KEDELAI DAN KELEDAI
By : kontributor
Miris sekali rasanya di negeri yang begitu subur dengan keanekaragaman hasil pangan, lagi-lagi Indonesia harus malu menjadi negara penerima impor kedelai dari negara sekelas Amerika. Ini menjadi ironi di tengah kehidupan rakyat Indonesia yang terkenal sebagai negeri pangan dunia karena program dan keadaan alam yang mendukung, sebagai negeri panggilan penghasil pertanian Asia terbesar.
Dekade era Orde Baru Indonesia dijuluki sebagai negara Macan Asia yang lebih mengarah kepada kebutuhan sandang pangan. Indonesia mampu menjadi swasembada beras, yang meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini menuju puncak kejayaan. Namun, pernahkah kita mengalami kekurangan stok pangan sebanyak saat masa Orde Baru berkuasa?
Indonesia yang kaya akan slogan sebagai negara subur kini menjadi negara ironi di antara yang tak pasti. Ironi sebagai negara makmur yang sering dielu-elukan sebagai negara kaya hasil bumi, namun hasilnya tidak pasti. Kita mengimpor kedelai dari negara superpower seperti Amerika, yang lebih dikenal sebagai negara imperialist dan multiras dalam hal budaya serta negara ekonomi paling maju dalam hal keuangan modern. Namun, semua itu berbalik. Amerika menjadi negara penghasil kedelai yang lebih terkenal daripada kedelai, yang seharusnya merupakan hasil bumi di wilayah tropis seperti Indonesia.
Hanya manusia-manusia bodoh yang mempunyai lahan pertanian yang begitu kaya dan terkenal sebagai negeri sandang pangan, namun tak mampu menjadikan kesempatan dan kebanggaan yang dimiliki untuk benar-benar dibuktikan bahwa apa yang dimiliki cukup untuk menjamin kata tentang ketersediaan dan kesejahteraan bagi pemiliknya dan rakyatnya. Ini menjadi fakta ironi antara kita dan Amerika. Amerika sebagai negara yang terkenal ke arah yang berlawanan, namun ternyata kita (Indonesia) yang terkenal sebagai negara petani, ternyata mengimpor kedelai dari Amerika.
Ketika sebuah negara imperialist seperti Amerika mengalami musim panas, kita menjadi gusar, cemas, dan gelisah karena kita mengandalkan pasokan kedelai dari negara yang bertolak belakang. Kita khawatir ketika pasokan Tempe tersendat karena Amerika sibuk dengan politik perangnya. Apakah kita akan terus mengharapkan pasokan dari Amerika selain persenjataan dan ekonomi?
*Berharap pada Kedelai*
Semoga esok kelak negeri ini tidak sampai parah mengharapkan pasokan yang sudah menjadi hasil dari kedelai tersebut seperti Tempe, Oncom, dan Tahu yang menjadi ciri khas dan urat nadi terakhir masyarakat Indonesia. Semoga pula Kementerian Pertanian, Perdagangan, UKM, dan Bulog serta lembaga lainnya menjadi jembatan bagi petani Indonesia untuk berkembang menjadi lebih baik. Kita berharap pemerintah dapat memberi bantuan kepada para petani kita di masa paceklik kedelai ini agar bisa tetap bertahan. Semoga pula Kementerian dan lembaga tersebut menjadi pembantu ikhlas bagi petani kedelai dan produsen Tempe agar tetap bertahan dalam segala keadaan, terutama di saat kita kekurangan jumlah produksi kedelai sebagai bahan dasar Tempe dan produk sejenis lainnya.
Pemerintah dan birokrasi juga berperan penting dalam nasib para petani. Selain cukong dan tengkulak yang sewenang-wenang menaik-turunkan harga dan memonopoli harga tanpa memperhatikan kebutuhan petani, ada juga pemilik pabrik kecap dan hasil olahan lainnya di luar Tempe. Mereka lebih berorientasi mencari keuntungan dengan memanfaatkan hasil bumi sejenis kedelai untuk hasil olahan sekunder. Bagi kalangan petani dan rakyat kecil lainnya, para cukong, tengkulak, dan antek keuntungan lebih nyaman bertransaksi dengan mereka pemilik pabrik kecap dan hasil olahan lainnya di luar Tempe. Mereka lebih mengkompromikan kelas menengah sebagai penikmat hasil pabrikan, bukan memprioritaskan rakyat penikmat pabrikan kecil seperti Tempe yang menjadi kebutuhan primer bagi rakyat kecil.
