, biarkan air membawamu, dan jangan tatap langi, itu hanya akan membawa rasa kecewa, matikan ambisimu redupkan dengan cahaya ilahi. Ingat, warnamu telah menjadi hitam legam yang tak pernah bisa lagi tercerahkan. 


Jika nalar yang rasional, cukupkan dan katakan bahwa singgasana telah berakhir dan bergeser, waktunya ketenangan adalah keakuan batas kekurangan.


Jakarta, 26 Juli 2023

Tag : ,

GADOG DIPERSIMPANGAN

By : kontributor


Gadog

Dirimu berbeda saat ini, lebih dulu ada sebelum kelahiranku, wajahmu terlihat kusam kusut saat ini diantara banyaknya sepanduk yang menjadi selendang tak berirama. Kamu terkenal dulu hingga saat ini tapi rupa-mu nampak tak wajar, ada kewibawaan yang memudar ada ilustrasi yang menjadi pembenaran bahwa sekarang siapa didalamnya, kenapa pemangkumu diam ketika jubahmu berubah, mungkinkah mereka bimbang ?


Gadog

Semakin sempit bercabang menumpuk, membagi tempat jadi dua, diantara cabang yang terbelah ada kehidupan yang sama satu adat dan pemahaman, terpenjara realita ketidakpastian.


Gadog

Ketika kulewat, berdiri kokoh menjulang melawan arus dari kebiasaan yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Bukan perkara kita menyingung spiritualitas tapi ini simbol, "itu" menjadi penanda kamu ada dimana dengan siapa adakah yang disembunyikan.


Gadog

Tetap hadir jadi diskusi, penambah semarak obrolan warung kopi. Gadog,  seribu bahasa acuh tak peduli, biar pasti tapi tak pasti arahnya cukup berkabut, tanpa konsep dan bersolek gadog tetaplah gadog, gadog seperti dipersimpangan jalan, muram dan berkabut, yang jika terbiarkan saat ini bisa datang mewarisi hilangnya sisi jati diri, gadog nasibmu kini



puncakbogor, 18/7/2023

Tag : ,

MUNGKINKAH DIA DATANG

By : kontributor
[Image Ilustrasi Google]

Kunjungan Tak Sengaja ke Bukit Karang Hau
-True Story-

Tiga tahun lalu, setelah berziarah ke makam orang tua di Kampung Pangkalan, Nagrak, Sukabumi, pada sore hari saat beranjak pulang, saya tiba-tiba terpikir, "Sepertinya mantai malam-malam sambil ngopi enak nih." Lalu, saya berangkat ke pantai. Karena kondisi macet dan lain hal, saya tiba di Pelabuhan Ratu sekitar pukul 10 malam. Tanpa berpikir lama, saya langsung mencari warung yang bisa digunakan untuk menginap sambil menikmati kopi. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.30 malam.


Karena tidak adanya dukungan keamanan parkir motor, kami bergeser ke dekat Karang Hawu. Pada akhirnya, kesempatan tersebut menjadi momen eksplorasi. Sayang seribu kali sayang, saudara sudah kadung ngantuk. Kami mendapatkan tempat beristirahat tepat di bawah Karang Hawu dengan pemandangan yang menghadap langsung ke karang di bibir pantai. Saudara saya akhirnya tidur sementara saya belum ngantuk. Ketiga saudara yang mengantar sudah benar-benar pulas, tidur terbuai mimpi oleh desiran dan kenikmatan bermalam di tepi pantai. Saya masih terjaga dan tiba-tiba muncul keinginan untuk masuk lebih jauh ke perbukitan bagian atas Karang Hawu.


Sesampainya di atas, saya mampir ke batu kursi raja yang menempel di antara curamnya tebing dan area makam Nyi Roro Kidul. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 12 malam atau setengah satu.


Di dalam area kompleks pemakaman, ternyata suasana ramai. Tidak terpikir sebelumnya, di luar terlihat menyeramkan, tetapi ketika sudah masuk ke kompleks tersebut, suasananya ramai. Di dalam area kompleks ada masjid besar. Tidak seperti isu yang merebak bahwa ini tempat pemujaan, ternyata di dalam area kompleks sangat jauh berbeda. Suasananya layaknya tempat ziarah ke para wali, terlihat ada yang sedang mengaji dan melantunkan sholawat di masjid yang langsung bersentuhan dengan makam-makam tersebut.