Hanya manusia bodoh yang mempermainkan harga kedelai dan mengandalkan kedelai dari Amerika yang bertolak belakang dengan slogannya sebagai negara imperialist. Mari kita berharap agar Indonesia dapat mengakhiri ketergantungan pada impor kedelai dan dapat menjadi negara yang sesungguhnya swasembada.
Tag :
Pemikiran,
ANTARA DILEMA DAN HUJATAN
By : kontributor
Ketika sebagian orang
berkoar tentang HAM dan eksploitasi anak, mari sejenak kita merenungi bahwa
tidak semua orang hidup di atas kemurahan rejeki dari Tuhan dan tidak semua
orang hidup dalam bergelimpangan harta atau paling tidak hidup dengan sebuah
keadaan yang cukup berada, hari ini aku melihat sebuah cerita yang tayang
ditelevisi swasta, aku inisialkan TV tersebut adalah “TT”, pada tayangan yang
tayang hari Senin tanggal 27 Februari 2012 jam 17:30, dan dalam tayangan yang
berlokasi di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, seorang anak bernama “Andri
yang harus bergelut dengan dunia yang tak sepantasnya bagi seorang anak di
bawah usia 20 tahun, katakanlah usia anak itu masih 10 tahun, bagaimana dia
haru bekerja menghidupi seorang ibu dan adiknya, dengan bekerja sebagai tukang
memasak dan sekaligus sebagai pembantu kepada seorang juragan ikan, seorang
anak yang memang sangat jarang bagi seusianya untuk bekerja, memang masih
banyak andri-andri yang lain yang bahkan usia nya lebih muda, bahkan pada
sebuah acara berita di statisun tv swasta lainya yang aku lihat, di sulawesi
seorang anak perempuan yang usianya di bawah 10 tahun harus hidup berdua dengan
ibunya yang sakit-sakitan, miris dan terharu rasanya seorang anak perempuan
harus hidup dalam kepayahan dimana sang ibu sakit dan dia tanpa henti melayani
ibunya yang kesakitan, sang anak perempuan itu memasakan dan memandikan bahkan
menyuapi lebih dari itu dia mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari, bahkan
terkadang berharap belas kasian dari para tetangganya, untunglah jiwa sosial
dari sebagian masyarakat yang berada persis dekat rumah seorang gadis kecil
tersebut masih terpelihara, sungguh ironi rasanya di tengah ramainya
perbincangan nasional dan internasional tentang pelarangan pekerja anak dan
ekspolitasi anak.
Kembali ke bahasan
seorang anak, seorang anak prempuan dari sulawesi ini tidak tahu bahwa usianya
adalah usia bermain dan belajar, yang dia tahu adalah bagaimana sang ibu
tersayang bisa tetap hidup dan berharap adannya kesembuhan walau pada
kenyataanya untuk membawa ibunya kerumah sakitpun tidak ada karena bagi seorang
anak kecil perempuan dari sulawesi itu dengan polosnya berfikir adalah yang
terpenting bagaimana hari ini ibunya bisa makan dan bisa tidur nyenyak dan
tetap tersenyum padanya.
Namun hari ini
penulis ingin menggambarkan kembali
bagaimana seorang anak yang mungkin ada di antara kita harus berkerja demi
menghidupi atau bahkan demi membantu orang tuanya, bahkan dengan kerelaan hati
tanpa permintaan dari orang tua, seorang anak yang lahir dari keluarga yang
serba kekurangan harus bergelut dengan dunia yang cukup ekstrim bagiku, dimana
usia yang seharusnya dinikmati dengan masa sebagai anak-anak harus terlwati
dengan hiruk pikuknya kesibukan berkerja dengan orang-orang dewasa. Hal ini
jelas sangat bertentangan sekali dengan pemaHAMan sebagain orang, yang
mengkapnyekan stop eksploitasi anak dan stop pekerja anak, bahkan di belahan
dunia manapun dan di kota manapun yang menghendaki dan bahkan melarang adanya
pekerja anak di bawah usia yang semestinya,
Iya memang benar,
bahwa seorang anak di bawah usia pekerja sangatlah bertentangan dengan nilai
HAM dan kebebasan seorang anak itu sendiri, dimana seorang anak juga punya hak
untuk bisa merasakan kebebasannya sebagai anak dan menghabiskan waktu untuk
bermain dan belajar serta merasakan bangku sekola layaknya anak-anak yang lain,
stop pekerja anak dan stop ekspoitasi anak yang sedang di germborkan dan
menjadi jargon dalam beberapa media kampanye dengan tema tindak kekersan anak,
tentu hal-hal tersbut sebagai penulis sebenarnya sangat setuju sekali bahwa
dimanapun dan darimanapun seorang anak, bagi penulis adalah masa indah yang
tentu bukan suatu keharusan namun memang sudah menjadi sebuah kewajaran bahwa
seorang anak punya hak untuk mersakan dan menikmati masa indahnya, namun
kembali lagi bahwa tidak semua manusia di dunia ini seberuntung dan sebahagia
bagi orang yang tidak pernah mersakan hidup dalam kesulitan tentu hal di atas
dimana cerita anak harus bekrja tanpa di minta atau bahkan orang tua melarang
anak bekreja namun sang anak bergeming untuk tetap bekerja demi keluarganya,
tidak bisa di terima dan tidak masuk akal, pertanyaanya apakah jika sebuah
kelaurga kecil ada di tengah-tengah kita umpama ada seorang sebuah keluarga
dimna hanya ada seorang anak dan seornag ibu yang sakit, apakah setiap waktu
kepeduliaan dari kita-kita akan ada, kalaupun ada tentu hal ini tidak
sambung-menyambung karena jiwa sosial dalam masyarakat sudah mulai rapuh.
Dan adanya cerita
kepedulian sesorang pada keadaan tertentu, tidak bisa di ukur apalagi keadaan
tersebut berada dalam kultur sosial masyarakat yang cenderung hidup dalam
kehidupan di tengah-tengah masyarakat acuh dan saling sibuk dengan urusaan
masing, alasan lainya adalah jikalaupun ada kepeduliaan di tengah-tengah
masyarakat tentu keadaan sebuah keluarga kecil dan cerita anak menghidupi orang
tuanya sangat jarang tersiar dan terkadang jarak antar kehidup masyarakat yang
berjauhan satu dengan yang lainnya, serta cara bersosialisasi minim antar
masyarakat, sesuatu yang sulit untuk bisa di gambarkan sepenuhnya dan
selengkapnya dalam tulisan ini karena kenyatanya sering di antara kita melihat
berita dan cerita seorang anak hidup dalam keadaan dilema dan hidup dalam dunia
kelam dimana ia harus berjuang di usia yang tidak semestinya dan berjuang demi
sebuah kehidupan sambung menyambung untuk tetap hidup dan bertahan hidup di
tengah-tengah ketidak pastian.