Singkat cerita, saya melihat ada banyak peziarah bahkan datang dari seberang Sumatra. Ada beberapa makam dengan nama berbeda, masing-masing makam memiliki area atau ruangan khususnya. Di antara makam-makam ini memiliki nama, di antaranya:

- Sinuhun Eyang Rembang Sancang Manggala

- Sinuhun Eyang Rendra Kusuma

- Sinuhun Eyang Jalakmatika

- Raden Syach Hasan Ali

- Nyimas Dewi Roro Kidul

- Ibu Ratu Mayangsari Nagasari


Penasaran, saya berusaha bertemu kuncen (juru kunci). Ternyata ada banyak kuncen di sana. Saya mencari kuncen yang memang memiliki riwayat detail terkait lokasi tersebut dengan memancing obrolan yang lebih dalam. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya diperbolehkan masuk, bukan saja dipersilahkan, tetapi lebih istimewanya saya diberikan kesempatan untuk masuk ke makam inti (Makam Nyai Roro Kidul). Izin itu didapat malam-malam yang sangat sulit. Entah kenapa, dalam diskusi dengan kuncen senior ini, seakan terdiam sejenak dan tiba-tiba berucap, "Akang dipersilakan untuk masuk ke makam Nyai."


Kesempatan itu tidak disia-siakan. Tanpa melalui makam-makam yang lainnya, saya langsung menuju makam inti Nyai Roro Kidul. Sendirian, waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 lebih, saya masuk ke ruang makam Nyai Roro Kidul. Suasananya berbeda, lebih terasa ada vibrasi lain. Dalam ruangan hanya ada satu makam dengan nuansa cat hijau dan terdapat pernak-pernik layaknya kerajaan. Sendirian sambil memegang kamera, kuncen menutup pintu. Saya berada di dalam sendiri. Rasa takut itu manusiawi, tetapi tidak begitu besar karena niat dan tujuan saya positif, yaitu eksplorasi dan dokumentasi. Saya berusaha maksimal mengambil detail video. Ada wejangan agar tidak duduk di dua kursi yang mirip kursi raja. Saya berusaha menjaga adab selama dalam ruangan makam tersebut.


Di dalam ruangan, terdapat beberapa foto, termasuk foto atau lukisan yang dipercaya sebagai lukisan ratu, ada juga lukisan Prabu Siliwangi dan foto Soekarno. Setelah mengambil dokumentasi, saya mengambil inisiatif duduk di samping makam, mengirim Al-Fatihah dan doa kubur. Selama membacakan doa, saya merasa ada getaran yang tidak biasa, seperti merasakan kehadiran astral. Saya tetap berpikir positif sampai akhirnya keluar malam dan melanjutkan eksplorasi makam selanjutnya.


Singkat cerita lagi, saya berbincang dengan kuncen makam tadi. Beliau mengeluhkan dan menyayangkan framing cerita yang tidak sepenuhnya benar. Framing tersebut diperkuat oleh adanya film yang berdampak buruk terhadap tempat tersebut. Bahkan, ada oknum kuncen yang menyalahgunakan tempat tersebut di luar kewajaran. Menurutnya, kondisi demikian ini sudah tidak bisa dibendung, karena lebih banyak kuncen yang azas manfaat daripada kuncen yang sebenarnya mengantarkan orang hanya sekadar berziarah.


Kuncen berkata bahwa sebenarnya memang ada tempat pemujaan, tetapi di bukit sebelahnya, jaraknya kurang lebih 500 meter ada sebuah makam yang memang menjadi tempat pemujaan. Karena terlalu dekat dengan kompleks makam di Karang Hawu, menjadi tercoreng. Lebih lanjut, kuncen mengatakan bahwa diperparah dengan adanya lelaku ritual mandi di bawah kubangan air atau biasa dikenal dengan 7 sumur.


Waktu sudah menunjukkan pagi, langit mulai berwarna jingga, cahaya di ujung timur mulai terlihat sementara saya masih asyik berbincang dengan kuncen. Saya pun bercerita bahwa selama di dalam, saat saya mendoakan Fulan, ada kondisi tidak biasa. Beliau (kuncen) menimpali, "Akang diterima hadir di sini, nanti silakan saja katanya."


Berminggu-minggu dan berbulan-bulan saya menjalani rutinitas seperti biasa. Kebetulan, jika bicara bunga Wijaya Kusuma di rumah juga ada. Tetapi, pernah ada satu malam di atas jam satu, ketika duduk ngopi sambil bermain HP, ada suasana berbeda yang tiba-tiba muncul pada malam Senin. Selain suasana berbeda, ada sekilas disertai angin yang cukup besar, seperti gambaran sosok perempuan dengan busana hijau, cantik, dan rambut panjang. Dalam pandangan samar itu, hanya diam memandang, seakan komunikasi tanpa ucapan kata. Ini seperti antara ucapan hati ke hati. Saya berpikir siapapun yang datang itu adalah jin. Jin yang mungkin saja pendamping Fulan bin Fulan selama dia hidup.


Cerita begitu saja berakhir tanpa berlanjut sampai sekarang. Namun, getaran untuk datang ke sana terasa kuat. Saya berusaha menghindari karena stereotip negatif terhadap tempat tersebut.


Hablum Minnal Yakin, Allah menciptakan beragam makhluk dengan pengabdian dan fungsinya dalam menjalani kehidupan slama hidup didunia dan dimensi disampingnya, Jadi, saya menganggapnya sebagai bunga kehidupan. Wallahualam.