Dilema ini seperti
sebuah cerita yang terkadang bagi sebagian orang sulit untuk diterima, karena
pada kenyataanya yang mereka tahu (bagi orang-orang yang tak pernah merasakan
hidup dalam kekurangan) sulit untuk di terima dan hal tersebut terkesan ironi,
disisi lain ada seorang anak yang bekerja demi membantu orang tua karena alasan
ekonomi dan sisi lain adapula di
sebagian masyarakat, bahwa seorang anak bekerja atas dasar eksploitasi demi
keuntungan terntentu, kedua-duanya memang sungguh tidak bisa di terima, namun
kita cukup sulit untuk mengatakan adanya ekploitasi bagi seorang anak yang
berkerja dengan kerelaan hati dengan niat ingin membantu, namun cukup mudah dan
jelas untuk mengatakan salah besar untuk alasan kedua dimana anak di ekploitasi
demi keuntungan tertentu, walau pada dasarya kedua-duanya tetaplah pada porsi
yang memang benar-benar tidak di benarkan, namun begitulah kenyataanya dimana
semua itu bersumber yang tak jauh dari alasan ekonomi, sesuatu yang sulit untuk
menghindari hal seperti itu jika kita mampu mengatakan untuk hal sederhana ini,
maka jawaban dari segalanya adalah perlu adanya kesejahteraan kepada masyarakat
harus di tingkatkan dan pemerataan ekonomi terhadap rakyat kecil harus
benar-benar di bangun, baik secara makro/mikro, selaian itu jiwa sosialisme
pada masyarakat juga harus di galakan agar rasa kepeduliaan itu tetap ada dan
berkembang, dilema di atas hujatan yang memang tak jauh dari alasan ekonomi,
maka beruntunglah bagi mereka yang tak pernah merasakan hidup seperti
andri-andri lainya dan gadis kecil dari sulawesi, satu hal tentunya janganlah
terlalu mendiskreditkan sebuah keluarga yang dimna kekurangan dalam ekonomi
sebagai alasan menjadi penyebabnya, walaupun semua itu di atas ketidak benaran
karena pengabaian akan hak seorang anak, semua perlu solusi yang baik dan tidak
saling menyalahkan atau menyudutkan, solusi yang tepat dan cepat dari
pemerintah sebagai pengayom dan pelayan masyarkat adalah yang di harapkan
selain itu toleransi sikap peduli sesama antar masyarakat mutlak di perlukan,
harapan lainnya pemerintah lebih peduli akan hal kecil seperti ini agar tidak
terkesan menjadi sebuah isu yang besar ketika media ramai-ramai menggunjingkan
tindak kekerasan terhadap anak-anak. Semoga!!
Tag :
Pemikiran,
REVOLUSI PERBAB
By : kontributor
Setiap kali pemikiran
akan adanya kejenuhan oleh rasa terkekang karena peraturan yang datang dari
pemimpin yang tak berpihak kepada rakyat itu datang, pemikiran sang penulis
yang mencari keadilan selalu akan menggoda tangan untuk menari-menari di atas
putihnya kertas yang akan tergoresi tinta-tinta pengharapan akan hancurnya
sebuah keadaan terkungkung.
Tebal atau tidak,
lembaran buku-buku teriakan dari hati dan pemikiran jernih ini laksana pisau
yang tajam melebihi tajamnya pedang, buku merupakan tempat berlindung dan
tempat mengungkapkan kegelisahan hati seorang penyamun ilham kebebasan dan
tempat curahan akan kegundahan hatinya seorang pionir dan aktifis penulis.
Jika keadaan di
sebuah tempat/negara tidak ada ruang untuk berpendapat dan menggagaskan sebuah
ide pembaharuan, maka buku adalah jawaban sesungguhnya. Dan bila isi, adalah
sebuah kebenaran tentang kebejadan dan
kedengkian sang pemimpin, bukan tidak mungkin “pemberedelan” adalah
jawaban milik sang pemimpin dan “kemenangan berpendapat” adalah jawaban dari
sang pencari keadilan.
Dari Buku Semua Tertawa!!!
Sang pemimpin yang
bangga atas keberhasilannya membukam pendapat yang tertuang dalam buku-buku
tersebut, yang berisi tentang ancaman merasa telah hilang, walaupun sedikit
kecut ia merasakan kekhawatiran di hati kecilnya karena sebagian orang telah
membuka dan membacanya, sementara seorang penulis yang mengharapkan keadilan
merasa lebih tertawa walaupun hanya sebagian orang saja yang membacanya, paling
tidak ada rasa kepuasan karena secercah harapan akan perubahan yang diinginkan
telah tergambar dari orang-orang yang membacanya, dan sang pencari keadilan
lewat tulisan tetap berharap kepada para pembacanya tersadarkan akan keadaan
yang tidak berpihak ini. Karena sang penulis selalu mengharapkan eskalasi dari
buku yang telah tercipta dari tarian tangan dan pemikiranya. Karena sekali saja
orang membaca satu bait sebuah pemikiran tentang keadaan fakta sebenarnya, maka
satu kalimat itu adalah penggugah hati untuk berfikir ulang tentang sebuah
keadaan.
Dari Buku Hilanglah Kekuasaan
Jika dalam satu masa,
sang penguasa adalah penghianat bagi rakyatnya maka perlawanan adalah
jawabanya, tapi bila mana dalam satu masa perlawanan terkungkung oleh tindakan
militeris yang dapat melukai setiap
fisik maka pemikiran yang tertuang dalam buku adalah ruang penyampai dan
jawaban yang utuh,
Penguasa yang lalim
dan haus kekuasaan abadi, akan menggunakan segala cara untuk menghentikan semua
bentuk kritikan terhadap dirinya. Dan rakyat di posisikan sebagai objek
tertentu yang bisa di atur dengan telunjuknya, dan semua penguasa yang otoriter
selalu membuat sebuah alibi yang memposisikan dirinya sebagai civil society,
dan sebagai pemimpin dari sebuah kedamaian, padahal di balik semua itu, ada
nafsu keinginan untuk menundukan berbagai macam penghianatan terhadap dirinya
agar kelanggengan titahnya sebagai penguasa tetap terpelihara dan terjaga.
Mereka pemimpin yang
haus kekuasaan menggunakan sebuah peledoi akan kemunafikan dan kelicikannya dan
menggunakan berbagai macam cara untuk membagun pengaruh sentimenisme masyarakat
dan mengintimidasi, bahkan memutarbalikan
fakta sebenarnya seolah ”penganut impian keadilan terhadap rakyat atau para
penulis pencari keadilan”, dan mereka penganut keadilan terhadap rakyat adalah
seorang yang isi hatinya menangis dan mencurahkannya dalam sebuah buku tentang
ceritanya akan keadaan tidak berpihak ini. Untuk di anggap sebagai musuh yang
nyata.
Kursi kekuasan memang
mahal dan perlu pengorbanan, selain nafsu yang teramat kuat dari pemimpin yang
haus akan kelanggengangannya sebagai raja, mendorongnya mengesampingkan isi
hati nurani dan membuat sebuah opini negatif yang di tunjukan kepada para
aktifis penulis yang mendedikasikan dirinya pembela rakyat di posisikan sebagai
pembangkang dan perusak ketentraman, dan lagi-lagi masyarakat yang takut, di
intervensi untuk ikut andil berifikir bersama-sama melawan segala bentuk
pemberontakan lewat apapun termasuk kritikan lewat buku.
Ketika tiba masa
kehancuran itu, dan ketika para pemimpin licik itu berfoya dengan
kemenangannya, sesungguhnya tercipta gerakan bawah tanah dari orang-orang yang
terpengaruh dan tergugah hatinya karena pesan dari buku yang di berangus
menjadi fase awal terjadinya pembangkangan yang lebih besar. Buku yang berisi
perlawanan terhadap suatu keadaan yang tidak berpihak menjadi sebuah pedoman
dan pembangkit semangat untuk menghacurkan bersama-sama terhadap konstitusi
yang di salah artikan dan di salah gunakan, dengan begitu sesungguhnya keadaan
akan perlawanan semakin terang benderang karena buku adalah pembuka pikiran.
Dan bentuk perjuangan lembut dengan tidak menjadikan fisik sebagai garda
terdepan. Buku selalu menjadi awal bangkitnya rasa nasionalisme dan awal dari
perjuangan penggugah untuk menghacurkan segala bentuk kekuasan yang menindas
dan tak berpihak. Tetapi buku juga sering di salah artikan ketika sang penulis
bukanlah seorang petarung yang melawan ketikdak adilan melainkan seorang
pengecut, yang bersembunyi di balik satu frase kalimat hanya untuk menciptakan
sebuah kekeliruan dari keadaan yang sudah menajdi hal yang wajar menciptakan
keadaan yang tak wajar.
Buku adalah tempat
dimana setiap orang dapat menuangkan sebuah pemikiran dari yang hegemonis sampai
majemuk, dari yang absoluties sampai yang demokratis, dari hal yang bersifat
kelembutan sampai hal yang bersifat radikal semua dapat tertuang dan terangkai,
dan isi dari setiap gagasan yang tertulis di buku senantiasa tersimpan dan
abadi melekat sepanjang abad.