Tag : ,

DEMANG BERSELERA

By : kontributor

Tuan Demang baru telah duduk, bertahta jaminan hari tua, tiga puluh hari sudah tentu pasti, penyambung hidupnya makin menumpuk dari kanan dan kiri. 


Tuan Demang sebelumnya tuan biasa, meyakinkan dan menjanjikan, awal yang familiar dan terlihat akrab ramah dan pandai bermatamoforgana, sering terlihat bersama para resi dipikir dan dikira cukuplah ia bagian yang mengerti.


Sudah terlalu, dan semakin berserakan, satu tempat yang dulu indah dimasa dan sebelum Tuan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwe seorang petinggi Belanda yang ikut andil menata terlepas kekejaman diperiodenya.


Tuan Demang apakah gila hormat, apakah itu hanya intrik sebelum tuan menjadi seorang Demang, tuan kini terasa angkuh. Oh ya aku orang biasa, bagi tuan waktu berharga adalah berkompromi dengan yang punya kuasa dan harta. Tuan sumringah terlukiskan kamera diantara seremonial kolonial. Padahal isi didalamnya rekayasa dan pengarang hidup dunia, Tuan hanya sedang menanti dan mencari-cari sebab apa yang dibutuhkan saat ini sebatas perkaya diri. Tuan Demang tak jauh disebut kacung, pagar betis para penguasa, jongosnya abdi para petinggi  


Entah mimpi apa yang dibawa setelah tuan menjadi Demang, satupun suram untuk dilihat, bias dalam mengemas, semuanya sama dalam ksemrautan. Tak ada penanda tak ada beda, hanya congkak yang dirasa tapi semoga tuan bukan Mafia.

Tag : ,

PERSPEKTIF BAHAGIA

By : kontributor


Bahagia itu tidak ada. Kalimat atau ungkapan bahagia datang dari kekurangan manusia yang tidak pernah menemukan keselarasan hidup. Orang kota berkata bahagia menjadi orang kampung, sebaliknya orang kampung akan berkata bahagianya menjadi orang kota.

 

Bahagia itu tidak ada. "Ia" ada karena dicari dan dicari-cari pembenarannya, ada dari sebuah ketiadaan atau kekosongan hidup. Sekaya apa pun dan semiskin apa pun, kalimat "bahagia" akan selalu terucap di antara manusia.

 

Penulis tidak akan mencatut rujukan berbagai sumber ahli untuk mengurai apa makna bahagia dalam berbagai perspektif. Ini murni dasar dari sebuah pikiran pribadi untuk menyampaikan apa itu bahagia. Tulisan sengaja dibuat untuk mencapai kemurnian pikiran, sedalam apa penulis menggambarkan tentang bahagia. Walaupun ditulis pendek dan dengan bahasa sederhana, kesimpulan penggambaran ini untuk menangkap daya berpikir penulis saat menuliskan ini, sejauh mana pikiran-pikiran ini mampu mempersepsikan apa itu bahagia dan makna bahagia, sejauh mana pikiran apa adanya ini mampu menjangkaunya.

 

Dalam persoalan kemampuan, yang pintar akan semakin merasa tidak bahagia karena banyak yang diketahuinya, dan pada akhirnya dia akan berpikir untuk tidak tahu. Sementara yang awam pun demikian, mereka berpikir menjadi pintar karena dalam mindset-nya beranggapan lebih banyak tahu akan semakin mempermudah dan membawa kebahagiaan.

 

Titik temu adanya "bahagia" adalah tahu tentang munculnya "bahagia" itu sendiri, dari mana datangnya pikiran-pikiran tersebut. Kenapa kalimat itu harus tertulis dalam bingkai jurnal harian dan bingkai maya seperti dalam status-status online? Tulisan dibuat sebagai sesi jeda waktu penulis ketika hari ini menjumpai ada yang beranggapan tentang kalimat dan ungkapan kebahagiaan. Penulis lanjutkan dengan mencari kenapa harus muncul dalam benak kita, apa dan kenapa harus ada bahagia?

 

Penulis berpendapat, manusia tidak akan pernah menemukan tempat dan waktu yang pas untuk mengukur atau menakar suatu kebahagiaan karena sudah fitrahnya untuk berasumsi dan berpandangan tentang kebahagiaan dalam berbagai kondisi. Maka yang tepat untuk menggeneralisir adalah kita selalu tidak bahagia. Kenapa? Karena dengan mengatakan demikian, sama artinya kita dalam posisi bahagia atau sedang. Apakah tulisan ini diketik dalam posisi sedang bahagia atau tidak, silakan pembaca mengira-ngira.


penulis (18/7/2021)

Tag : ,

- Copyright © salcenter.id - salcente.id - Powered by Blogger - Designed by salcenter -