Tag :
Pemikiran,
MENGHALAU BADAI
By : kontributor
Waktu terus memanggilku
mengoyak lidah liar menyapamu
meruang coba singgah di pelataran rumahmu
dan ku jatuhkan benih ikrar pengharapanku
Sudikah pintu hatimu ku buka
untuk aku tata berhiaskan kata cinta
sembari melempar badan gairah yang tanpak nyata
dan menghalau api kebimbanganmu yang ada
Menghitung waktu dikening jawahmu
seperti telah ku rasakan engkau begitu ragu
coba ku usir asa gelisah disetiap sudut pandangamu
agar kau tahu bahwa aku tak "begitu"
mengoyak lidah liar menyapamu
meruang coba singgah di pelataran rumahmu
dan ku jatuhkan benih ikrar pengharapanku
Sudikah pintu hatimu ku buka
untuk aku tata berhiaskan kata cinta
sembari melempar badan gairah yang tanpak nyata
dan menghalau api kebimbanganmu yang ada
Menghitung waktu dikening jawahmu
seperti telah ku rasakan engkau begitu ragu
coba ku usir asa gelisah disetiap sudut pandangamu
agar kau tahu bahwa aku tak "begitu"
Tag :
Ungkapan,
TAKDIR BERPISAH
By : kontributor
Di kesepian malam
aku terlelap dalam buaian mimpi
seperti telah aku dengar engkau telah meninggalkanku
yang masih jauh dalam perjalanan roda waktu
Aku datangi engkau telah tertidur kaku
dan ku pijakan kaki di tanah
yang menjadi tempat terkahir kalinya
engkau merebahkan tubuhmu
Lebih dari 5 Jam berlalu
Aku buka kain kapan yang menutupi wajahmu
dan aku peluk erat tubuhmu
dengan tinggalkan kecupan indah
yang terakhir di keningmu waktu itu
seperti secuil takdir waktu
yang tersisa untuk bertemu denganmu
Sekarang 5 Jam kedepan
Sepatah kata ada yang telah memanggilku
dengan langkah berat ku coba naik di atas parit tanahmu
coba tengadah kelangir biru
akankah aku berjumpa denganmu kelak di sana
di surganya yang Esa
Kini
Aku pasarahkan ketika ragamu
telah tertimbun tanah di akhir waktu
sementara air mataku tak hentinya
terisak-isak menangisi kepergianmu
aku jatuh terkulai, dekat batu nisanmu yang membisu
dan mensesali apa yang tak pernah ku perbuat untukmu
Coba ku peluk gundukan tanah
yang seperti bukit itu
lalu tersirat ingin rasanya aku menyusulmu
bertemu denganmu kembali
menggemgam jari-jemari halusnya tanganmu
agar tak lepas dari jangkauan mataku
sambil ku bisikan kata syahdu layaknya lagu
bahwa "aku rindu dekat denganmu"
aku terlelap dalam buaian mimpi
seperti telah aku dengar engkau telah meninggalkanku
yang masih jauh dalam perjalanan roda waktu
Aku datangi engkau telah tertidur kaku
dan ku pijakan kaki di tanah
yang menjadi tempat terkahir kalinya
engkau merebahkan tubuhmu
Lebih dari 5 Jam berlalu
Aku buka kain kapan yang menutupi wajahmu
dan aku peluk erat tubuhmu
dengan tinggalkan kecupan indah
yang terakhir di keningmu waktu itu
seperti secuil takdir waktu
yang tersisa untuk bertemu denganmu
Sekarang 5 Jam kedepan
Sepatah kata ada yang telah memanggilku
dengan langkah berat ku coba naik di atas parit tanahmu
coba tengadah kelangir biru
akankah aku berjumpa denganmu kelak di sana
di surganya yang Esa
Kini
Aku pasarahkan ketika ragamu
telah tertimbun tanah di akhir waktu
sementara air mataku tak hentinya
terisak-isak menangisi kepergianmu
aku jatuh terkulai, dekat batu nisanmu yang membisu
dan mensesali apa yang tak pernah ku perbuat untukmu
Coba ku peluk gundukan tanah
yang seperti bukit itu
lalu tersirat ingin rasanya aku menyusulmu
bertemu denganmu kembali
menggemgam jari-jemari halusnya tanganmu
agar tak lepas dari jangkauan mataku
sambil ku bisikan kata syahdu layaknya lagu
bahwa "aku rindu dekat denganmu"
Tag :
Ungkapan,
AKU RELA
By : kontributor
Jiwaku terurai merajut asa
di penantian yang kelam nan lampau
daki-daki telah terkelupas dari pemukaan kulitku
mengharap engkau tuk singgah dan menemaniku
Diam-diam air mataku menetes
bagai embun yang menyinari rerumputan
ilalang yang kering meliuk-liuk
seolah menyambut haru atas perginya dirimu dari hidupku
Usah kau bimbang melihat diriku terpampang
dikabut badai hitammu
pergilah dengan hatimu yang diiringi ketulusan
biarlah diri ini merana da mati sia-sia
karena mengharap satu hal cerita cinta menjadi nyata
di penantian yang kelam nan lampau
daki-daki telah terkelupas dari pemukaan kulitku
mengharap engkau tuk singgah dan menemaniku
Diam-diam air mataku menetes
bagai embun yang menyinari rerumputan
ilalang yang kering meliuk-liuk
seolah menyambut haru atas perginya dirimu dari hidupku
Usah kau bimbang melihat diriku terpampang
dikabut badai hitammu
pergilah dengan hatimu yang diiringi ketulusan
biarlah diri ini merana da mati sia-sia
karena mengharap satu hal cerita cinta menjadi nyata
Tag :
Ungkapan,
TAKJUB
By : kontributor
Seperti kemilau rona wajahmu
yang membawa seribu biduk asa
perumpamaan
didalam pengejaan kata aku ungkapkan
dan didalam benak yang aku pikirkan
bagiku tetaplah kamu yang berbeda
karena disetiap pandangan ada sejuta
untaian kalimat
yang menjadi hiasan
Setelah sekian sejarah yang pernah aku singgahi
akhirnya dirimu menjadi penguasa alam
mimpiku
hingga pada detik inipun kamu masih
membelakangi pandanganku
hingga aku tak dapat menerjemahkan
langkah kaki ini
kemana aku akan menyusuri
Atas nama takdir sepertinya kamu telah
menjadi istimewa
hingga Tuhan meniadakan manusia selain
dirimu
untuk hadir di dunia menemaniku
aku tak dapat menebak sepenuhnya siapa
dirimu
tapi bagiku, cukuplah kamu yang memberi rasa
dari setiap pandangan mata menjadi cerita bahagia
Tag :
Ungkapan,
TABU
By : kontributor
Hai sejoli
yang memupuk hati
dimana kasih di agungkan
dimana jiwa saling sanjung
Kalian memang sedang memadu
merangkai tali-temali merajut hidup
yang suci di bawah sumpah kaliah memapah
Wahai sejoli
ukirkan nama kalian di antara hiasan permata harapan
untuk mengiringi kisah yang memang akan kalian dapatkan
ambil dan pahatkan karna mungkin kalian tak akan lama untuk
dapat kesempatan
Hidup hanya untaian waktu
yang akan berakhir tanpa kalian tahu
bermesraanlah selagi lakian bisa karna cinta
datang tanpa di duga
nikmati masa ini tapi jangankan alpakan dosa
karena disana neraka setia menanti
untuk menunggu setiap waktu
yang memupuk hati
dimana kasih di agungkan
dimana jiwa saling sanjung
Kalian memang sedang memadu
merangkai tali-temali merajut hidup
yang suci di bawah sumpah kaliah memapah
Wahai sejoli
ukirkan nama kalian di antara hiasan permata harapan
untuk mengiringi kisah yang memang akan kalian dapatkan
ambil dan pahatkan karna mungkin kalian tak akan lama untuk
dapat kesempatan
Hidup hanya untaian waktu
yang akan berakhir tanpa kalian tahu
bermesraanlah selagi lakian bisa karna cinta
datang tanpa di duga
nikmati masa ini tapi jangankan alpakan dosa
karena disana neraka setia menanti
untuk menunggu setiap waktu
Tag :
Ungkapan,
HUKUM RIMBA
By : kontributor
membawa pesan tentang mereka yang menjadi abdi
pada negeri yang penuh sampah manusia celaka
Mari bercerita tentang jeda
Hukum Rimba
Sebutir peluru berdesing
menjadi penanda bagi mereka yang berkuasa
agar sang jelata tahu
ini era, eranya rimba
Di bawah kaki para penjilat tahta
di antara tahta ada wanita
dan sang durjana ada di antara ke dua-duanya
Tag :
Ungkapan,







